[FREELANCE] Boy to Girl (?)//Chap 2 (ENDING)

btg2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Title                : Boy to Girl(?) [ending]

Author            : maruchan [ @byunchan92 ]

Genre             : YAOI, Comedy, Romance, terserah pemirsa deh pengennya sih bikin yang manis-manis gula kapas gitu, tapi kayaknya gagal, buahaha xD

Rating             : M~maru belum berani bikin ff se-ekstrim itu, huhuhu >,< jadi T++ aja dulu kali ya *maru nggak penting banget kan ya dari tadi/bow/

Length            : twoshot [ ending ]

Cast                :

–          Park Chanyeol

–          Byun Baekhyun

–          Kris

–          Luhan

–          Suho

–          Kim Minseok

–          Do Kyungsoo

–          and other OC

[ author speech ] “masih sama seperti yang kemarin, hahaha *bercanda^^v

Ehem, jadi gini… maru seneng banget ff yaoi perdana maru bisa dapet respon yang positif dari para reader, maru terharu sekali, hiks *elap ingus pake baju Kai.

Baca comment Boy to Girl(?) seri pertama kemarin maru seneng banget. Ternyata ada yang mau baca ff abal bikinan maru, ada juga yang minta dilanjut, hiks *nangis lagi/peluk Baekhyun/\ditendang Chanyeol\

Wkwkwk, oke deh chingu.. ini maru bawa lanjutan Boy to Girl(?) nya… ini ending kisah BaekYeol lhooo~ nanti kalo ada yang mau sekuel, comment aja di box bawah ya chingu, haha xD

NB. Chapter ini akan saaaangggaaaattt panjaangg, silahkan siapkan bantal, guling, kopi juga boleh. Karena ini akan sangat membosankan T^T hiks hiks, mohon kesabarannya *bow

WARNING !!

Cerita tidak jelas. Boy x Boy. Boys Love. Pembunuhan karakter. Alur maju mundur. Setting tidak jelas. Penyampaian dan penggambaran profesi tidak meyakinkan dan sebagian besar hasil mengarang indah author. Cerita murni dari otak author. Tidak ada unsur plagiat atau mengcopy karya orang lain. Oleh karena itu, dilarang juga mengcopy sebagian atau keseluruhan isi cerita tanpa seijin dari author. Apabila terdapat pelanggaran diatas, maka pelanggar akan dikenakan sanksi sesuai Undang-Undang perfanfiction-an sedunia.

Terima kasih.

Akhir kata . .

Happy Reading o(^~^)o

Boy to Girl(?)

[ dua ]

“Kenapa mukamu menyeramkan sekali, bodoh? Yang ada mereka mengira kau bukan kekasihku tapi seorang teroris.” Gerutu Chanyeol saat melihat ekspresi Baekhyun di sebelahnya.

“Cerewet! Aku melakukan ini bukan karena aku suka. Jadi wajahku tidak bisa berekspresi sesuai yang kau harapkan.” Baekhyun melipat kedua tangannya di depan dada. Dia tatap Chanyeol dengan ekspresi tidak suka.

“Kalian berdua hanya mengulur-ulur waktu. Tinggal lakukan saja sesuai instruksi Fotografer Dong. Tersenyum ke arah kamera, bergandengan tangan, berpelukan, berci­”

“YA! RUSA KECIL KAU MAU MATI?!” teriak Baekhyun menghentikan kalimat keramat yang akan dikeluarkan Luhan. Semua orang yang berada di studio pemotretan Fotografer Dong terlonjak kaget mendengar suara menggelegar Baekhyun.

“Aku benar-benar percaya kali ini kalau kau memang seorang namja.” Chanyeol menatap takjub ke arah Baekhyun. Dia benar-benar tidak habis pikir, tubuh sekecil itu kenapa bisa sampai mengeluarkan suara sekeras itu?

“Kau juga sudah bosan hidup, eoh?” Baekhyun memelototkan matanya yang sekarang terbingkai eyeliner dengan garang ke arah Chanyeol.

“Kalian berdua hentikanlah tingkah kekanakan kalian.” Suho menghela nafas panjang. Pasalnya sudah 2 jam mereka melakukan sesi pemotretan untuk ‘barang bukti’ hubungan Chanyeol dan Baekhyun, tapi tak ada satu foto pun yang bisa memuaskan Suho untuk dia sebarkan ke media. Jika bukan ekspresi saling bermusuhan, mereka akan menampilkan senyum lebar terpaksa seperti iklan pasta gigi. Suho sudah hampir putus asa. Semua persiapan konfrensi pers besok sudah selesai disiapkan. Para media masa sudah mendapat undangan. Bahkan berita tentang Baekhyun dan Chanyeol di hotel tadi pagi sudah tersebar luas di media. Suho benar-benar tidak bisa berpikir lagi. Kenapa keadaannya bisa jadi serumit ini? Walaupun memang pada akhirnya Baekhyun mau membantu Chanyeol. Tapi lihat saja mereka sekarang. Membantu apa? Kalau sedari tadi yang mereka lakukan hanya saling beradu mulut dan berteriak satu sama lain. Baru kali ini Suho merasa terpojok dengan keadaan yang dibuat oleh anak-anak bimbingannya.

“Bersikaplah professional, Chanyeol. Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu. Kau sudah melibatkan begitu banyak orang disini. Jangan hanya bertingkah kekanakan seperti itu dan membuang waktu kami dengan percuma.” Kris masih seperti biasanya. Selalu mengeluarkan kalimat pedas yang sebenarnya justru lebih bisa diterima akal Chanyeol, walaupun harus dengan marah-marah terlebih dahulu. Seperti saat ini.

“Ya! Bukan aku yang merencakan ini semua. Aku tidak mengharapkan sandiwara ini.” Chanyeol berkacak pinggang dan menatap Kris dengan kesal. Semua anggota bandnya hanya bisa menghela nafas dengan suara yang sengaja dibuat sekeras mungkin. Chanyeol memang berbadan tegap dan tinggi. Tapi dia benar-benar tidak bisa membuang tingkah kekanakannya sampai kapan pun.

“Aku mohon, Chanyeol~ah..” suara Suho terdengar sangat lelah. Membuat Chanyeol menatap sosok yang tidak lebih tinggi darinya itu dengan ekspresi terkejut. Ini bukan Suho yang biasanya. Bukan Suho yang tegas dan berwibawa seperti biasanya. Suho yang berdiri di hadapannya saat ini terlihat begitu putus asa. Seperti seorang siswa yang tengah menghadapi Ujian Negara, yang semalaman suntuk sibuk menghapal materi untuk ujiannya esok hari dan begitu lembar soal dibagikan keesokan harinya dia baru sadar bahwa dia mempelajari mata pelajaran yang salah semalaman. Nah seperti itulah kira-kira penjabaran untuk kondisi Suho saat ini. Langit serasa runtuh di atas kepalanya (author mulai lebay *mian -,-)

“Hyung..” Chanyeol tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia sangat merasa bersalah melihat Suho seperti itu. Selama ini hampir semua gossip tidak sedap yang menimpa manajemen tempatnya bernaung selalu datang darinya, Park Chanyeol. Dan selama ini pula Suho selalu berhasil menyelesaikan semua masalah yang ditimbulkan Chanyeol. Suho selalu berhasil mengangkat kembali nama baik Chanyeol. Tidak kah Chanyeol merasa berhutang budi pada namja yang sudah seperti hyungnya sendiri itu? Tidak kah Chanyeol merasa ingin sekali saja membuat hyungnya ini bangga dengan dirinya? Tentu saja Chanyeol ingin. Dan sepertinya sekarang ini lah saatnya dia membuktikan pada Suho dan juga semua rekan bandnya, bahwa dia, Park Chanyeol mampu menjadi sosok yang dibanggakan.

Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Baekhyun yang dari tadi berdiri di sebelahnya, mengenakan wig cokelat gelap sewarna rambut Chanyeol, skinny jins abu-abu dan atasan lengan panjang tebal dari bahan wol berwarna merah muda. Baekhyun yang tidak siap ditatap Chanyeol seserius itu hanya bisa mengusap-usap daun telinganya, kebiasannya saat dia sedang gugup.

“A-apa?” dengan suara yang sedikit tergagap, Baekhyun bertanya pada Chanyeol yang masih saja menatapnya intens.

“Baekhyun-ssi, mari kita bekerja sama. Aku mohon bantuanmu.”  Chanyeol membungkukkan badannya 90 derajat. Membuat semua orang yang berada di studio itu membulatkan mata mereka lebar-lebar, menampakkan ekspresi terkejut yang teramat sangat. Tak terkecuali Baekhyun. Justru dia lah yang paling terkejut melihat perubahan Chanyeol. Apakah studio Fotografer Dong ini berhantu? Sepertinya ada hantu yang tengah merasuki tubuh Park Chanyeol. Seperti itulah kira-kira isi pikiran Baekhyun saat ini.

Tapi begitu Chanyeol menegakkan tubuhnya kembali, Baekhyun benar-benar tertegun. Ekspresi yang ditunjukkan Chanyeol lah tepatnya yang membuat Baekhyun begitu tertegun. Ekspresi serius dan bersungguh-sungguh itu. Tidak ada lagi ekspresi menyebalkan yang mengundang sebuah pukulan diwajah tampan itu. Hal itu membuat Baekhyun menyadari satu hal. Park Chanyeol saat ini sedang merasa sangat menyesal atas masalah yang telah ditimbulkannya. Melihat kesungguhan Chanyeol, hati Baekhyun merasa sedikit terharu. Semenyebalkan apapun namja di hadapannya ini, dia ternyata masih mempunyai sisi bertanggung jawab. Tanpa sadar Baekhyun menyunggingkan senyum manisnya. Luhan lah yang pertama menyadari perubahan ekspresi wajah sahabatnya itu, dia hanya bisa menghela nafas lega, pada akhirnya…

“Baiklah,” Baekhyun mulai angkat suara. Membuat semua orang menatapnya dengan bahagia. “Mari kita bekerja sama, Chanyeol-ssi.” Dan untuk pertama kalinya selama kurun waktu 6 jam mereka bersama, Baekhyun melihat senyum Chanyeol. Tidak salah, dia memang tampan. Baekhyun menyetujui isi pikirannya itu.

Dan seperti ini lah akhirnya, sesi pemotretan pasangan kekasih itu pun berjalan tanpa hambatan. Hanya sesekali Fotografer Dong dibantu Asisten Han dan juga Suho memberikan instruksi gaya-gaya yang harus dilakukan Chanyeol dan Baekhyun. Kedua orang itu terlihat begitu professional di depan lensa kamera. Sisa-sisa pertengkaran dan permusuhan mereka lenyap tak berbekas. Chanyeol dan Baekhyun perlu berganti kostum sebanyak 8 kali. Hal itu untuk menciptakan kesan bahwa seolah-olah foto-foto mereka diambil di waktu yang berbeda. Background dan tata rias mereka pun diganti seiring dengan pergantian kostum mereka. Untuk hal ini, tim kru Fotografer Dong benar-benar sangat cekatan. Apalagi begitu mengetahui untuk siapa semua persiapan ini mereka lakukan. Mereka benar-benar menyiapkan semuanya dengan sempurna untuk menarik simpati dari semua artis yang berada disana.

Mereka meyiapkan setting tempat untuk pemotretan dengan begitu apik. Mulai dari ruang indoor yang seakan-akan disulap menjadi ruang tengah sebuah apartemen, dimana Baekhyun dan Chanyeol memakai baju rumahan dan berpose di atas sofa, duduk saling berangkulan sambil mengenakan topi ulang tahun lengkap dengan sebuah cake mungil dengan lilin berangka 21 tahun, ditambah lagi hiasan balon dan pita disana sini. Seakan-akan mereka tengah merayakan pesta ulang tahun Chanyeol 6 bulan yang lalu. Ada juga setting yang seolah-olah mereka sedang berada di taman bunga pada musim gugur, padahal mereka hanya berada di kebun belakang studio pemotretan yang tidak terawat. Karena para kru dengan penuh semangat menebar berbagai macam jenis bunga dan daun-daun kering, tempat itu telah tersulap menjadi sebuah taman yang cantik. Benar-benar sempurna, ditambah dengan dua insan anak manusia yang duduk saling merapat berbalutkan mantel musim gugur dan saling tertawa lepas kearah kamera. Benar-benar penggambaran romantika musim gugur yang sempurna (author bayanginnya sambil mimisan nih >,<)

Masih banyak lagi foto sandiwara Chanyeol dan Baekhyun. Diantaranya ada juga foto yang mereka ambil sendiri dengan sebuah kamera Polaroid milik Asisten Han –sang penggagas ide konsep couple self camera-. Chanyeol maupun Baekhyun seolah-olah sedang melakukan self camera dengan pose imut-imut unyu-unyu gemes-gemes (author kalap >///<). Ada yang memakai baju couple, bando kelinci couple, pose aegyo, sampai ada pula pose Chanyeol mencium pipi Baekhyun. Oke yang terakhir ini sebenarnya tidak tercantum dalam daftar pose yang harus mereka lakukan, tapi hal itu datang dengan sendirinya dipikiran sempit(?) Chanyeol.

Berawal saat Baekhyun yang memegang camera Polaroid dan sedang bersiap-siap membidik dirinya dan Chanyeol –yang sedang memeluknya dari belakang-. Baekhyun mengulurkan tangan kedepan tubuhnya sejauh yang bisa ia lakukan dengan tangan pendeknya(?). Chanyeol tiba-tiba saja merasa geli dengan tingkah Baekhyun. Namja yang tadinya benar-benar membuatnya kesal itu kini menjelma menjadi sosok manis yang sangat menggemaskan, seampuh itukah efek make up bagi seseorang? Begitu pikir Chanyeol.

“Tanganmu pendek sekali, haha” ledek Chanyeol saat Baekhyun masih saja mengulurkan kedua tangannya yang memegang camera itu ke depan tubuhnya sedikit ke atas untuk mencari angle yang pas untuk menangkap dirinya dan Chanyeol dalam foto.

“Berisik! Kau diam saja.” Baekhyun menggerutu dan kembali berkonsentrasi pada cameranya, pipinya menggembung dengan lucu karena kesal mendengar ledekan Chanyeol barusan. Dan hal itulah yang membuat Chanyeol tanpa sadar mendekatkan wajahnya kepipi Baekhyun dan mengecupnya lembut. Namja tampan itu benar-benar gemas melihat Baekhyun bertingkah merajuk seperti itu. Karena terkejut, Baekhyun secara tidak sengaja memencet tombol camera dan terabadikan lah moment romantis itu.

“Ya! Apa yang kau lakukan?! Dasar namja mesum!!” Baekhyun memukul kepala Chanyeol dengan kekuatan penuh. Membuat Chanyeol mengaduh dengan kesakitan.

“ADUH! Kenapa kau suka sekali memukulku?!!” Chanyeol mengusap-usap kepalanya yang terkena pukulan maut Baekhyun.

“Kyaa, kalian manis sekaliiii….” Seruan Asisten Han disambut senyum lebar semua orang di studio yang dalam pikiran mereka juga sependapat dengan apa yang Asisten Han katakan barusan.

“Baek, aku mau foto yang itu satu!” seruan heboh datang kemudian dari Luhan. Yang dengan semangat merebut kamera ditangan Baekhyun dan menunggu hasilnya tercetak.

“Uwaahh, Baekkie aku tidak tahu kau bisa semanis ini saat sedang tersipu. Hahaha” Luhan mulai mengeluarkan kebiasaan tertawanya dengan suara keras. Namja satu itu memang paling mudah dibuat tertawa. Hal tidak lucu sekalipun akan Luhan tertawakan dengan penuh semangat.

“Luhan, berikan foto itu padaku! Ya! Jangan lari! Kembalikan foto itu!!” dan adegan kejar-kejaran pun tidak dapat terhindarkan. Luhan masih sibuk berlari sambil menyusut air matanya yang keluar karena tertawa terlalu heboh dan Baekhyun sibuk menggerutu sambil memaki-maki partner tinggalnya itu.

BRUAGH

 

Luhan tersandung box berisi perlengkapan pemotretan yang sudah tidak terpakai, tubuhnya meluncur indah ke udara. Dan bersiap untuk menyapa lantai studio yang berdebu itu. Namun Luhan merasa ada yang menangkap tubuhnya. Memegang pinggangnya dengan erat dan menyelamatkannya dari adegan saling bertegur sapa dengan lantai ubin.

“Yak! Dapat!” seruan kemenangan Baekhyun tidak Luhan hiraukan karena dihadapannya sekarang tengah berdiri sesosok malaikat berambut pirang yang sangat menawan.

“Ehem, kau sudah bisa berdiri sekarang?” Pertanyaan atau lebih tepatnya pernyataan Kris itu berhasil mengembalikan Luhan ke dunia nyata. Dia buru-buru melepaskan diri dari pelukan ketat Kris dengan salah tingkah.

“Mi-mianhae..” Luhan kabur sejauh mungkin dari tempat Kris berada. Meninggalkan namja tampan itu yang sedang menahan senyumnya melihat tingkah lucu Luhan.

“Dong Woo~ah, aku rasa sudah cukup acara pemotretan kita. Lagi pula kami harus bersiap-siap untuk tampil di Seoul Music Dream Concert 1 jam lagi. Semoga tanpa latihan hari ini kalian tetap bisa menampilkan penampilan terbaik kalian, aku percaya pada kalian semua. Terlebih kau, Chanyeol. Kau pasti lelah, tapi tolong tetap keluarkan kemampuan terbaikmu.” Suho mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum manis. Suho tahu, anak bimbingannya tidak akan pernah mengecewakannya dalam urusan panggung. Mereka semua benar-benar pemuda pilihan Suho.

“Ne, hyung” jawab keempat namja yang tergabung dalam HigH Band itu serempak.

Semuanya saling membungkukkan badan sopan dan saling menyampaikan ucapan sampai jumpa besok. Sampai akhirnya rombongan Suho cs pergi meninggalkan studio Fotografer Dong. Baekhyun menghela nafas lega dan menghempaskan tubuhnya di sebelah Luhan yang tengah duduk meringkuk di sofa sambil memeluk lututnya.

‘Kenapa lagi anak ini?’ Baekhyun bertanya dalam hati melihat tingkah aneh Luhan. Tapi Baekhyun segera membuang pikirannya tentang Luhan. ‘Ah, biarkan saja. Dia memang selalu bertingkah aneh’ dan dengan pemikirannya itu, Baekhyun memejamkan matanya. Sejenak merilekskan saraf otaknya yang seharian ini sudah sangat terforsir dengan kejadian-kejadian tak terduga yang baru sekali ini ia alami sepanjang sejarah hidupnya selama 21 tahun.

Baekhyun memutar kembali semua kejadian yang dialaminya hari ini. Dari mulai dia terperangkap di ruang dosen menyusun berkas laporan akhir semester, terkepung wartawan bersama namja mesum bernama Park Chanyeol, bernegosiasi dengan Suho hyung dan Fotografer Dong, melakukan pemotretan penuh sandiwara dengan Chanyeol. Haaah~ masih belum cukup banyak kah cobaan yang diterima Baekhyun hari ini? Baekhyun menatap foto yang dari tadi masih dipegangnya, hanya sekedar berjaga-jaga agar tidak jatuh ketangan Luhan. Dia amati wajahnya yang terlihat terkejut di foto itu dan wajah satunya lagi yang tengah mencium pipinya dengan lembut.

“Semua ini gara-gara kau, Park Chanyeol bodoh!” Baekhyun memaki foto Chanyeol dengan gemas. Tapi dia tahu semua yang dilakukannya ini hanya sia-sia. Tidak ada jalan lain selain menghadapi semuanya. Baekhyun mencoba memantapkan hatinya.

Boy to Girl(?)

Hari ini kantor menejemen Suho terlihat sangat ramai. Semua karyawan KJM Entertainment sibuk berlalu lalang melakukan persiapan akhir untuk konfrensi pers yang akan berlangsung setengah jam lagi. Para wartawan sudah ramai di luar gedung dan sibuk saling berdiskusi mengenai seperti apa kekasih Park Chanyeol sebenarnya. Semalam tiba-tiba para netizen dihebohkan dengan kemunculan foto-foto mesra nan romantis antara Park Chanyeol dan seorang yeoja cantik. Foto itu tersebar luas dan langsung membuat trending topic di berbagai media. Hampir semua judul postingan serupa, ‘Park Chanyeol dan kekasih yang dirahasiakannya’ atau ‘Kekasih Park Chanyeol yang sebenarnya’ bahkan sampai ada judul-judul lucu seperti ‘Kekasih Park Chanyeol yang menggemaskan sudah berani tampil dimuka umum’, atau ‘Romantika si playboy dengan gadis mungilnya’. Karena judul-judul postingan artikel itu, sejak tadi pagi Chanyeol sukses menjadi bahan tertawaan ketiga rekan Bandnya. Chanyeol yang sudah lelah berteriak menyuruh mereka diam akhirnya menyerah dan memilih untuk menulikan telinga saja. Karena pada kenyataannya, menyuruh ketiga rekannya untuk berhenti menertawaknnya adalah hal yang mustahil.

“Kau sudah menghubungi Baekhyun?” Suho bertanya pada Chanyeol yang tengah bersiap-siap dengan pakaian yang akan dikenakannya.

“Dia sedang dalam perjalanan kesi..”

“Annyeonghaseyo~ maaf terlambat” ucapan Chanyeol terpotong oleh kemunculan sosok yang sedang mereka bicarakan dari balik pintu ruang make up.

“Ah, Baekhyun-ssi, kami baru saja membicarakanmu. Dong Woo~ah, kau juga datang?” Suho menyambut para tamunya. Begitu melihat Fotografer Dong, Suho segera memeluk teman lamanya itu sambil tersenyum lebar.

“Tentu saja. Ini semua menyangkut anak kesayanganku. Aku khawatir kau akan merebutnya dariku.” Fotografer Dong merangkul pundak Baekhyun protektif. Walaupun Baekhyun tahu itu hanya bercanda, tapi tak urung membuatnya tersipu malu mendengar ucapan Fotografer Dong tersebut.

“Hahaha, sepertinya kau sangat mengistimewakan Baekkie-mu.” Suho tertawa riang melihat tingkah sahabatnya itu.

“Ne, mereka berdua aset berhargaku. Aku tidak akan bisa menemukan model pengganti untuk menggantikan Baekkie dan Lulu-ku..” Fotografer Dong mulai bertingkah berlebihan. Sekarang dia memeluk Baekhyun dan Luhan dalam satu pelukan besar seperti keluarga Beruang.

“Aku merasa sangat tersanjung Fotografer Dong. Tapi akan lebih baik lagi kalau kau juga memberikan kami sekotak besar coklat dari Swiss, maka aku pasti akan menitikkan air mata haruku karenanya. Aku berani menjamin hal itu.” Luhan melepaskan pelukan beruang itu dan merapikan rambut pendeknya yang berwarna keemasan seperti madu itu. Hari ini Luhan berpakaian normal. Seperti layaknya namja fasionable Korea Selatan pada umumnya. Namun tidak dengan Baekhyun. Dia sudah berpenampilan lengkap dengan atribut perangnya. Walaupun yang dikenakannya hanya sebuah wig ikal kemerahan, skinny jins dan sweater tipis. Baekhyun akan berganti pakaian disini sesuai dengan instruksi Suho semalam.

“Lulu, kau tahu aku pasti akan memberikan apapun untukmu dan juga Baekkie, bahkan nyawaku sekali pun.” Fotografer Dong kini mulai berdrama ria.

“Ahh~ aku bosan, aku bosan.” Seru Baekhyun dan Luhan kompak, bahkan gerakan tubuh mereka yang mengibas-ibaskan tangan acuh dan ekspresi bosan mereka pun serupa. Benar-benar kumpulan 3 orang aneh. Batin Suho sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Fotografer Dong, sahabatnya ternyata masih tidak berubah sejak dulu.

“Ehem, jadi bisa kita bersiap-siap sekarang Baek..kie? Mulai sekarang kami akan membiasakan diri memanggilmu seperti itu. Terlebih di depan para wartawan dan media.” Suho mengembalikan topik rancu yang terjadi pada topik yang semestinya.

“Ne, aku tidak masalah dengan hal itu.” Baekhyun tersenyum simpul menanggapi ucapan Suho. Sudah dia putuskan, bahwa dia akan menjalani semua sandiwara ini dengan kemampuan terbaiknya.

“Chanyeol, bersiap-siaplah dengan Baekkie di ruang ganti. Tunjukkan Baekkie pakaian yang akan dikenakannya dan bantu dia dengan segala aksesorisnya juga. Kami juga akan bersiap-siap.” Dengan perintah itu, Chanyeol membawa Baekhyun ke ruang ganti yang terletak di bagian belakang ruang make up tersebut tanpa banyak bicara.

“Bukan kah sedikit aneh melihat mereka begitu tenang?” Minseok tiba-tiba berkomentar, sambil mengamati punggung Chanyeol dan Baekhyun. Ucapannya mendapat tatapan setuju dari semua orang di ruang itu.

“Kita berharap saja kerukunan mereka bisa bertahan sampai konfrensi pers hari ini berakhir.” Kyungsoo menyambung dengan sebuah harapan yang diamini oleh semuanya.

Boy to Girl(?)

Sedangkan itu di ruang ganti.

“Aku merasa sedikit konyol.” Baekhyun tertawa sumbang sambil memperhatikan pantulan dirinya dicermin besar yang menempel di dinding ruang ganti. Tubuh mungilnya sekarang sudah terbalut sebuah gaun casual selutut berwarna merah tanpa lengan yang serasi dengan wig kemerahannya. Wajahnya sudah terpoles make up dengan cantiknya.

“Kita berdua memang konyol.” Sambung Chanyeol yang sedang memakai jasnya. Dia memakai setelan jas semi formal berwarna putih, membalut tubuh tinggi tegapnya dengan sempurna.

Mereka berdua secara keseluruhan sudah siap, hanya tinggal menambahkan beberapa aksesoris ditubuh Baekhyun, dan untuk hal ini Baekhyun sedikit kesulitan. Pasalnya selama ini asisten Han lah yang selalu mengurusi segala kostum pemotretannya. Baekhyun hanya tinggal memakai semua yang telah dipilihkan asisten Han tanpa perlu repot memadu padankan ini dan itu.

“Yang itu cocok dengan warna gaunmu.” Ucap Chanyeol tiba-tiba, membuat Baekhyun tersentak kaget.

Baekhyun mengangkat sebuah anting-anting manis berbentuk hexagonal berwarna keemasan berpadu dengan merah ditangannya, “ini?” tanya Baekhyun dan dijawab dengan anggukan Chanyeol.

“Sepertinya kemarin aku melihat bekas tindikan di telinga kananmu, kau bisa memakai sebelah anting itu.”

“Kau pasti begitu memperhatikanku sampai tahu aku punya bekas tindikan?” Baekhyun memicingkan matanya sambil menyilangkan tangannya di depan dada, menatap Chanyeol tajam yang sekarang terlihat salah tingkah.

“K-Kau jangan terlalu besar kepala, bodoh! Aku hanya tidak sengaja melihatnya. Untuk apa aku memperhatikanmu.” Chanyeol buru-buru mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan mukanya yang bersemu merah.

Baekhyun terkekeh pelan melihat tingkah lucu Chanyeol yang baru sekali ini dia lihat, “aku merasa tersanjung atas perhatianmu, Chanyeollie~ah” Baekhyun masih menggoda Chanyeol yang langsung merasa tersinggung dengan godaan Baekhyun.

“Ya! Berhenti menggodaku!!” seruan Chanyeol membuat semua orang yang berada diluar ruang ganti itu seketika menghentikan kegiatan maing-masing. mereka mengalihkan perhatian mereka pada pintu kayu yang tertutup rapat itu.

“Apa yang sedang mereka lakukan?” tanya Kyungsoo sedikit penasaran. Begitu pun semua orang di sekelilingnya.

“Mereka sudah terlalu lama didalam sana. Ayo kita lihat mereka.” Suho bangkit dari duduknya dan berjalan memimpin menuju ruang ganti tempat dimana Chanyeol dan Baekhyun masih sibuk dengan kegiatan mereka.

Tangan Suho yang sudah siap untuk mengetuk pintu ruang ganti itu terhenti di udara karena mendengar sebuah suara dari dalam.

“Jangan berteriak seperti itu, bodoh! Cepat kita selesaikan ini dan segera keluar dari sini, aku merasa gerah.” Enam kepala diluar ruang ganti itu mendengar suara Baekhyun. Seketika mereka saling pandang satu sama lain.

“Apa yang mereka lakukan?” Fotografer Dong bertanya dengan suara pelan. Entah apa yang membuatnya berbisik-bisik seperti itu.

“Molla, aku juga tidak tahu.” Jawab Suho sambil berbisik pula. Mereka kembali memfokuskan perhatian mereka pada pintu kayu yang tertutup rapat itu.

“Kau yang memulai semuanya.” Kali ini suara Chanyeol yang terdengar dengan nada sedikit kesal.

“Ah, sudahlah. Cepat bantu aku dengan ini, ini sedikit sulit untuk dimasukkan.” Serempak semua orang yang tengah menguping di luar ruang ganti itu menutup mulut mereka dengan terkejut, semua orang kecuali Kris, karena namja cool itu segera melangkahkan kakinya pergi dari kerumunan orang yang sedang sibuk dengan imajinasi liar mereka. Dia hanya menghela nafas panjang meratapi nasib sialnya yang harus dikerumuni orang-orang gila seperti mereka.

“Kau saja yang bodoh. Berikan padaku.” Suara Chanyeol terdengar lagi.

“Tanganmu jangan menghalangi begitu, bagaimana aku bisa memasukkannya. Singkirkan.” Masih suara Chanyeol.

“Akh! Appo! Pelan-pelan bodoh.” Baekhyun berteriak kesakitan dan terdengar sedikit marah.

“Kau terlalu banyak bergerak. Diamlah Baekhyun. Aku tidak bisa melihat lubangmu. Sepertinya ini memang tidak bisa dimasuki lagi.” Chanyeol mengerang dengan nada frustasi.

“Coba pelan-pelan, memang sudah lama tidak pernah kumasuki apapun.” Percakapan Baekhyun dan Chanyeol di dalam ruang ganti itu membuat Suho dan yang lainnya berimajinasi semakin liar.

“Sudahlah, lepaskan saja. Dari pada kau kesakitan seperti ini.”

“Tidak apa-apa. Tinggal sedikit lagi. Paksa saja, sudah terlanjur sakit percuma kalau dilepaskan.”

“Benar tidak apa-apa? Kalau sampai berdarah bagaimana?” Chanyeol terdengar sedikit ragu.

“Tidak akan. Cepatlah, aku sudah benar-benar tidak tahan. Panas sekali disini, aku ingin segera keluar.”

“Baiklah, tahan sebentar lagi ini akan sedikit sakit.”

“Ne.”

“…” hening untuk sementara, tanpa sadar lima kepala manusia dibelakang pintu itu tengah menahan nafas mereka. Menunggu suara yang akan keluar selanjutnya dengan jantung berdebar.

“Akh! Appo~” terdengar pekikan tertahan Baekhyun. Membuat Luhan menggigit kuku jemarinya tanpa sadar sampai patah.

“Mianhae, apa sakit sekali?” nada khawatir terdengar dari suara Chanyeol.

“Ne, tapi tidak apa-apa. Sakitnya akan hilang nanti. Apa kau sudah siap?”

“Ne, aku sudah siap.”

“Bisa kita keluar sekarang?”

“Ayo kita keluar, Suho hyung akan cemas kalau kita tidak segera keluar.”

“Ne,”

“Kenapa mereka sudah mau keluar, bukankah mereka baru saja ‘masuk’?” gumam Fotografer Dong yang hanya disambut tatapan bengong semua rekannya.

Drap drap drap

 

Mereka tidak sempat berargumen karena mereka mendengar langkah kaki semakin mendekat ke arah pintu.

Ceklek~

 

Pintu ruang ganti terbuka dengan tiba-tiba, menampilkan Chanyeol dengan setelan jas semi formalnya yang terlihat bingung melihat kerumunan orang di depannya. Sedangkan itu Suho yang tidak siap melihat kehadiran Chanyeol langsung menubruk tubuh Kyungsoo dalam usahanya untuk berbalik kabur.

“Aduh~” seru keduanya bersamaan karena terkejut dengan tubrukan tak terduga itu.

Sedangkan Luhan dan Fotografer Dong entah kenapa tiba-tiba langsung berjongkok dan berpura-pura sedang mencari sesuatu.

“C-Chanyeol.. Annyeong, hehe” Minseok yang masih berdiri menyapa Chanyeol dengan gugup.

“Kalian sedang apa disini?” sebelah alis Chanyeol terangkat. Dia menatap gerombolan orang aneh di hadapannya dengan curiga.

“Ada apa?” Baekhyun terlihat mengintip dari balik pundak Chanyeol. Dia sedikit bingung, kenapa Chanyeol tidak kunjung keluar.

“Baekhyun!” seru Luhan keras dan tanpa aba-aba dia langsung berdiri dan menyingkirkan tubuh Chanyeol yang menghalangi Baekhyun dan menarik sahabatnya itu keluar. “Gwaenchanayo? Kau tidak apa-apa? Apa ada yang sakit? Dimana??” Luhan dengan kalap mengecek tubuh Baekhyun dari depan, belakang, samping kanan dan kirinya.  Membuat Baekhyun mengerutkan keningnya bingung.

“A-apa yang terjadi, Luhan? Ada apa? YA! APA YANG KAU LAKUKAN BODOH!!”

Plak!

 

Baekhyun memukul kepala Luhan dengan keras. Jangan salahkan dirinya. Salahkan Luhan kenapa namja aneh itu tiba-tiba berusaha menyingkap gaun Baekhyun. Seketika atmosfer di ruang make up itu memanas dan canggung. Baekhyun dan Chanyeol dengan tatapan tajam mengamati lima orang dihadapan mereka. Menunggu salah satu dari mereka untuk membuka mulut. Tapi tidak seorang pun yang membuka mulutnya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dan akhirnya sebuah suara justru datang dari namja yang tengah asyik membaca majalah di sofa.

“Lain kali kalau ingin bercumbu lakukan lah di tempat yang semestinya.” Ucapan datar Kris membuat Chanyeol dan Baekhyun membulatkan mata mereka dengan ukuran maksimal.

“MWO!?!?” seru Chanyeol dan Baekhyun bersamaan. Keduanya benar-benar terkejut mendengar tuduhan tanpa alasan Kris tersebut.

“Ya! Apa yang sedang kalian pikirkan! Kami tidak melakukan hal itu!!” seru Baekhyun dengan suara kerasnya.

Keributan pun tidak bisa terhindarkan. Sampai pada akhirnya Chanyeol dan Baekhyun menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya pada gerombolan orang berotak kotor itu. Mereka semua serempak menghela nafas antara lega dan kecewa(?) begitu mengetahui bahwa tadi Chanyeol hanya membantu Baekhyun untuk memasang anting. Semua perbincangan harus dihentikan karena karyawan Suho datang dan menyuruh mereka untuk bersiap-siap ke tempat konfrensi.  Suho kembali pada sifat aslinya yang dewasa. Dia menatap Baekhyun dan Chanyeol dengan serius.

“Sudah saatnya. Kalian mengingat semuanya kan?” Suho menunggu jawaban dari dua orang dihadapannya.

“Ne, hyung.” Jawab mereka kompak.

“Tunjukkan yang terbaik pada media. Aku selalu berada dibelakang kalian jika kalian membutuhkanku.” Suho mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum simpul.

Kris, Kyungsoo dan Minseok saling melempar senyum mendukung kearah Baekhyun, seakan mengungkapkan kalau mereka pun akan turut membantu Baekhyun semampu mereka. Baekhyun tidak dapat menahan senyumnya melihat kesungguhan dari orang-orang yang bahkan tidak pernah Baekhyun bayangkan sebelumnya akan bisa ia kenal dan lihat secara langsung.

“Kau siap, Baek..kie?” Sebuah suara berat terdengar dari sisi kanan Baekhyun. Membuatnya mengamati sosok tinggi yang sekarang menjadi ‘kekasihnya’ itu. Chanyeol mengulurkan tangan kirinya pada Baekhyun.

Baekhyun menarik nafas dalam sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Chanyeol, “ne~ aku siap.. Yeollie.” Dan dengan kalimat bernada yakin itu keduanya saling menautkan jari jemari mereka dengan erat. Berusaha saling menyalurkan semangat dan kekuatan.

Boy to Girl(?)

Konfrensi Pers.

Serbuan lampu kamera seketika membutakan mata Baekhyun. Membuatnya reflek menghentikan langkahnya di sebelah Chanyeol. Ketiga rekan Chanyeol sudah duduk dikursi masing-masing. menyisakan dua kursi yang berada ditengah, tempat untuk Chanyeol dan Baekhyun.

Mendapati sosok di sebelahnya tiba-tiba berhenti melangkah, Chanyeol pun ikut berhenti. Dia memperhatikan Baekhyun yang terlihat sedikit gugup menatap banyaknya wartawan dan kamera yang tertuju padanya. Chanyeol mengerti kegugupan Baekhyun, dia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Baekhyun dan membisikkan sebuah kalimat dukungan untuk ‘kekasihnya’ itu.

“Bayangkan saja kalau mereka semua hanya kru yang membantu proses pemotretanmu seperti kemarin. Kau hanya perlu tersenyum dan menjawab pertanyaan yang mereka ajukan padamu. Jika kau gugup, lihat saja kearahku, semuanya akan baik-baik saja. Kau percaya padaku kan, Baekkie?” Chanyeol tersenyum sangat manis. Berusaha sebisa mungkin membangkitkan kembali kepercayaan diri Baekhyun. Dan sepertinya senyumannya telah berhasil membius Baekhyun, namja mungil yang saat ini terlihat begitu cantik tak ubahnya yeoja sungguhan itu membalas senyum Chanyeol. Dia sedikit merasa lega mendengar dukungan Chanyeol barusan. Dia pun menganggukan kepalanya dengan mantap. Semua moment tersebut tak ada yang luput dari jepretan kamera para wartawan dan media. Berita besar ini tidak ada yang boleh terlewatkan barang sedikit pun. Karena ini adalah kali pertamanya seorang Park Chanyeol mengakui seorang yeoja sebagai kekasihnya secara resmi.

Konfrensi Pers mulai berjalan sesuai urutan acara. Mulai dari perkenalan singkat Baekhyun oleh Chanyeol. Dan juga permintaan maafnya atas berbagai kabar tidak sedapnya beberapa waktu lalu. Dan sekarang sampai pada saat yang paling dinanti-nantikan yaitu sesi tanya-jawab. Semua wartawan sibuk membombardir Chanyeol dan Baekhyun dengan pertanyaan-pertanyaan mereka. Mengeluarkan semua rasa penasaran mereka selama ini terhadap sosok Park Chanyeol dan sang kekasih misterius.

“Chanyeol-ssi, sudah berapa lama anda menjalin hubungan dengan kekasih anda Baekkie-ssi?” pertanyaan pertama.

“Kami sudah menjalin hubungan cukup lama. Setidaknya sudah 2 kali aku merayakan ulang tahunku bersama Baekkie. Kalian bisa jabarkan sendiri selama apa hubungan kami.” Senyum tidak pernah lepas dari bibir Chanyeol. Semuanya sudah tertulis diskenario yang dibuatkan Suho. Tentang perkiraan pertanyaan apa saja yang akan diajukan para wartawan. Dan bagaimana Chanyeol dan Baekhyun harus menjawabnya.

“Apakah semua rekan anda di HigH Band mengetahui tentang perihal hubungan kalian?”

“Saya akan menjawab pertanyaan ini,” Kris berbicara lewat microphone dihadapannya. “Sejak awal hubungan Chanyeol dan Baekkie kami sudah mengetahuinya. Baekkie sering kali mengunjungi kami ditempat latihan. Dia sangat baik dan sering membawakan kami makanan saat kami sedang berlatih.”

“Semalam banyak tersebar foto-foto Chanyeol-ssi bersama dengan Baekkie-ssi, melihat wajah Baekkie-ssi sepertinya kami merasa tidak asing. Apakah Baekkie-ssi seorang public figure seperti halnya Chanyeol-ssi?” satu lagi pertanyaan yang tepat seperti apa yang telah tertulis di skenario Suho. Dan kali ini, Baekhyun lah yang harus menjawab pertanyaan ini. dengan sedikit gugup dia mendekatkan wajahnya ke arah microphone di depannya. Sebelumnya dia menoleh kearah Chanyeol terlebih dahulu hanya untuk sedikit mengurangi rasa gugupnya, seperti apa yang tadi telah dipesankan Chanyeol. Dan sebuah senyum manis itu berhasil membuat kegugupan Baekhyun mereda.

“ehem, eum.. Se-sebenarnya saya memang seorang ulzzang,” seketika para wartawan dibuat heboh dengan pengakuan Baekhyun tersebut. Ruangan konfrensi pers seketika dipenuhi suara dengungan seperti lebah. Sampai pada akhirnya Baekhyun kembali bersuara dan ruangan kembali hening dalam sekejap. Para wartawan mengembalikan fokus mereka pada sang kekasih Park Chanyeol. “tapi saya belum terlalu sering muncul di media. Mungkin karena wajah saya tidak terlalu menarik untuk dipamerkan di media. Saya masih baru dibidang ini, belum bisa dikatakan seorang public figure seperti, Yeollie. Hehe.” Baekhyun mulai terlihat santai. Dia bahkan sudah bisa mengimprovisasi jawaban yang telah dituliskan Suho, membuat pembicaraannya dengan para wartawan lebih bersahabat dan tidak kaku. Chanyeol kagum dengan Baekhyun yang bisa cepat sekali menguasai situasi.

Wartawan kembali heboh mendengar Baekhyun memanggil Chanyeol dengan nama kecilnya. Mereka sibuk menggoreskan pena mereka, mencatat satu fakta menarik ini. Para wartawan merasa sangat tertarik dengan kepribadian Baekhyun yang bersahabat dan ramah. Dan lagi wajah manis Baekhyun langsung saja menarik simpati semua wartawan di ruangan ini.

Satu persatu pertanyaan diajukan para wartawan dan secara bergiliran Chanyeol, Baekhyun dan ketiga rekan mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sebisa mungkin tidak membuka terlalu banyak informasi dan digantikan dengan jawaban-jawaban ringan yang terkesan tidak terlalu serius. Konfrensi Pres berjalan kurang lebih selama setengah jam. Dan semuanya berjalan tanpa hambatan. Entah kenapa para wartawan yang sejak awal ingin memojokkan Chanyeol dengan pertanyaan mengenai isu-isu dirinya yang suka bergonta ganti pasangan tidak ada satu pun yang sempat melayangkan pertanyaan tersebut. Mereka seakan tersihir oleh pesona Baekhyun yang duduk manis di sebelah Chanyeol. Terlihat sangat serasi dan saling melengkapi satu sama lain. Banyak sekali moment manis antara mereka berdua yang membuat para wartawan lebih sibuk mengabadikan peristiwa itu dari pada membahas perihal isu Chanyeol.

Setelah sesi pemotretan, konfrensi pers pun selesai. Chanyeol, Baekhyun dan ketiga rekannya meninggalkan lokasi Konfrensi Pers dan kembali menuju ruang make up. Luhan sudah menyambut Baekhyun dengan sebuah pelukan erat saat Baekhyun baru sampai di belakang panggung. Karena memang sedari tadi dirinya, Suho dan Fotografer Dong mengamati jalannya Konfrensi Pers dari samping panggung.

“Baekkie, kau hebat sekali!” seru Luhan keras tepat ditelinga Baekhyun, membuatnya seakan tuli mendadak.

“Lepaskan aku. Luhan kau mau membunuhku?” Baekhyun akhirnya bisa terlepas dari pelukan maut Luhan. Dia memelototkan matanya pada sahabatnya itu, yang hanya menyambut death glarenya dengan cengiran lebar.

“Hehehe”

“Baiklah, semuanya sudah bekerja keras hari ini. Ayo kita makan daging bakar. Aku yang traktir.” Ucapan Suho langsung disambut heboh sekumpulan namja muda disekelilingnya.

Boy to Girl(?)

Singkat cerita, hubungan sandiwara Park Chanyeol dan Baekkie masih berjalan sampai dua bulan kemudian. Kadang kala Suho akan menyusun sebuah skenario untuk menampilkan mereka berdua dalam sebuah kesempatan untuk membuat media tetap mendapatkan berita mengenai hubungan mereka. Sekedar mengantisipasi dari adanya berita tidak sedap mengenai jarangnya mereka tampil di muka umum. Semua orang benar-benar tertipu dengan acting menakjubkan Chanyeol dan Baekhyun. Semua media terkelabui dengan kemanisan dan romantisasi yang mereka suguhkan. Tapi tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa jauh di dalam hati Chanyeol maupun Baekhyun kini tengah tumbuh sebuah perasaan baru yang keduanya belum sadari sampai sekarang. Yang mereka berdua sadari hanya sekarang mereka merasa senang saat ada kesempatan untuk saling bertemu. Dan merasa tidak sabar menunggu-nunggu skenario Suho selanjutnya untuk mereka perankan. Mereka berdua menikmati saat-saat mereka sedang bersama.

Kedekatan keduanya sangat disadari oleh semua rekan mereka masing-masing. Luhan menyadari ada sesuatu yang tengah dirasakan sahabatnya itu, setelah melihat betapa jarangnya Baekhyun berteriak sekarang. Yang ada sahabatnya itu sekarang menjadi senang sekali bersenandung, terutama lagu-lagu dari Band Chanyeol.

Begitupun sebaliknya dengan Chanyeol. Suho, Kyungsoo, Minseok dan terlebih lagi Kris, sangat menyadari perubahan Chanyeol. Namja yang selalu membuat masalah dan tidak pernah bisa diam itu tiba-tiba sekarang menjadi sangat pendiam. Kegiatannya jika tidak sedang berlatih atau melakukan syuting pasti sibuk dengan ponselnya. Berkirim pesan setidaknya bisa sampai ratusan pesan dalam sehari. Dengan siapa lagi kalau bukan dengan ‘kekasihnya’?. Tidak ada yang merasa terganggu dengan perubahan Chanyeol ini, mereka justru merasa bersyukur, menyaksikan Chanyeol bisa bertahan hanya dengan satu orang kekasih dalam waktu dua bulan adalah hal yang langka. Walaupun kondisi saat ini memang harus digaris bawahi, tapi tetap saja inti semuanya sama. Park Chanyeol kini telah membuang image playboy dari dirinya. Padahal dulu, bisa tampil di media dalam waktu seminggu sekali dengan berbagai yeoja yang berbeda setiap minggunya dan tanpa adanya sebuah ikatan merupakan suatu kebanggaan dan kesenangan tersendiri bagi Chanyeol. Tapi sekarang, entahlah.. dia merasa jenuh dengan berita-berita itu. Satu-satunya hal yang bisa membuatnya senang tampil di media saat ini adalah jika berkaitan dengan hubungannya dengan Baekhyun.

Baekhyun??

Chanyeol merasa ada yang salah dengan dirinya. Dan hari ini dia baru mengetahui apa sebabnya. Byun Baekhyun. Namja itu tidak pernah lepas dari pikiran Chanyeol. Bagaimana bisa? Benarkah Chanyeol menyukai Baekhyun? Kalau boleh jujur, Baekhyun memang mewakili tipe idaman Chanyeol. Mungil, manis, berkulit putih dan bersih, memiliki eye smile, dan.. tunggu dulu, apakah itu artinya Chanyeol menyukai seorang namja? SEORANG NAMJA?! Demi Tuhan, Chanyeol baru menyadari bahwa selama ini ‘kekasihnya’ adalah seorang namja. PARK CHANYEOL KAU BODOH!!

Chanyeol bersumpah, dia namja normal. Dia masih menyukai yeoja, terlebih mereka yang berwajah cantik, tapi Baekhyun juga cantik.. oh berhentilah otak bodoh. Bagaimana mungkin seorang namja bisa lebih cantik dari yeoja? Baekhyun bisa. Pesonanya bahkan mengalahkan yeoja-yeoja yang pernah didekati Chanyeol. Oke, cukup!

Chanyeol mengerang frustasi. Tanpa sadar dia berargumen dengan otaknya. Setelah dua bulan kedekatan mereka, Chanyeol baru menyadari kesalahannya. Dia tidak mungkin menyukai Baekhyun. Tidak mungkin! Oke mungkin dia menyukai Baekkie, tapi tidak dengan Baekhyun. Tidak. BIG NO!

Benarkah??

Boy to Girl(?)

Baekhyun merasa ada yang salah dengan Chanyeol. Sudah 2 hari dia tidak bisa dihubungi. Ponselnya masih aktif, tapi pesan dan panggilan Baekhyun tidak ada yang mendapat balasan.

“Dia kenapa?” gumam Baekhyun. Begitu kelasnya sudah berakhir, dia kembali mencoba menghubungi ponsel Chanyeol, tapi seperti yang sudah-sudah. Panggilannya tidak terjawab. Baekhyun sedikit khawatir.

“Nuguya?” Kepala Luhan tiba-tiba muncul di sebelah wajah Baekhyun ikut melihat ke arah layar ponsel namja itu, membuat Baekhyun yang tidak menyadari keberadaanya terlonjak kaget.

“Luhan! Kau mengagetkanku.” Baekhyun memegang dadanya yang berdebar kencang.

Luhan mengerutkan alisnya, menampakkan ekspresi bingung. “Aku sudah dari tadi berdiri disini, Baek. Kenapa kau terkejut seperti itu? Kau aneh sekali.”

“Ah, tidak apa-apa. Kajja kita pulang.” Baekhyun menarik tangan Luhan dan segera menuju ke halte bus. Dia benar-benar ingin segera sampai di apartemen, moodnya sedang jelek hari ini.

>>>>>>>>

Chanyeol kembali menghela nafas panjang entah untuk yang keberapa kalinya hari ini. Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, setelah membaca sebuah pesan tanpa membalasnya. Benar sekali, pesan dari Baekhyun.

“Kau kenapa?”

 

Singkat, tapi sarat dengan kecemasan. Chanyeol menatap kosong rintik hujan yang membasahi jendela ruang latihannya. Seminggu sudah dia mengacuhkan Baekhyun. Bukan hal yang mudah sebenarnya. Tapi dia harus melakukannya. Demi apa? Chanyeol sendiri tidak tahu. Dia hanya merasa dia harus menjauh dari Baekhyun. Tapi ini sangaaat sulit..

Setiap hari pesan dan panggilan Baekhyun tidak pernah absen mampir ke ponselnya, hanya sekedar bertanya apa yang sedang terjadi pada Chanyeol. Apakah dia baik-baik saja? Chanyeol tidak sedang baik-baik saja Baekhyun. Dia sedang bingung dengan apa yang tengah ia rasakan padamu. Chanyeol menyukai Baekhyun, tapi dia berusaha menepis kenyataan itu.

“Maafkan aku, Baekhyun” Chanyeol bergumam lirih. Sekali lagi dia menghela nafas panjang.

“Kau masih mengacuhkannya?” entah sejak kapan Kris sudah duduk di sebelah Chanyeol. Dia menatap sahabatnya itu dengan tatapan tajamnya seperti biasa.

Chanyeol tidak menjawab pertanyaan Kris, dia masih mengamati tetes-tetes air hujan di jendela kaca itu.

“Sebenarnya apa yang membuatmu mengacuhkannya seperti ini? Bahkan kalian sudah absen dari media selama seminggu. Suho hyung mengkhawatirkanmu.” Kris masih menyerbu Chanyeol dengan pertanyaan. Tidak perduli pertanyaannya yang pertama belum terjawab.

“Aku tidak bisa melanjutkan semua sandiwara ini, hyung.” Suara Chanyeol terdengar lemah. Kris menunggu kalimat Chanyeol selanjutnya, karena dia tahu Chanyeol belum selesai berbicara. “Aku harus menghindarinya, sebelum aku benar-benar menyukainya.” Lanjut Chanyeol. Suaranya terdengar sangat menyedihkan ditelinga Kris.

Kris bukan orang yang senang memberi nasehat dan berbicara panjang lebar. Tapi untuk kali ini sepertinya dia tidak bisa hanya diam dan menyaksikan sahabatnya yang bodoh ini berlarut-larut dengan masalahnya yang sebenarnya sepele ini.

“Memangnya apa salahnya kalau kau benar-benar menyukai, Baekhyun?” Chanyeol kembali terdiam. “Chanyeol, kenapa kau mau memungkiri kenyataan bahwa kau menyukai, Baekhyun? Apakah karena dia seorang namja?” tebak Kris langsung tepat mengenai titik sasaran.

“Hyung tahu sendiri kan kalau semua ini tidak benar? Semua yang aku lakukan ini salah? Hubungan kami sejak awal sudah tidak benar.” Chanyeol mencengkeram rambut gelapnya dengan frustasi. Sesak sekali rasanya menyangkal semua perasaan yang tengah dirasakannya ini.

“Tidak ada yang salah dalam hal menyukai seseorang, Park Chanyeol.” Kris menepuk pundak sahabatnya yang dilanda kebimbangan itu pelan. Berusaha sedikit meringankan beban yang tengah dipikulnya dipundak yang kini terlihat lemah itu. “Apalagi jika mereka sama-sama saling menyukai.” Chanyeol menatap Kris dengan terkejut begitu mendengar kalimat terakhir Kris barusan. Melihat ekspresi bingung Chanyeol, Kris hanya menyunggingkan senyum tipisnya sebagai balasan.

Boy to Girl(?)

“BYUN BAEKHYUN, KALAU KAU TIDAK MAU KELUAR AKU AKAN MEMBAKAR SEMUA KOLEKSI PERANGKOMU!!” teriakan Luhan terdengar sangat keras pada pintu kamar Baekhyun yang masih terkunci.

“AKAN KU GANTUNG KEPALAMU KALAU KAU SAMPAI MENYENTUH PERANGKO-PERANGKOKU RUSA KECIL!!” Baekhyun membalas teriakan Luhan dari dalam kamarnya. Sudah sejak kemarin siang dia mengunci dirinya disana dan belum keluar sampai pagi ini.

Luhan mengkhawatirkan sahabatnya itu. Apalagi Baekhyun sedang sakit sekarang. Dia terserang demam kemarin, dan bukannya menuruti perintah Luhan untuk pergi ke dokter, Baekhyun malah mengunci dirinya di dalam kamar seharian. Pagi ini, bagaimana pun caranya Luhan harus menyeret Baekhyun keluar dari persembunyiannya. Bukan perkara Luhan tidak mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi pada sahabatnya, Luhan tahu semuanya, tanpa Baekhyun memberitahunya pun Luhan sudah bisa menyimpulkan masalah apa yang sebenarnya sedang Baekhyun alami. Apalagi kalau bukan Park Chanyeol yang tiba-tiba mengacuhkannya. Luhan benar-benar kesal dengan namja itu. Luhan bersumpah kalau sampai dia bertemu dengan Chanyeol, dia akan memukul wajah tampannya itu. Berani sekali dia membuat sahabatnya sampai sakit seperti ini.

Luhan sudah bersiap menggedor pintu kamar Baekhyun sekali lagi saat tiba-tiba pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya.

“Baek?” Luhan mengamati Baekhyun di hadapannya dengan seksama. Wajah Baekhyun pucat, matanya bengkak, rambutnya berantakan, piyama biru langitnya yang bergambar pororo itu kusut tak beraturan. Luhan benar-benar miris melihat Baekhyun yang selalu terlihat rapi bisa seberantakan ini.

“Jangan sentuh perangko-perangkoku.” Suaranya serak. Entah kapan terakhir kali dia minum. Luhan buru-buru menarik tangan Baekhyun menuju ruang makan, Luhan sudah membuatkan bubur untuk Baekhyun.

“Kau harus makan, Baekhyun. Aku tidak akan menyentuh perangko-perangkomu itu, kalau perlu aku akan membantumu mengumpulkan semua perangko yang tersebar di pelosok planet ini kalau kau mau makan sekarang.” Baekhyun tertawa pelan mendengar kalimat yang diucapkan Luhan barusan. Mendengar suara tawa Baekhyun, Luhan merasa lega. Dia pun tersenyum kecil dan menyiapkan menu sarapan sehat Baekhyun pagi ini.

“Baek.. kau tidak apa-apa?” Luhan bertanya sedikit hati-hati pada Baekhyun yang sekarang sedang menghabiskan susu cokelatnya. Tubuhnya merasa lebih segar setelah perutnya terisi. Walaupun suhu tubuhnya masih sedikit tinggi.

“Aku baik-baik saja, Lu. Mungkin aku terlalu serius memikirkannya, dia pasti baik-baik saja. Mungkin hanya sedang sibuk dengan jadwal syuting dan manggungnya. Hehe” Baekhyun mencoba menutupi kesedihannya dengan sebuah senyum lebar.

“Aku bersumpah akan membunuh namja itu kalau sakitmu bertambah parah, Baek.” Luhan meremas serbet di atas meja makan dengan geram yang justru membuat Baekhyun terkekeh geli melihatnya.

Sebuah ringtone pesan tiba-tiba menghentikan tawa Baekhyun. Dia dengan buru-buru mengeluarkan ponselnya dari saku piyamanya, di seberang meja sana Luhan mengamati Baekhyun dengan penasaran.

“Chanyeol sedang sakit. Jengguklah dia.

Ini alamatnya xxx xxx xxx xx

 

Kris_”

 

“Luhan, aku harus pergi. Chanyeol sedang sakit. Aku harus melihat keadaannya.” Tanpa menunggu jawaban dari Luhan, Baekhyun segera berlari menuju keruang tengah, mengambil dompetnya dan segera keluar untuk mencari taksi.

“Kau sendiri pun sedang sakit, Baekkie. Lihat lah kau bahkan pergi masih dengan memakai piyama dan sandal katakmu.” Luhan menghela nafas panjang sebelum akhirnya menyunggingkan senyum simpulnya dan berbisik pelan, “semoga berhasil, Baek.”

Boy to Girl(?)

Jam 10 pagi dan tidak ada apapun yang bisa Chanyeol makan. Namja itu paling malas jika disuruh memasak. Dan hari ini dia sedang tidak berselera untuk makan di luar ataupun pergi ke luar dari apartemennya. Setelah mencari sesuatu yang sekiranya bisa dimakan, Chanyeol menemukan beberapa bungkus ramen di lemari makannya. Tanpa mau bersusah-susah untuk memasaknya, Chanyeol memakan mie keras itu apa adanya.

“Rasanya lumayan,” gumam Chanyeol pada dirinya sendiri. Dia menaburkan bumbu pada mie keringnya dan meneruskan makannya sampai tiba-tiba suara bel menyeret langkahnya untuk menuju ke pintu depan.

“Ah, semoga itu Kyungsoo, akan kusuruh dia memasakkan sesuatu untukku.” Chanyeol dengan masih mengunyah mie keringnya segera membuka pintu apartemennya dan setelah melihat siapa tamunya seketika itu pula tenggorokannya seperti tersumbat sesuatu. Apalagi bumbu bercita rasa tajam dari mie keringnya itu tiba-tiba masuk ke indera penciuman Chanyeol, membuatnya tersedak dengan parah.

“Uhuk! Uhuk!!” Chanyeol menutup mulutnya agar makanan yang tengah dikunyahnya tidak meluncur keluar dan mengenai wajah Baekhyun yang kini terlihat sangat khawatir.

“C-Chanyeol.. kau tidak apa-apa?” Baekhyun dengan gugup menepuk-nepuk punggung Chanyeol yang masih sibuk terbatuk.

“A.. air.. uhuk! air..” Chanyeol berbicara dengan susah payah disela-sela batuknya.

“Apa? Air? Ah, tunggu sebentar aku ambilkan. Dapurmu dimana?” tanpa menunggu jawaban dari Chanyeol, Baekhyun segera masuk ke dalam apartemen Chanyeol mencari-cari dimana letak dapur Chanyeol dan setelah menemukannya, dia buru-buru mengambil segelas air dingin dan membawanya ke tempat Chanyeol berada.

“Kau sudah tidak apa-apa?” Baekhyun kembali bertanya dengan nada khawatir pada Chanyeol yang sudah berhenti terbatuk setelah meminum air pemberiannya. Baekhyun masih menepuk-nepuk punggung Chanyeol pelan.

Chanyeol kembali tersadar dengan kehadiran sosok Baekhyun di apartemennya. Bagaimana namja ini bisa sampai disini? Chanyeol memperhatikan penampilan Baekhyun dari kepala sampai kaki. Dan ada yang sedikit mengganggu penglihatan Chanyeol. Bukan.. bukan karena sandal katak yang dipakai Baekhyun, bukan juga piyama pororonya. Tapi lebih kepada wajah namja itu. Wajahnya pucat dan matanya sedikit bengkak. ‘Sakitkah dia?’ batin Cahnyeol risau.

“Bagaimana kau bisa sampai disini?” Chanyeol mengeluarkan kalimat pertamanya. Saat ini mereka tengah berada di ruang tengah Chanyeol. Saling berdiri berhadapan dan saling menatap satu sama lain. Ada sebuah perasaan lega yang muncul disudut hati mereka saat melihat wajah satu sama lain.

“A.. Aku.. tadi Kris hyung mengabariku kalau kau sedang sakit. Dia memberikanku alamatmu dan aku datang kemari untuk menjengukmu.” Baekhyun menundukkan wajahnya, dia tidak sanggup menatap wajah Chanyeol lebih lama lagi. Jantungnya berdebar tak karuan.

“Ah! Dasar pirang sialan.” Baekhyun mengangkat kepalanya, terkejut mendengar makian Chanyeol barusan.

“Chanyeol?” Baekhyun ingin bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi sebelum ekor matanya tiba-tiba menangkap sesuatu yang sedang dipegang Chanyeol.

“Itu apa?” Baekhyun menunjuk ramen yang masih dipegang Chanyeol. Namja itu mengikuti arah yang ditunjuk Baekhyun dan dengan sedikit gugup dia menjawab.

“A-Aku sedang sarapan.” Jawabnya pelan. Mendengar jawaban Chanyeol tiba-tiba Baekhyun merampas bungkus ramen itu dari tangan Chanyeol dan menatap namja itu dengan tajam.

“Apa makan mie kering ini yang kau sebut dengan sarapan? Ini tidak baik untuk kesehatanmu, bodoh. Apa kau suka mengidap radang usus, eoh?” Baekhyun mulai mengomel sambil berkacak pinggang. Sedangkan Chanyeol yang diomeli hanya bisa bengong dan terkejut. Sebenarnya dia sangat merindukan suara Baekhyun. Apalagi saat tengah mengomel seperti ini.

“Ya! Kenapa datang-datang kau langsung marah-marah begitu? Kalau kau tidak mau aku terkena radang usus, buatkan aku makanan.” Tetap saja, Chanyeol terlalu gengsi untuk memperlihatkan bahwa dirinya sangat merindukan Baekhyun. Dengan berteriak seperti ini lah dia menutupi perasaan gembiranya yang membuncah.

“Ish!” Baekhyun berdecak kesal sebelum akhirnya tanpa banyak bicara dia pergi menuju dapur Chanyeol. Mencari-cari sesuatu yang bisa dia olah menjadi makanan untuk ‘kekasihnya’.

Chanyeol mengamati punggung Baekhyun yang sekarang sedang sibuk dengan penggorengan dan telur mata sapinya. Sesekali dia mengecek nasi dan sayurnya juga. Chanyeol tidak bisa menghilangkan perasaan harunya. ‘Apakah dia benar-benar mengkhawatirkanku?’ Chanyeol bertanya dalam hati. ‘Dia langsung menuju ke apartemenku begitu mendapat kabar aku sedang sakit. Dia bahkan tidak berpikir untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Sekhawatir itu kah Baekhyun padaku? Bodoh sekali aku sudah mengabaikan orang yang sangat memperdulikanku seperti ini.’

“Chanyeol?” lamunan Chanyeol terputus oleh panggilan Baekhyun. Chanyeol menatap namja di hadapannya itu dengan terkejut.

“Makanlah. Aku membuatkanmu telur dan sayur. Semoga kau suka.” Baekhyun menyunggingkan sebuah senyum manis yang membuat Chanyeol sulit bernafas melihat betapa manisnya Baekhyun walaupun tanpa make up dan wig dikepalanya. Ini lah Baekhyun yang sebenarnya. Baekhyun yang bahkan masih terlihat begitu manis hanya dengan piyama dan wajah polosnya.

“Terima kasih… Baekhyun.” Ucap Chanyeol lirih.

“Cheonma” senyum cerah Baekhyun bagaikan matahari pagi bagi Chanyeol. Ada perasaan hangat yang masuk ke dalam hatinya. Ada sebuah kenyamanan yang membuatnya ingin selalu berada di dekatnya. Dan ada sebuah ketergantungan yang membuat Chanyeol ingin selalu melihat dan merasakan senyum manis itu.

Keduanya saling terdiam, selama Chanyeol menghabiskan masakan buatan Baekhyun. Chanyeol sibuk mengecap rasa nikmat dari masakan Baekhyun dan Baekhyun sibuk mengamati Chanyeol yang sedang makan dengan lahap. Baekhyun merasa bahagia bisa melihat Chanyeol lagi. Rindunya sudah terbayar. Kekhawatirannya sudah menghilang begitu melihat keadaan Chanyeol yang baik-baik saja. Mengenai Chanyeol tidak menghubunginya seminggu terakhir ini, Baekhyun tidak mau mempermasalahkan hal itu lebih larut. Cukup dengan hanya melihat Chanyeol sekarang di hadapannya. Hati Baekhyun sudah dipenuhi dengan perasaan bahagia.

Baekhyun melihat Chanyeol sudah hampir selesai dengan makanannya, dia pun membuka pembicaraan. Sambil bangkit dari duduknya, Baekhyun berkata, “Kalau kau sudah selesai makan, aku akan segera pulang, Chanyeol-ssi.” Baekhyun membungkukkan badannya dan beranjak dari kursinya. Tanpa menunggu balasan Chanyeol, Baekhyun membalikkan tubuhnya dan buru-buru melangkahkan kakinya menjauh dari meja makan. Baekhyun tidak ingin Chanyeol merasa terganggu dengan kehadirannya yang tidak diharapkan. Akan dia tanyakan pada Kris hyung nanti apa alasannya menyuruh Baekhyun menemui Chanyeol, jika namja itu sendiri pun enggan berhubungan dengannya.

Grebb~

 

Langkah Baekhyun terhenti oleh sepasang lengan yang tiba-tiba melingkar diperutnya. Seketika membuat nafas Baekhyun berhenti. Dia membulatkan matanya dengan terkejut apalagi saat merasakan hembusan nafas lembut di dekat pipi kanannya.

“Mianhae~” ucap Chanyeol pelan di sebelah telinga Baekhyun.

“Eh?” Baekhyun tidak mengerti apa maksud dari ucapan Chanyeol barusan. Kenapa dia meminta maaf?

“Maafkan aku sudah mengacuhkanmu. Aku terlalu takut mengakui kalau aku sebenarnya menyukaimu. Aku terus memungkiri bahwa aku sebenarnya tidak menyukaimu, hanya karena kau seorang namja. Maafkan aku, Baekhyun-ah..” seiring dengan selesainya kalimat pernyataan Chanyeol barusan, pelukan diperut Baekhyun semakin erat. Punggung Baekhyun menempel erat didada Chanyeol. Dia bahkan bisa merasakan debaran jantung Chanyeol yang keras seperti halnya juga debaran jantungnya sekarang.

“Chanyeol..” Baekhyun tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Kalau boleh memohon, Baekhyun ingin agar waktu dihentikan saat ini juga. Saat dirinya sedang bersama dengan Chanyeolnya. Baekhyun hanya bisa membalas pelukan Chanyeol dengan menangkupkan kedua tangannya di atas tangan Chanyeol yang memeluknya.  Menggenggamnya erat dengan harapan Chanyeol juga bisa merasakan perasaan yang tengah Baekhyun rasakan padanya.

Chanyeol melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Baekhyun sehingga berhadapan dengannya. Keduanya saling bertatapan intens. Seolah tak ingin saling kehilangan kontak barang sedetik pun, bahkan untuk berkedip pun mereka tidak mau. Seolah mereka takut saat mata mereka kembali terbuka maka sosok di hadapan mereka akan lenyap.

“Aku menyukaimu, Baekhyun. Bukan Baekkie, tapi Baekhyun.” Chanyeol mengamati ekspresi terkejut Baekhyun yang menggemaskan. Dia mengulurkan tangannya menyentuh pipi halus Baekhyun yang terasa sedikit hangat dan terus meluncur menuju tengkuk namja mungil itu. Menariknya agar lebih dekat dengan wajahnya. Baekhyun masih diam tak bergerak. Masih menatap Chanyeol dengan mata kecilnya yang seperti anak anjing itu.

“Byun Baekhyun… saranghae~

Dan dengan kalimat lembut penuh perasaan itu, Chanyeol menghapus sekat yang memisahkannya dengan Baekhyun. Menggapai bibir merah yang menggoda di depannya itu dengan bibirnya. Mempertemukan keduanya untuk saling menyapa dalam sebuah sentuhan lembut bernama cinta. Baekhyun memejamkan matanya, menikmati sensasi yang baru sekali ini dirasakannya. Dan dengan mengikuti instingnya, Baekhyun membuka mulutnya untuk membalas ciuman Chanyeol. Baekhyun ingin Chanyeol juga menyadari perasaan yang tengah dirasakannya saat ini. Perasaan cinta yang sama seperti yang Chanyeol berikan padanya, Baekhyun pun memberikan cintanya pada Chanyeol. Walau tanpa kata, tapi Baekhyun akan menunjukkannya lewat ciuman dalam ini.

Kegiatan mereka terhenti saat dering ringtone terdengar nyaring ditengah keheningan yang tercipta, membuat keduanya dengan gugup melepaskan tautan bibir mereka dan dengan serempak merogoh saku masing-masing untuk menjawab panggilan masuk yang mengganggu itu.

Hal ini seperti dejavu saat Chanyeol dan Baekhyun sama-sama mengeluarkan ponsel mereka dari saku dan melihat ponsel siapa sebenarnya yang tengah berbunyi. Dan kali ini ponsel Chanyeol lah yang berbunyi. Panggilan dari Suho, sama seperti kejadian dulu.

“Yeoboseo?” Chanyeol menjawab telponnya.

“…”

“Ne, aku akan sampai di kantor setengah jam lagi, hyung.”

“…”

“Aku akan membawanya bersamaku.” Chanyeol tersenyum ke arah Baekhyun yang langsung membuat namja mungil itu tersipu.

Klik.

Chanyeol mengakhiri sambungan telponnya dan menatap Baekhyun yang masih berdiri di depannya dengan sebuah senyum lebar.

“Mau berkencan denganku, chagi?”

Boy to Girl(?)

[ Epilog ]

“Park Chanyeol seorang aktor dan musisi sebuah band terkenal, HigH Band, kemarin tertangkap basah sedang bergandengan mesra dengan seorang namja di sebuah Taman Hiburan. Saat ditemui para wartawan, Park Chanyeol dengan senyum terkembang dibibirnya memperkenalkan kekasihnya yang bernama Byun Baekhyun. Seorang namja manis yang terlihat tidak asing…”

[ THE END ]

Author’s note : “Annyeong~ akhirnya selesai jugaaa~ tolong jangan bunuh maru. Uhuhu T^T

Ini panjang sekali.. dan sama sekali nggak jelas isinya apaan. maru mohon maaf buat yang udah nunggu lanjutannya lama tapi akhirnya malah seperti ini. *pundung*

Silahkan, silahkan yang mau caci maki maru. ngeBASH maru, silahkan tinggalkan kalimat keramat kalian di box comment bawah ini.. atau ada yang mau marah-marah ke maru lewat twitter juga boleh [@byunchan92]

maru mau hibernisasi dulu ke antartika.

Annyeong~

NB. Still, telor-ssi, jeongmal gamsahamnida buat tampungannya~ *kecuph kecuph

 

Categories: AU, ChanBaek, Drama, Fantasy, freelance, Romance, Twoshoot | Tags: , | 53 Comments

Post navigation

53 thoughts on “[FREELANCE] Boy to Girl (?)//Chap 2 (ENDING)

Comment navigation

  1. ycnyabaek

    SUMPAH ITU ADEGAN DI RUANG GANTI!! KETAWA NGAKAK GAK BISA BERENTI GILAA GAKUAT NGAKAK XD!! Tapi sedikit kecewa juga, kenapa di akhir sakitnya si bebeb aku -baekhyun- /diserang fans baekhyun/ dihiraukan? Kayaknya lucu deh kalo baekhyun nya pingsan karena gakuat nahan sakitnya>< tapi ini ff daebak pisan (banget) thor! Aku sukaaaaaa:)) bikin lagi ff yg pemeran utamanya baekyeol ya! Haha kamsahamnida *bow

  2. Han Ji Yeon / Xi Lulu

    Keren abiss ^^
    Buat lebih panjang thor !!

  3. rahmi anime

    keren

Comment navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: