PARTITION//CHANBAEK FANFIC [CHAP 3A]

partition poster

 

 

Partition [Flashback]

Author: Telor/EggCheese/Tale1004 *serah anda manggil saya apa :3 da aku mah apa atuh/?

Genre: School life, family, romance

Rating : PG aja dah

Main Cast : Byun Baek Hyun, Park Chan Yeol, Oh Se Hun. *yang lainnya temukan sendiri*

Disclaimer: F-F   I-N-I   P-U-N-Y-A   S-A-Y-A!   J-A-N-G-A-N   N-G-A-K-U-N-G-A-K-U!! CAST PUNYA SIAPA AJA DAH!

 

–          “kertas?”

 

=================================================================================

TAP TAP TAP

 

Lu Han mengangkat kepalanya ketika seorang anak – tidak tapi seorang lelaki berlari tergesa di depannya yang kini duduk di halte bis. Ia sedikit condongkan tubuhnya dan menatap punggung lelaki yang mungkin lebih muda darinya menghilang di belokan gang.

 

”Ya!!! Park Se Hun! Kemari!!”

 

Lu Han tersentak, ia tolehkan kepalanya ke lain sisi. Seorang lelaki yang lebih tinggi dari lelaki tadi berlari melewati halte tempat dia duduk.

 

“aish.. kemana anak itu pergi?”

 

Lu Han kembali melakukan hal yang sama seperti tadi – mencondongkan tubuhnya yang kali ini menampilkan lelaki itu tengah memegangi lututnya dan mengatur nafasnya. Kali ini lelaki itu berdiri tegak dan mengacak-ngacak rambutnya.

 

Lu Han segera memalingkan arah pandangnya ke arah lain ketika lelaki itu berbalik dan kini duduk di sampingnya. ia menunduk dalam, sedikit-sedikit melirik lelaki yang memakai tuksedo hitam dengan kemeja merah muda dan dasi putih yang ia kenakan.

 

Ada acara apa mereka mengenakan pakaian seperti itu?. Lu Han bertanya-tanya. Masih ingat betul bagaimana lelaki pertama mengenakan baju putih bak bangsawan dengan mahkota yang mungkin di buat dari kertas warna.

 

Mata Lu Han mengerjap. Telinganya jelas mendengar suara isak tangis. Ia putar sedikit kepala ke samping, lelaki muda nan tinggi itu menangis.

 

Kenapa?

 

“k-kau kenapa?” Lu Han menjeda sekadar membasahi tenggorokannya yang terasa kering. “kau pasti siswa sekolah menengah pertama yang di sana kan?” tunjuk Luhan pada sekolah yang sepertinya ramai sekali.

 

Lelaki itu meremas celana bagian pahanya, dan terisak pelan. “ne hyung

 

Yang diberi respons tersenyum tipis. “kau baru saja lulus kan?”

 

Sekali lagi, lelaki itu mengangguk.

 

“lalu, kenapa menangis?” Lu Han penasaran. Ia menggeser sedikit posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan lelaki yang menurut Lu Han tampan itu. dikeluarkannya ipod dan dipasangkannya headphone lucu ke kepala lelaki itu.

 

Lelaki itu berhenti menangis, dan Lu Han tersenyum kala itu.

 

“gomawo hyung

 

Lu Han mengusap punggung lelaki itu. “sama-sama” ucapnya diselingi senyuman hangat yang biasa Lu Han berikan pada orang-orang terdekatnya.

 

Suasana saat itu begitu sepi sampai ketika suara bus menjadi penengah dalam keheningan mereka. Lu Han melihat ke samping, dimana lelaki itu duduk dengan memejamkan matanya – masih dengan headphone miliknya.

 

Ia hendak mengambil headphone itu, tapi tidak jadi. Biarlah ia masih mempunyai banyak di rumah. Ia tatap lamat-lamat pintu bus yang terbuka lebar, dan mulai melangkahkan kakinya.

 

Belum sampai kaki Lu Han masuk sepenuhnya ke dalam bus, kembali ia dengar suara berat dari arah belakang. “hyung tunggu!”

 

Lu Han menoleh dan tersenyum seperti tadi. “ya? ada apa?”

 

Grebb

 

“aku ikut bersamamu ya hyung. Memakai bus yang sama” lelaki itu tersenyum lebar dan menggenggam tangan Lu Han ke dalam Bus bersamanya.

 

“duduk di sini hyung” kata lelaki itu dan mendorong Lu Han ke salah kursi dekat jendela, sementara dia sendiri duduk di samping Lu Han.

 

Lu Han memandang keluar jendela, melihat halte tempat mereka bertemu beberapa detik yang lalu, dan memejamkan matanya sejenak. Lelah rasanya tadi dia harus bolak-balik ke universitas yang akan ia masuki karena lupa membawa surat-surat.

 

“namaku Park Chan Yeol”

 

Mendengar suara berat dan mungkin sudah tak asing lagi, Lu Han menoleh dan langsung bertatapan dengan mata bulat Chan Yeol yang ramah. Sejak pertemuan mereka tadi, mereka sama sekali belum sempat berkenalan. “Xi Lu Han”

 

“kau orang China hyung?

 

“ayahku orang China” jawab Lu Han singkat. Detik berikutnya mata Lu Han terpaku pada sesuatu yang berada di leher Chan Yeol, headphone miliknya mengalung di sana.

 

Karena Lu Han tetap bergeming, Chan Yeol mengikuti arah pandang Lu Han menuju lehernya dan meraih tangan namja cantik itu kemudian menyerahkan headphone di lehernya. “maaf aku baru menyadari kalau sedari tadi aku membawa headphone ini tanpa mengembalikannya padamu hyung”

 

tidak apa” kata Lu Han sambil memasukkan headphone ke dalam tas abu miliknya.

 

Bus sudah berjalan hingga membuat Lu Han tak bisa mengalihkan pandangannya dari jendela. Pemandangan malam di tengah kota memang enak dilihat.

 

“kau mahasiswa Seoul National University hyung?” tanya Chan Yeol yang melihat map yang dari tadi Lu Han bawa.

 

Lu Han tersenyum dan mengibaskan tangannya. “aku calon mahasiswa di sana”

 

“benarkah? Universitas itu begitu dekat dengan Seoul high school. Aku akan sekolah di sana, jadi kita bisa sering bertemu hyung

 

“menurutku kau terlalu tinggi kalau disebut anak yang baru saja lulus dari sekolah menengah pertama” canda Lu Han.

 

Chan Yeol menyipitkan mata menatap Lu Han, seulas senyum kecil tersungging di bibirnya. “mungkin hyung saja yang terlalu pendek”

 

Lu Han membulatkan matanya dengan balasan Chan Yeol. Detik berikutnya mereka tertawa, sedikit keras. Tapi tak apa, bus itu sepi, kecuali supir di depan.

 

Ini baru pertemuan pertama, dan mereka sudah sangat dekat sekali seperti teman lama apalagi dengan ledekan kecil tadi. Jujur, Lu Han senang.

 

***

 

Chan Yeol pergi ke sekolah sangat pagi saat itu. maklum ini adalah hari pertama ia masuk tahun ajaran pertama di seoul high school. Ia berpamitan pada appanya, tapi ketika ia melirik kursi belakang hendak pamit pada adiknya, lelaki yang lebih muda darinya itu terus memandang ke depan, menghiraukan Chan Yeol.

 

Chan Yeol mengikuti arah pandang Se Hun. Tertuju pada mobil mewah warna putih yang terparkir tepat di depan mobil appa Chan Yeol.

 

“eomma?” panggil Chan Yeol pelan dan itu terdengar oleh Se Hun, lelaki itu buru-buru memalingkan wajah ke samping tak ingin melihat ibunya.

 

Berkaca-kacalah saat itu juga mata Chan Yeol ketika ia melihat ibunya berpelukan dengan seorang anak yang lebih tinggi darinya itu.

 

Anak itu beruntung bisa diantar eommanya ke sekolah…

 

“sudah-sudah, Chan Yeol-ah cepatlah nanti kau terlambat” interupsi Park Ki Bum – sang ayah.

 

lelehan air mata yang hendak turun dan secepat kilat masuk ke sekolahnya yang baru, tak lupa ia dorong sedikit bahu anak tinggi itu dari belakang.

 

Dan ibu Chan Yeol melihat itu…

 

“Hey anak muda! Berani sekali kau__” pekik ibu Chan Yeol tertahan, karena pada nyatanya Chan Yeol berbalik badan dan menatap mata ibunya langsung.

 

Ia membungkuk dalam. “maaf……. _ ahjumma” dan kembali berlari ke sekolah melewati gerbang yang tinggal setengah lagi terbuka.

 

Im Yoon Ah memperhatikan pergerakan Chan Yeol, hingga sampai anak tirinya – Kris pergi ia tak menyadarinya.

 

“kau sudah besar Chan Yeol-ah”

 

***

 

“maaf bu, saya terlambat” Chan Yeol yang hendak mengeluarkan peralatan belajarnya ditahan ketika ia melihat makhluk mungil di ambang pintu yang membungkuk pada guru yang mengajar pagi itu.

 

Guru itu menarik nafas dalam-dalam. “siapa namamu?”

 

Lelaki mungil itu menggigit bibirnya pelan dan memainkan ujung jas sekolahnya. “Byun Baek Hyun”

 

Ia tersenyum melihat gelagat polos namja cantik itu, tapi ketika kejadian tadi pagi membuat bibirnya kembali menekuk. Ia…. marah.

 

“untuk kali ini, aku masih bisa memaafkanmu, tapi jangan harap untuk besok-besok” peringat guru wanita yang sepertinya memiliki sifat keras dalam mendidik.

 

Baek Hyun mengangguk mantap. “aku tidak akan mengulanginya lagi, bu. Kamsahamnida” ucapnya kembali membungkuk hormat.

 

“sudahlah, sekarang kau duduk di dekat siswa itu” tunjuk sang guru pada lelaki dengan mata yang tidak fokus ke depan. “di dekat… PARK CHAN YEOL”

 

Panggilan keras itu sukses menyadarkan Chan Yeol kembali dan menggaruk tengkuknya. “ah maaf, bu. Aku sedang tidak enak badan sedikit” bohongnya.

 

Guru itu menghela nafas lemah setelah Baek Hyun duduk di samping Chan Yeol. Sungguh sial ia pagi ini karena dihadapkan pada dua siswa yang tidak disiplin dalam aturannya.

 

***

 

Chan Yeol memasukkan satu gigitan kecil roti ke mulutnya.

 

Jujur, itu roti yang tidak enak yang pernah Chan Yeol makan. “appa terlalu banyak mengoleskan selainya”

 

Ia memainkan lidahnya ketika merasa ada selai yang terjepit di celah giginya.

 

Chan Yeol merindukan masakan ibunya yang sangat enak. Ia menengadah menatap langit. Matahari terlihat mulai naik ke atas. Ini memang masih jam pelajaran, dan ia berada di luar kelas dengan menyantap bekal dari rumahnya.

 

Padahal ia baru dua hari sekolah di sini, dan sudah berbuat kesalahan. Tadi perutnya benar-benar sakit karena belum sempat makan di rumah dan ia mengambil bekal kemudian ijin keluar.

 

Tentang anak lelaki tadi..

 

Chan Yeol mengenalnya. Lelaki itu pernah Chan Yeol lihat di bangku sekolah menengah pertama. Bukan teman, hanya sebatas kenalan saja mereka bahkan beda kelas dulu. Memperebutkan posisi kapten basket di sekolah dan sekarang…. berebut kasih ibu.

 

“kau dari kelas favorite ya?”

 

Chan Yeol memasukkan rotinya ke dalam wadah kecil dan sedikit transparan – kemudian mengelap sisa selai di sekitar bibirnya.

 

“iya” jawab Chan Yeol pendek.

 

Tiga lelaki itu saling berpandangan heran. Sebenarnya ini salah satu hal yang aneh, bagaimana mungkin murid kelas favorite keluar kelas saat jam pelajaran belum berakhir.

 

yang memiliki kulit paling cokelat di antara ketiganya maju mendekati Chan Yeol. “kau..” dia tatap Chan Yeol lamat-lamat. “anak bandel ya?”

 

Chan Yeol menggeleng cepat, masih tidak mengeluarkan suara. Lelaki berkulit gelap itu mengerjap satu kali dan menoleh ke belakang – pada ke dua temannya.

 

Lelaki bermata bulat maju dan menjabat tangan Chan Yeol kilat. “namaku Do Kyung Soo. Kau?”

 

Chan Yeol membenarkan seragam sekolah – yang memang beda dengan kelas biasa – dan memperlihatkan name tagnya pada Kyung Soo.

 

“Park… Chan.. Yeol..” eja Kyung Soo polos.

 

Chan Yeol mengerutkan dahinya samar. Ia bereskan semua peralatan makannya. “maaf aku harus pergi. Sampai jumpa” katanya. Lalu matanya memandang melewati bahu lelaki satunya lagi yang belum sempat berkenalan dengannya. Itu Baek Hyun, kenapa ia pergi ke ruang kesehatan?

 

“tunggu, aku belum memperkenalkan diri” seru seorang lelaki dari tiga lelaki di depan Chan Yeol. Lelaki itu maju dan mulai mengulurkan tangannya. “namaku…”

 

Beberapa saat keadaan hening, mereka berempat tak berbicara sepatah kata pun. Sampai ketika Chan Yeol kembali berbicara. “kau lupa namamu sendiri?”

 

Lelaki itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.

 

Lelaki bernama Kai berdecak dan mewakilkan “namanya Zhang Yi Xing, di sini kami biasa memanggilnya Lay”

 

“baiklah. Tapi ngomong-ngomong apakah kita akan berteman atau..”

 

“ah maksudmu, kau mengajak kita bertiga untuk berteman denganmu? Tentu saja. Kau tahu, kita ini orangnya terkenal, kalau kau gabung kita akan semakin terkenal. Kau memiliki paras yang lumayan tampan menurutku” Kai terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada bergurau. “kau mau kan menjadi bintang di sekolah ini”

 

Chan Yeol tersenyum. “mungkin”

 

Chan Yeol dari kecil menyukai penampilannya yang bergaya. Tidak hanya bermodal tubuhnya yang tinggi seperti model, tapi berbagai pakaian dan pernak-pernik yang ia miliki benar-benar bermerek.

 

***

 

Benar perkataan Kai dulu.

 

Dua bulan setelahnya Chan Yeol benar-benar famous di sekolahnya. Banyak kakak kelasnya yang menjadi penggemarnya. Tak jarang Chan Yeol diperlakukan seperti raja di kelasnya.

 

Hampir setiap hari datang ke sekolah ia menghela nafas setelah bertemu dengan kursinya. Bermacam-macam bunga semuanya ada di meja yang menempel dengan kursi tempatnya duduk. Bahkan tak sedikit bunga di simpan di kursi karena meja terlalu kekecilan.

 

“untuk mu” kata Chan Yeol dan mengambil alih semua bunga ke meja Baek Hyun – yang memang paling dekat dengannya.

 

Baek Hyun mengerutkan kening. Perutnya yang sakit – karena belum sempat makan dari rumah – terlupakan sudah. Ia sibuk berpikir. “kenapa dia memberikannya padaku?” gumamnya pada diri sendiri. “kenapa tidak kau berikan pada orang lain saja?”

 

“kalau kau tidak mau, aku bisa membuangnya”

 

Nada datar yang selalu Chan Yeol berikan setiap mengobrol dengan orang lain. Baek Hyun tidak tahu pasti, kenapa teman di sampingnya itu jarang sekali mengeluarkan suara.

 

Chan Yeol memandang keluar jendela. Ia sedikit menengadah, tepatnya pada jendela dengan tirai terbuka – membiarkan cahaya masuk dan membiaskan kulit putih lelaki yang tengah Chan Yeol perhatikan.

 

Luhan – kebetulan sekali meja luhan dekat dengan jendela, dan jendela itu selalu tidak tertutup tirai. Dan yang lebih kebetulan, universitas Luhan dekat sekali dengan sekolah Chan Yeol, hanya terpisah oleh satu gedung pendek.

 

Namja cantik itu begitu konsentrasi ke depan, dan tak melihat Chan Yeol di jendela bawah berseberangan. Chan Yeol keluarkan ponsel touchscreen miliknya dan mulai mengetikkan pesan pendek pada Lu Han.

 

Jangan lupa besok ulang tahunku hyung!

 

***

 

Drrtt.. drrtt..

 

“astaga” kaget Lu Han sedikit keras hingga menghancurkan konsentrasi teman di sampingnya. “maaf..” ucapnya.

 

bahu Lu Han kembali merosot ketika teman di sampingnya kembali berkonsentrasi ke depan. Bukan apa-apa, tubuh teman di sampingnya begitu besar, sangat jauh dengan tubuh kecilnya.

 

Matilah dia jika harus berurusan dengan orang di sampingnya…

 

Jangan lupa besok ulang tahunku hyung!

 

Luhan membasahi bibir bawahnya. Memikirkan apa yang Chan Yeol suka untuk ia berikan pada lelaki itu besok – saat ulang tahun.

 

“kupon keinginan?” gumamnya pada diri sendiri sambil memainkan bolpoin hitamnya. Luhan berpikir sejenak, lalu mengangkat bahu. “tidak ada salahnya di coba”

 

Lu Han memasukkan sebelah tangan ke dalam tasnya dan meraba-raba mencari kertas yang selalu ia sebut sebagai kupon keinginan. Bentuknya sederhana, hanya selembar kertas kecil kosong tanpa tulisan dan sedikit bergambar di setiap sisinya.

 

Kado yang sering ia berikan pada adiknya ketika bingung kado apa yang harus ia berikan. Kali ini ia memberikan Chan Yeol 3 lembar kupon, dua kupon ia tulis sendiri apa yang akan ia lakukan bersama Chan Yeol. Untuk yang terakhir, biarlah Chan Yeol sendiri yang meminta apa yang ia inginkan.

 

Seulas senyum mulai tersungging di sudut bibir Lu Han. “untuk kupon ke satu dan ke dua aku akan mentraktir Chan Yeol makan dan…” ia memainkan dagunya. “pergi menonton bersamanya”

 

Ia mulai menulis hal yang baru saja ia katakan dalam dua lembar kupon itu. satu lagi kupon yang tersisa..

 

Siapa tahu saja Chan Yeol ingin menginginkan hal yang lain, dan tidak suka dengan dua hadiahnya.

 

***

 

“ekhem” deheman keras itu sukses membuat Kai dan Kyung Soo tersentak dan membenarkan posisi duduk mereka.

 

Kyung Soo merapikan seragam dan mengancing dua kancing atas yang terbuka. tak perlu ditanya, Chan Yeol tahu sekali apa yang Kai dan Kyung Soo lakukan di gudang dekat atap yang menjadi tempat mereka berempat kumpul.

 

“kau mengganggu kami saja” gerutu Kai dengan membasahi kedua bibirnya dimana ia dan Kyung Soo berciuman beberapa detik yang lalu.

 

Chan Yeol mengulum senyumnya dan duduk menyandar di dinding, ia lipat kedua tangannya dan berpikir. “apa yang akan Luhan hyung berikan padaku?”

 

Kai dan Kyung Soo bertatapan kemudian beralih pandangan pada Chan Yeol.

 

“kau ulang tahun hari ini Park Chan Yeol?” tanya Kai dan merangkul Kyung Soo mesra. “wah~ kami tidak tahu. Selamat ya..”

 

Kyung Soo juga ikut tersenyum, dan memandang Chan Yeol. “benar, selamat ulang tahun ya. mulai sekarang kami akan ingat ulang tahunmu”

 

Chan Yeol menghela nafas dalam-dalam. “ya ya.. terima kasih” balasnya lesu.

 

Braakk

 

“PARK CHANYEOL!!!”

 

Ketiga mata itu menatap Lay yang baru saja datang dengan berteriak-teriak memanggil nama Chan Yeol. Lelaki yang dipanggil berdiri tegak dan melangkah maju mendekati Lay yang menunduk dan mengatur nafasnya.

 

“ada apa?”

 

“Kepala Sekolah memanggilmu tadi..”

 

“kenapa dia memanggilku?”

 

“katanya, di antara kau dan Byun Baek Hyun akan di seleksi untuk ikut lomba”

 

Chan Yeol berdecak dan maju ke seberang ruangan. “aku tidak mau, pulang sekolah aku akan menemui Luhan hyung”

 

“oh iya, dari tadi kau menyebut nama Luhan. Dia siapa?” tanya Kyung Soo.

 

Chan Yeol belum menjawab, ia membuka tas gendongnya – karena memang ia sudah pulang sekolah – dan mengambil jaketnya.

 

Ia memakainya kilat. “dia, teman spesialku. Aku pergi teman-teman”

 

“sebentar” kaki Chan Yeol berhenti melangkah dan menoleh ke arah Kai yang baru saja menginterupsi. “kau seperti akan mengajak orang bernama Luhan itu berkencan, benarkah?”

 

Chan Yeol mengangguk. “mungkin”

 

“memakai sepeda?” ragu Kai.

 

“tentu saja. Aku tidak bisa membawa mobil appaku” Chan Yeol tersenyum sebelum ia melesat pergi menuruni anak tangga dengan kaki panjangnya.

 

“apa dia gila mengencani anak orang dengan sepedanya?” terang Kai.

 

Kyung Soo berjalan mendekatinya dan berdiri sejajar dengan Kai. “kurasa tidak.. dia romantis, tidak mengumbar dia orang yang sangat mampu” Kyung Soo menarik nafas. “dia baik”

 

***

 

“maaf aku terlambat hyung” seru Chan Yeol ketika sampai di gerbang kampus Luhan.

 

Luhan tersenyum dan menggeleng cepat. “tidak, aku baru saja keluar. Ada jam tambahan tadi”

 

Chan Yeol memandang melewati bahu Luhan, sekolahan namja cantik yang berada beberapa tahun di atasnya ini sudah sepi. Luhan berbohong..

 

“kau ada apa mengajakku kemari hyung?”

 

“kau turunlah dulu dari sepedamu..” saran Luhan. Lelaki yang lebih tinggi menurut.

 

Luhan menyembunyikan bingkisan kecil di belakang punggung sempitnya.

 

“itu apa?”

 

“hadiah ulang tahunmu”

 

“apa?”

 

“Kau harus menutup mata”

 

Menggelikan memang, ini sungguh seperti anak kecil sementara umur luhan berada di atasnya. Tapi Chan Yeol tetap menurut, karena ia sayang Luhan – itu yang selalu menjadi pendiriannya. Ia melakukan semuanya, karena ia sayang Luhan.

 

“sekarang, kau boleh buka mata”

 

Perlahan namun pasti ia membuka mata, dan langsung dihadapkan pada sebuah kotak berukuran kecil yang di sodorkan Luhan.

 

“kau membuatku penasaran” kata Chan Yeol dan mulai merobek kertas hias yang membungkus ‘kotak penasaran’ nya.

 

Kening Chan Yeol berkerut samar. “kertas?”

 

Luhan membuka mulut hendak membantah, tapi kemudian mengurungkan niat. Kadang-kadang ucapan Chan Yeol tidak enak masuk ke dalam hati, tapi lain halnya dengan sekarang. Kertas? Memang benar kupon ini dari kertas, tapi Chan Yeol mengatakannya seolah tak berarti.

 

“tapi tulisanmu bagus hyung. Sebentar apa ini?” Chan Yeol menarik kertas itu hingga lebih dekat dengan matanya. “mentraktirku makan dan pergi menonton?”

 

Luhan menatapnya dengan heran – kenapa Chan Yeol begitu terkejut – kemudian mengangguk. “ya.. sebut saja itu kupon keinginan, aku akan mengabulkan semua permintaan yang kau tulis di kupon ini” ia ambil kupon terakhir yang masih kosong. “untuk dua kupon itu sebagai hadiah biasa saja”

 

Luhan menggaruk tengkuknya. “tapi kau jangan meminta yang mahal ya” lanjutnya.

 

Chan Yeol mengerjap sekali, mendengar kalimat Luhan yang pertama ia tak mengerti. Tapi ketika Luhan mengatakan kalimat terakhir, ia mengerti! Ia bisa meminta apapun yang ia inginkan dan ia tulis dalam kupon kosong ini.

 

“baiklah, aku setuju”

 

***

 

Chan Yeol tersenyum tanpa sebab, keringat yang begitu jelas menapak di baju seragamnya ia hiraukan. Meski hanya dua tempat yang ia kunjungi tadi sepulang sekolah terasa begitu menyenangkan.

 

Ia bersama Luhan..

 

Chan Yeol yang biasanya jarang kemana-mana pergi berdua bersama Luhan? Jangan lupakan tadi ia membonceng Luhan memakai sepedanya.

 

“aku semakin mengagumimu hyung

 

Chan Yeol menjadikan tangannya sebagai alas kepala dan memperhatikan langit-langit kamarnya. “benar, aku mengagumimu..”

 

“siapa yang kau kagumi?”

 

Tak membutuhkan waktu lebih dari 5 detik untuk Chan Yeol mengubah posisi duduknya menjadi duduk. “appa sudah lama di sana?”

 

Chan Yeol tersenyum malu. “teman..”

 

Ki Bum berjalan menghampiri Chan Yeol dan menepuk pundak anaknya. “teman spesial?”

 

“mungkin”

 

“kau menyukainya?”

 

Chan Yeol diam membatu.

 

“sepertinya anakku menyukai temannya” goda Kibum.

 

“apa rasa membutuhkan seseorang itu perasaan suka? Apa rasa nyaman di dekat seseorang itu suka? Apa rasa membuat diri sendiri menyebalkan agar dia perhatian itu suka?”

 

Kibum mengangguk. “itu rasa suka yang sebenarnya Chan Yeol-ah” ia tersenyum tipis dan mulai berjalan menjauhi Chan Yeol, hingga sampai di ambang pintu, ia berbalik. “tunggu apa lagi? Cepat katakan perasaan itu padanya! Bergeraklah seperti angin, sementara perasaan itu masih hangat”

 

***

 

Drrt.. Drrtt

 

Lu Han baru akan berjalan ke tempat tidur ketika mendengar bunyi ponselnya dari meja tempat ia mencharge ponsel. Ia menoleh, memperhatikan benda segi empat itu menyala terang di kamarnya yang gelap. Matanya menyipit. Jarak tempat ia berdiri dengan ponsel tidak terlalu jauh, jadi ia masih dapat melihat siapa yang menelepon malam seperti ini.

 

Park Chan Yeol.

 

“ada apa?” tanya Lu Han datar, ia sudah ‘kenyang’ mengobrol dan melihat wajah Chan Yeol hari ini, dan lelaki itu sekarang menelepon. Tapi, ia suka.

 

Ia menempelkan ponselnya dan mulai terdengarlah suara bariton milik Chan Yeol. “hyung cepatlah kemari”

 

Lu Han berdecak pelan. “ini sudah malam Park Chan Yeol”

 

“ayolah tolong aku hyung, aku tidak bisa pulang ke rumah”

 

Kali ini Lu Han keheranan dibuatnya. Iya yakin sekali Chan Yeol itu anak dewasa, tingginya saja jauh di atasnya. Chan Yeol itu bukan anak kecil apalagi anak dengan keterbelakangan mental – karena ia tahu sekali Chan Yeol sangat pintar.

 

Ia merasa Chan Yeol tengah mengerjainya.

 

Tapi memikirkan itu sementara ia tengah dilanda kantuk yang luar biasa cukup susah. Ia mengalah saja.

 

“baiklah kau sekarang ada di mana?”

 

“ada di Halte tempat kita pertama bertemu dulu hyung

 

Lu Han lekas mengambil jaket dan mengalukan syal rajutan hangat miliknya dan melesat keluar kamar. Hingga sampai ia tiba di ruang tengah ia menghentikan langkahnya karena sebuah interupsi kecil dari adiknya.

 

hyung kau akan pergi kemana?” tanya Baek Hyun ketika hendak membereskan peralatan belajarnya.

 

Lu Han tertawa garing, menceritakan hal sesungguhnya begitu konyol. Bagaimana mungkin Lu Han akan menjawab jika ia akan menolong anak dewasa yang tersesat. “kau belum tidur Baekkie?”

 

Baek Hyun memeluk tumpukan buku yang baru saja ia pelajari. “akan ada lomba, dan mungkin saja aku terseleksi untuk mewakili sekolah. Kau belum menjawab pertanyaanku hyung

 

Lu Han menghela nafas berat. “aku pergi ke supermarket sebentar, perutku benar-benar lapar” hendak Baek Hyun akan membalas jika persediaan di dalam kulkas masih banyak, Lu Han segera memotongnya. “jangan khawatirkan aku ne” dan kemudian melesat keluar rumah.

 

***

 

Lu Han berhenti melangkahkan kakinya tepat di hadapan lelaki yang memainkan ponselnya. Pemuda tinggi itu mendongakkan kepalanya, menatap Lu Han yang tengah mengatur nafasnya yang tak teratur.

 

“akhirnya kau datang hyung” serunya ceria dengan senyum konyol yang biasa menghiasi wajahnya. Selain pada ayah, adik dan ketiga rekannya, Chan Yeol terbuka juga pada Lu Han. Bahkan Lu Han yang paling sering mendengar keluhan Chan Yeol selama ini.

 

“ada apa kau memanggilku?” tanya Lu Han to the point. Anak TK pun sudah tahu ini tengah malam dan sudah terlalu larut untuk tidur. Dan seorang Park Chan Yeol, yang menurutnya selalu bersikap seperti anak TK, mengajaknya malam-malam kemari.

 

Chan Yeol mengerjap polos, dan disodorkannya kotak kecil pemberian Lu Han tadi siang.

 

Lu Han kebingungan detik itu juga…

 

“aku menulis permintaanku di kupon terakhir hyung. Semoga kau tidak keberatan mengabulkannya”

 

Lu Han menangkap hal yang janggal dalam ucapan Chan Yeol. “permintaanmu tidak mahal kan? Bukan mobil mewah atau rumah kan?”

 

Yakin tidak yakin dengan jawaban Chan Yeol yang hanya menggelengkan kepalanya, Lu Han tetap membuka kotak kecil itu dengan perlahan. Menampilkan selembar kertas kecil berhias yang sengaja di balik. Ia mengambilnya dan membaca satu persatu tulisan di sana.

 

Aku memintamu menjadi kekasihku hyung, kau mau tidak? Aku tahu ini tidak romantis, kau tolak pun aku tidak apa-apa. Atau mungkin permintaanku terlalu mahal karena melibatkan perasaan? Semoga kau mengerti perasaanku hyung.

 

Lu Han meremas kertas itu cepat. Bahkan tak sanggup ia menoleh ke arah Chan Yeol yang saat itu begitu menanti jawabannya. Ia gugup. Perlahan tapi pasti ia memutar kepalanya ke arah Chan Yeol, bak robot usang yang rusak karena ia terlalu kaku.

 

“Chanyeol…” sebuah bisikan yang teramat pelan.

 

Chan Yeol tersenyum – yang Lu Han yakin terpaksa – dan menatap ke dalam bola mata Lu Han dengan lekat. Penuh ketulusan. “aku tidak apa-apa jika kau menolaknya hyung. Dengan mengatakannya saja sudah membuatku lega”

 

Ia mengerjap, membuat Lu Han merasa sedikit lega karena sudah tidak terkurung lagi dalam jeratan mata Chan Yeol. Lelaki tampan itu mengarahkan pandangannya ke depan, ke jalanan raya yang penuh dengan kendaraan.

 

Lu Han menangkap tatapan sendu dari cara pandang Chan Yeol. Mata bulat nan ceria itu ia rasa akan mengeluarkan kerapuhannya.

 

“ya, aku tidak apa-apa hyung kalau kau sampai__”

 

“aku menerimamu” potong Lu Han cepat.

 

Hening mendominasi beberapa detik, hingga sampai Chan Yeol menoleh ke arah Lu Han. “kau… serius?”

 

Lu Han memainkan ujung kemejanya menatap ke arah lain dan mengangguk malu.

 

Chan Yeol ikut menunduk dan menggaruk tengkuknya kikuk. Cukup lama terkekang dalam kesunyian. Keduanya masih malu untuk mengekspresikan rasa gembiranya.

 

“eumhh… sudah malam hyung” seru Chan Yeol.

 

Lu Han memeluk tubuhnya sendiri, udaranya sangat dingin padahal ia sudah memakai jaket dan syal. “anak kecil juga tahu Chan Yeol”

 

“kau tidak akan dimarahi orang tuamu?”

 

Lu Han bergeming detik itu juga. Sekarang sudah lewat tengah malam, dan tentu saja ibunya sudah ada di rumah sekarang ini. ia akan beralasan apa kalau pergi jam segini? Kecuali kalau dia tidak pulang sampai pagi menjelang.

 

mollayo” pasrah Lu Han.

 

“kau menginap saja di rumahku hyung?”

 

Ajakan itu membuat Lu Han menoleh seketika. Chan Yeol mengajaknya menginap? Bahkan mereka baru saja terikat dalam sebuah hubungan yang di sebut ‘kekasih’. Namun sayang, belum sempat ia mengelak, tangan kekar Chan Yeol telah menarik tangannya lebih dulu. Ia mengalah saja~

 

***

 

Pagi harinya…

 

Lelaki itu melangkah perlahan. Sebelah tangannya menarik koper merah, dan tangan sebelah lagi sibuk menutup mulutnya yang terus menguap. Ia menghembuskan nafas dengan berlebihan dan mengerutkan kening. Ia pikir camping bersama teman-teman satu sekolahnya akan menarik. Nyatanya? Ia bahkan terlalu capek untuk memikirkan hal menarik apa yang ada di sana, karena nyatanya tidak ada.

 

Sehun semakin kesal kalau mengingat apa yang dia alami semalam di tempat camping. Entah malam tadi itu hari sialnya atau bukan. Karena tadi malam banyak sekali siswa yang sakit, dan dia – berhubung siswa yang tidak sakit – harus kerepotan. Padahal jika dipikir kenapa mereka harus ikut jika menyusahkan saja?

 

“aku pulang” serunya pelan, detik berikutnya ia menguap lagi.

 

“wah~ kau baru pulang ternyata. Bagaimana? Menyenangkan?” tanya Chan Yeol yang mulai berjalan dari arah dapur.

 

Se Hun lempar koper merahnya ke sofa dan merenggangkan otot-ototnya. “sayangnya tidak..” ia menggaruk kepalanya dan menguap lagi. “appa kemana?”

 

“kemarin malam dia masih ada, tapi sejak tengah malam tadi saat aku pulang, dia sudah tidak ada di rumah” jawab Chan Yeol.

 

“oh, aku ke kamar dulu hyung, benar-benar pagi yang melelahkan” ucap Se Hun dan mulai berjalan menaiki anak tangga, hingga sampai di tengah perjalanan menaiki tangga, suara berat Chan Yeol menghentikan langkahnya.

 

“kau memang harus istirahat banyak Park Se Hun”

 

“aku tahu” jawabnya lesu, kepalanya manggut-manggut saking mengantuknya.

 

“tapi, kau akan tidur di mana?”

 

“aku masih mempunyai kamar di rumah ini hyung

 

“kau tidak tahu…”

 

“ya ya ya~ aku tahu hyung, aku tidak boleh tidur terlalu siang. Aku mengerti, kau tenang saja”

 

Sang kakak hendak ingin mengelak lagi, namun terlambat. Karena Se Hun sudah mencapai anak tangga teratas dan membuka pintu kamarnya.

 

“astaga, anak itu keras kepala sekali” gerutunya dan kembali ke dapur hendak membuatkan sarapan untuknya dan Xi Lu Han.

 

***

 

Se Hun mengunci rapat kamarnya dan membuka jaket hoodie yang dia pakai ke tempat camping. Kamarnya begitu gelap, mungkin karena gordennya belum di buka.

 

Masih terlalu panas, tubuhnya begitu berkeringat.

 

Ia membuka kaos abu-abunya – menampakkan bagian tubuh bagian atasnya yang putih.

 

“hoaamm, lelahnya”

 

Ia hampiri tempat tidurnya dan duduk di pinggir – tidak menyadari sesuatu yang berselimut di sana – ia membaringkan tubuhnya lelah.

 

“ah”

 

Sebuah rintihan kecil, namun mampu membuat Se Hun melempar tubuhnya hingga menyentuh lantai. Gulungan selimut – yang tadi tak sengaja ia tindih karena tak melihat – bergerak-gerak hingga akhirnya selimut itu terbuka sepenuhnya.

 

Oh dear, seorang malaikat berparas indah…

 

Malaikat – seseorang yang ia anggap malaikat – itu mengucek mata indahnya. Mulut Se Hun tanpa ia sadari terbuka, ia rasa lelaki yang duduk di ranjangnya saat itu adalah malaikat pencabut nyawa yang siap mencabut nyawanya saat itu juga.

 

Sadar sepenuhnya, lelaki itu memperhatikan sekeliling hingga berhenti tempat di manik mata Se Hun dan membulatkan mata indahnya. “yak! Apa yang kau lakukan di sini? Kau siapa???!!!” teriaknya keras.

 

Se Hun masih bergeming dengan fantasinya. Tak pedulikan teriakan ‘sang malaikatnya’ yang salah paham karena ia tak memakai sehelai benang pun pada bagian atas tubuhnya. Ia masih mengagumi keindahan makhluk itu. sebut saja, cinta pada pandangan pertama.

 

“ada apa ini?” tanya Chan Yeol di belakang punggung Se Hun. “Park Se Hun, kau tidak melakukan apa-apa kan pada kekasihku ini?”

 

Hebat ! kalimat terakhir Chan Yeol langsung menyadarkan Se Hun dari fantasinya. Kekasih? Hancur sudah harapannya tentang malaikat itu.

 

“aku tidak melakukan apa-apa hyung” polos Se Hun, samar ia mengerucutkan bibirnya kecewa. “kalian berdua keluarlah aku ingin tidur”

 

Dalam tubuh yang masih muda ini, Sehun telah menemukan orang yang bisa membuatnya tertarik.

 

 

 

 

 

Meski telah dimiliki sang kakak.

 

***

 

“hai Chan Yeol..”

 

“semoga harimu menyenangkan Chan Yeol”

 

“selamat pagi Chan Yeol, eh tapi ini pagi atau siang ya.. aku jadi bingung”

 

“ijin lewat Chan Yeol”

 

“biskuit ini untukmu Chan Yeol, dimakan ya”

 

Kai hanya bisa membulatkan mulutnya menatap satu persatu siswi yang lewat di depan mereka dan menyerukan nama Chan Yeol dari tadi.

 

“apa tidak bisa kalian melihatku ada di sini hah?” gerutu Kai dan menyeruput jus yang hanya tinggal setengahnya lagi. “aish sepertinya sekarang kau yang lebih populer Chan Yeol-ah”

 

“mungkin karena aku tampan” sombong Chan Yeol, membuat Kai bergidik ngeri. Astaga ia benar-benar tidak percaya, Chan Yeol – yang ia temui masih pendiam dulu – bisa se-percaya diri seperti itu.

 

Chan Yeol mengeluarkan i-phone miliknya, menggeser wallpaper dia dan Lu Han hingga menampilkan beranda.

 

“kau yang bayar semuanya ya”

 

Chan Yeol menghentikan jarinya yang menari di layar iphone-nya. Ia menoleh cepat pada lelaki berkulit kecokelatan itu. “membayar semua makanan yang kau makan, Kai?”

 

Kai mengangguk, menghiraukan reaksi Chan Yeol yang keheranan. Tapi dia takut juga kalau Chan Yeol tidak mau membayar. “ayolah Chan Yeol, dompetku ketinggalan di rumah, dan aku lapar sekali”

 

Bagi Chan Yeol membayarkan makanan Kai – yang terhitung banyak – itu hanya hal kecil. Tapi ia hanya ingin sebuah kejujuran dari sahabatnya. “kau tak perlu berbohong, aku akan membayarkannya”

 

“hehehe, aku minta maaf Park Chan Yeol” senyum malu merekah di bibir tebal Kai.

 

BRAAKKK

 

“astaga Kyung Soo, kau kenapa?” kaget Kai begitu melihat kekasihnya menggebrak meja dan mengatur nafasnya.

 

Setelah di rasa tenang, lelaki bermata bulat itu mulai bercerita. “Lay… dia…”

 

“dia kenapa?” potong Chan Yeol yang tidak sabaran dengan kalimat putus-putus Kyung Soo.

 

“dia…”

 

“annyeong !!!” seruan keras yang timbul dari Lay memotong perkataan Kyung Soo yang sudah hampir lancar pengucapannya.

 

“ini dia orang yang dibicarakan datang…” ucap Kai mengibas-ngibaskan topi – yang jelas bukan dari sekolah – dan melirik Kyung Soo yang sekarang mengatur nafasnya.

 

Lay tak berhenti menapakkan senyum di bibirnya, hingga menimbulkan lesung pipi yang memikat. “coba tebak, apa yang membuatku senang?”. Lay mengalihkan pandang pada Kyung Soo yang sepertinya ingin menjawab “kecuali kau Kyung Soo, kau jangan dulu menebak”

 

“oh baiklah..” pasrah namja bermata bulat itu.

 

“kau menang doorprize?” asal Kai yang sepertinya tidak mau tahu. “atau kau baru saja belanja dengan diskon besar-besaran?”

 

“bukaaann. Chan Yeol kau belum menebak, kesempatan Kai sudah habis untuk menjawab” kata Lay.

 

“lagi pula aku tidak peduli” Kai mengibaskan tangannya.

 

Lay memukul kepalanya dan melot. “aku berbicara pada Chan Yeol”

 

Kai menatap teman yang baru saja memukul kepalanya sambil memberengut dan mengusap-usap kepala. “ya aku tahu. Dari tadi juga semua orang hanya memedulikan dia” lirik Kai pada Chan Yeol.

 

Chan Yeol tersenyum tipis. “kau resmi berhubungan ya?”

 

“kau tahu kejadian pernyataan cinta di lapangan sekolah tadi?”

 

“wah! ada yang menyatakan cintanya padamu di lapangan sekolah? Benar-benar nekad” heboh Kai yang sebenarnya tidak dihiraukan oleh siapa pun.

 

“tidak. Hanya saja, seorang Zhang Yi Xing bertingkah aneh pasti ada sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya. Dan aku tahu kau belum pernah berpacaran kan?”

 

“yaa tebakanmu tepat Chan Yeol” kata Lay ringan. “Kris namja yang romantis..”

 

 

 

 

 

 

 

“apa kau bilang???” serempak Kai dan Chan Yeol. Terlebih Chan Yeol yang merasa tak asing dengan nama itu.

 

Nama yang mengambil seluruh perhatian ibunya…

 

“Kris.. kenapa memang?” heran Lay yang bingung akan reaksi Kai dan Chan Yeol yang berlebihan. Apalagi Kai yang sepertinya sengaja dibuat-buat.

 

Chan Yeol mencondongkan kepalanya ke belakang punggung Kai dan mulai membisikkan sesuatu di sana. “apa menurutmu Kris itu orang yang baik..”

 

“aku tidak bisa menjaminnya” balas Kai tak kalah pelan.

 

TBC

Oke, distop dulu ya bacanya :v

Oke sebelumnya maaf ini lanjutannya lamaaaaaa banget ampe lumutan, karena data ini ilang terus bikin lagi. Padahal yg lama udah ampe tamat flashbacknya :3

Dulu ada yang bilang penasaran sama kisah ChanLu kan? Makanya saya kasih nih Flashbacknya. Oke

Jan jadi SIDER yaaa *karena saya yakin, pasti udah jarang readers yang mampir ke sini :3 blognya udah lumutan-_-

Sekian dulu, bubay :*

 

Tambahan : EggCheese sama Tale1004 sama aja. Tale1004 nama instagram saya, follow aja sesuka hati xD

 

Pokoknya sama minta maaf ini ff lumutan bangeeeetttt. Maafkan saya sudah melupakan kaliaaaannnn /.\

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Categories: Angst, AU, ChanBaek, chapter, Family, Friendship, HunHan, Hurt/Comfort, PG-14, Romance | Tags: , , , , , | 16 Comments

Post navigation

16 thoughts on “PARTITION//CHANBAEK FANFIC [CHAP 3A]

  1. Ya ampun thor >.< ff nya daebak bgt sumpah😀
    Jgn lama" lanjutinnya ya thor :3 penasaran ama baekyeol nya nih.. :3 oh iya.. chanyeol itu udh tau blm klo luhan itu kakaknya baekhyun??
    oh iya, satu lagi thor.. kan kta author di disclaimer nya chanyeol buat author, nah baekhyun buat aku ya thor?😀 *dikeroyok massa/?*

  2. Thoooorrrr >w< ff nya daebak bgt sumpah X3 lanjutinnya jgn lama" ya thor.. gw kepo nih thor X3 *tebar cabe/?* thor,,, chanyeol itu udh tau blm klo baekhyun itu adiknya luhan?? #Kepo
    oh iya thor, gw liat di disclaimer ff ini di chap 2 klo ngga salah. kta author chanyeol buat author, nah baekhyun buat gw ya thor? #watados *dikeroyok massa* oke deh thor.. sampe sini aja gw comment ff nya, keknya comment an gw ini kepanjangan deh X3 tp jgn marah ya thor X3 sesungguhnya org yg sabar itu kelak akan bertemu biasnya suatu saat/? #aamiin #abaikan gw terlalu mendramatisir ya? -,- *kunyah cabe*

  3. akhirnya dikeluarin juga ini fanfic yang udh lama aku tunggu,,, sampe-sampe lumutan aku nungguinnya juga,,, ceritanya seru,,,, makin penasaran jangan lupa di lanjut yah,,, ku tunggu loh,,,, cepet-cepet di update… semangat😀

  4. CEAyoong

    Lanjut~ nae pengunjung/? Baru di blog ni :v chapt depan bnyakin moment baekhyun sama kopel2nya/? Yeth?? :v mian chapt sblumnya aku ga ngomen/? >.<

  5. fida

    Authoooorrr lanjutin dong, aku nungguin ff ini😦

  6. ayung

    wah akhirnya terbit jg chap 3…author please chap 4 jangan lama” y….pingin liat chan jatuh cinta ma baek….

  7. cieh plesbek chanlu cieh. cieh aja dulu(?) ah gue garela chanyeol jatuh cinta sama luhan duluan huweee. chanyeol just look at me bby /salah/ maksudnya look at baekhyun. ah semoga aja baekhyun diberi ketegaran untuk bisa lebih mencintai manusia idiot macam park chanyeol ini /apadah/ pokonya BAEKHYUN FIGHTING! AUTHOR KEEP WRITING! CHANYEOL SARANGHAEYO /apa ini/

  8. Pikey💕

    Authoooooooor, ini kenapa seru banget sih ff-nyaaaaa:’) aku udah baca dari dulu nih dan seneng banget akhirnya lanjutannya muncuuuul:D tapi masih penasaran luge kenapa:( lanjtin yaaa thor, fighting!!!!;)

  9. Jung Sara

    whoaaaa ini daebak author!! baru nemu ff ini dan langsung jatuh cinta❤ /apadeh. kayanya ini complicated banget yaa kasian semuanya hahaha:/ pokoknya next chapt update cepet ya thorr fighting:(

  10. Salma Aulia Rahma

    Cepat rilis chapt selanjutnya min*-* suka banget sama ff ini yuhuuu~

  11. KyusaAulia

    Ditunggu segera min buat kelanjutan ff ini, keren banget aku suka ^^

  12. Pikey💕

    Authooooooor, dilanjutin dong, udah penasaran banget sama cerita ini T.T kemaren ini muncul aku langsung baca loh thor…….lanjutannya plissss

  13. Lanjut thorrrr:3

  14. Yah yah yah kok d stop.? Lanjutan ny mana thor? Lgi seru nic, udh mulai terbuka hubungan d antara 1 cast dgn cast lain nya, KrisYeol mksdny. Net chapt jgn lama2 ya

  15. Caca

    Gak sbr bc lanjutan ny nih, jd pensaran🙂

  16. Muthia

    PLEASE TOLONG DI LANJUT JEBAL NEXT CHAPNYA!!!
    Telur saya mohon lanjutkan jebal jebal jebal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: