PARTITION//CHANBAEK FANFIC [CHAP 2]

partition poster

 

PARTITION

Author: Telor

Genre: School life, family, romance

Rating : PG aja dah

Main Cast : Byun Baek Hyun, Park Chan Yeol, Oh Se Hun. *yang lainnya temukan sendiri*

Pairing : BAEKYEOL! KaiSoo, HunHan, ChanLu, HunBaek, KrisLay

Disclaimer: F-F   I-N-I   P-U-N-Y-A   S-A-Y-A!   J-A-N-G-A-N   N-G-A-K-U-N-G-A-K-U!! CAST PUNYA SIAPA AJA DAH!

–          “berhentilah menyukaiku. Percayalah, aku bukan orang baik”

==================================================================================

BAEKHYUN membuka matanya setengah. Bukan tertidur, tapi ia begitu menikmati perjalanan yang ia rasakan bersama Chan Yeol. Memakai sepeda ini.

Ia membuka matanya lebar-lebar ketika melihat seluruh siswa dan siswi berkumpul di dekatnya membentuk sebuah lingkaran yang menjeratnya bersama Chan Yeol, hingga mereka berdua ada di tengah lingkaran itu. seperti di kelilingi bara api tepatnya.

“lepaskan tanganmu..” sahut Chan Yeol datar dengan kepalanya yang ia tundukkan, menatap jari-jari lentik Baek Hyun yang saling mengait, memeluk perutnya.

Baek Hyun terkesiap, ia buru-buru melepas tangannya dari perut Chan Yeol. Ia menggigit kecil bibir bawahnya ketika tanpa sengaja ia melihat salah satu dari mereka yang mengerubunginya menatapnya tajam. Bukan hanya siswi itu saja yang menatapnya seperti itu, tapi nyaris semuanya.

“apa mereka…”

“tidak-tidak.. aku tahu sekali Chan Yeol oppa tidak mungkin memiliki selera yang seperti ini”

Telinga Baek Hyun begitu panas. Banyak siswa yang mengupatnya dengan berbisik-bisik padahal bisikannya masih bisa didengar olehnya.

Tunggu. Telinganya mendengar degup jantung teratur seseorang, yang jelas itu bukan suara degup jantung dirinya yang memang tidak teratur sekarang.

Astaga!

Baek Hyun menjauhkan kepalanya dari punggung Chan Yeol, pantas saja kepalanya dari tadi begitu hangat.  Ia tersenyum kikuk, matanya beredar menatap satu persatu siswa di sana.

Ya tuhan!

 

“kalian yang di sana! Bisakah kalian menjauh dari sana, itu menghalangi sepeda” seru Chan Yeol menunjuk gerombolan siswa di depan dengan dagunya.

Bukan hanya siswa yang di depan Chan Yeol saja, tapi semua siswa yang mengelilingi mereka menjauh. Meninggalkan mereka di pekarangan sekolah.

Baek Hyun membuang nafasnya lega. Setidaknya kali ini ia masih diberkahi tuhan untuk hidup. Tapi jangan lupakan apa yang akan terjadi siang nanti karena semua orang juga tahu jika setelah pagi, maka akan ada siang begitu juga malam.

Chan Yeol turun dari sepeda, membuat kaki Baek Hyun refleks turun ke bawah, membuat sepeda itu tidak jatuh.  “parkirkan di tempat yang benar…” pesannya sebelum tubuh tinggi itu pergi menjauh dan menghilang di ujung koridor dekat tangga, karena tubuh itu begitu cepat menaiki anak tangga itu.

Baek Hyun tersenyum tipis, ia jadi bingung yang mana pribadi Chan Yeol yang sebenarnya. Chan Yeol yang cerewet, atau Chan Yeol yang dengan sikap biasanya, ia akan bersikap dingin dan membatasi biacaranya.

Biarlah, yang jelas, yang ia yakini hanya satu.

Ia menyukai, semua yang ada pada diri Chan Yeol. Sesederhana itu saja.

***

Brakk

“kau ini menyebalkan sekali menyuruhku mengambil mobil tadi pagi! Sudah tahu tadi ada ulangan jam pertama, dan gara-gara kau, aku jadi terlambat dan tidak bisa masuk jam pertama!!” serobot Kai dengan melempar kunci mobil ke meja kantin dengan emosi.

Jelas saja, gara-gara Chan Yeol yang ingin mengerjai Baek Hyun membuat Kai yang menjadi korbannya. Chan Yeol terkikik geli mendengar celotehan rekannya. “sabar saja Kim Jong In…”

“kau masih mengatakan sabar? Sementara kau sendiri yang membuatku masuk jurang neraka!” Kai menyambar jus stroberi milik Chan Yeol dan meminumnya dengan beringas.

“cih.. kenapa kau memesan rasa stroberi?” Kai meleletkan lidahnya begitu rasa manis asam stroberi tertangkap indra pengecapnya.

Chan Yeol kali ini menahan tawanya. Sungguh, sikap Kai yang dari tadi mengomelinya tak henti benar-benar menggelikan. “lagi pula itu bukan milikku Kai..”

Mata Kai membulat penuh. “jadi milik siapa?!”

Oh tidak, kalau jus ini bukan milik Chan Yeol, itu berarti tanpa langsung bibirnya mencium orang yang memesan minuman ini. Meski memang meminum bekas sisa Chan Yeol juga berarti berciuman secara tidak langsung dengan lelaki itu, tapi Kai sudah sering melakukannya.. eum—maksudnya meminum minuman dari sedotan yang sama dengan Chan Yeol.

Sudahlah tidak penting, lagi pula itu sudah sangat lumrah sekali.

“santai saja, itu belum dimakan. Minuman itu milik orang yang duduk di sana” Chan Yeol mengarahkan dagunya pada seorang lelaki berpunggung sempit di seberang ruangan. Lelaki yang membelakangi tubuhnya. Tapi tentu saja bagi Chan Yeol bisa menebak siapa orang itu.

Cermin bisa memantulkan wajah seseorang bukan? Dan bodohnya Baek Hyun duduk berhadapan dengan cermin besar kantin itu membuat tubuhnya yang membelakangi Chan Yeol berhadapan persis dengan cermin besar itu.

Ya Tuhan!

 

 

“kau—sengaja memesan untuknya? Haih.. kenapa kau tidak pernah memesan untukku?” seru Kai ketika mengerti siapa lelaki yang ditunjuk Chan Yeol. “tapi untungnya kau sering mentraktirku berkali-kali”

Kyung Soo yang duduk di samping Kai tertawa kecil. Sedari tadi ia lebih banyak diam ketika Kai mengomeli Chan Yeol. Yaa ia ingat betul tadi saat Kai hendak masuk ke kelas dan ditahan guru, ia tidak bisa berbuat apa-apa.

“kenapa kau senyum seperti itu? membuatku merinding saja” Kai mengendikkan bahunya geli ketika melihat ekspresi Chan Yeol yang senyum-senyum sendiri dan menatap ke depan – tepatnya ke satu titik di pantulan cermin besar itu.

“dia memperhatikanku..”

***

Baek Hyun sengaja siang itu pergi ke kantin membawa bekal yang ia bawa dari rumah. Setidaknya itu bisa menghemat uangnya. Ia memilih duduk di pinggir ruangan dekat cermin besar membentang dari ujung kantin hingga ujung kantin sebelah sana.

Sebelumnya ia duduk bersisian dengan cermin besar itu, tapi tidak setelah Chan Yeol datang bersama rekan-rekannya tanpa Kai, barulah ia berpindah tempat duduk menjadi berhadapan dengan cermin itu. apalagi setelah tahu Chan Yeol duduk di seberang ruangan sana, ia bisa memunggungi Chan Yeol, hingga begitu ia bisa berpura-pura tidak lihat.

Tapi bukannya beruntung, ia malah ketiban sialnya juga! Posisinya yang berhadapan dengan cermin besar itu membuat kepalanya tidak bisa berpaling dari cermin besar yang memantulkan semua yang ada di kantin itu, termasuk Chan Yeol. Berusaha sebisa mungkin ia menunduk dan menyantap makanannya, tapi lagi-lagi ketika ia mengunyah makanannya ia mengangkat wajah dan kembali melihat ke cermin itu.

Dan sialnya, kali ini Chan Yeol juga kebetulan melihat ke arah cermin dan menatapnya lewat pantulan cermin itu. Baek Hyun menggerakkan bibirnya tak menentu, jelas ia kaget dan bingung bagaimana cara menghindari tatapan Chan Yeol di sana.

Ia… sudah tertangkap basah!

Baek Hyun kembali menunduk dan menyantap makanannya dengan cepat hingga habis dan lagi-lagi ia mengangkat wajahnya. Tepat saat itu juga, semua orang yang berada di dekat Chan Yeol menatapnya lewat pantulan cermin itu.

Memalukan sekali!

 

 

Ia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan, tapi melihat Kyung Soo yang tertawa kecil setelah mereka melakukan eye contact dengannya membuatnya semakin memperjelas. Jika mereka menertawakannya!

Ia usap tengkuk belakangnya sedikit kikuk. “ya tuhan… apa yang mereka bicarakan?” ia melipat kedua tangannya di atas meja dan menyembunyikan wajahnya di sana. Ia malu sekali.

“ekhem..”

“ya tuhan!” Baek Hyun refleks mengangkat wajahnya dan berakhir memandang cermin besar yang kini menampilkan ia dengan seorang pangeran tampan dari negeri dongeng yang kini menyodorkan sebuah minuman untuknya. Ini memang berlebihan, tapi itulah persepsi Baek Hyun tentang Chan Yeol, pangeran tampan dari negeri dongeng.

Malah ia berpikir, minuman ini akan membuatnya tertidur lama dan Chan Yeol-lah yang akan menciumnya dan…

STOP IT!

Baek Hyun menggeleng cepat. Ia sudah gila jika berpikiran seperti itu! penyakit imajinasi berlebihannya kembali kambuh, parahnya ia bahkan ber-imajinasi tentang hal yang mustahil terjadi.

“hey, kau akan menerimanya tidak?” seru Chan Yeol yang memang tangannya sudah pegal karena terus menerus dalam posisi yang sama. Menyodorkan minuman “minuman ini baru, bukan yang diminum Kai tadi”

Baek Hyun masih tidak bisa fokus pada Chan Yeol, ia masih bergelut pada satu pemikirannya tentang penyakit imajinasi berlebihan yang ia miliki.

Chan Yeol sedikit menunduk dan menggeser tubuhnya menjadi tepat di belakang Baek Hyun dan membisikkan sesuatu di sana, menggelitik daerah sensitif Baek Hyun. “kau tidak terima minuman ini, hari ini juga aku akan memasang fotomu di mading”

Dan untuk hal yang seperti itu, Baek Hyun langsung terkesiap terbukti dengan nafasnya yang tercekat dan bahunya yang naik tanpa bisa turun kembali.

“aku bercanda… sudah, kau terima ini!”

Baek Hyun menghela nafas lega, seketika bahunya merosot saking leganya. Sepertinya, bukan hanya hari ini saja Chan Yeol akan seperti ini padanya, besok, lusa, atau sampai ia lulus dari sekolah ini, sepertinya ia akan terikat dengan Park Chan Yeol.

Karena memang sedari awal, ia sudah terjerat dalam pesona lelaki tinggi itu. ia rasa memang begitu, ia akan terikat dengan Chan Yeol tanpa ada sekat. Tapi ketika ia berpikir seperti itu, hanya kembali menolak. Seolah berkata…

Ia tidak boleh menyukai Chan Yeol!

***

Baek Hyun memang sudah curiga sebelumnya jika mobil Chan Yeol sebenarnya tidak mogok!

Karena saat jam istirahat tadi, ia melihat mobil itu sudah ada di pekarangan. Ia pikir itu bukan mobil Chan Yeol, karena mungkin siapa tahu saja orang lain punya mobil yang sama dengan lelaki tinggi itu.

Dan sekarang kecurigaannya terbukti! Chan Yeol dan para sahabatnya masuk mobil itu tanpa sungkan, itu berarti memang Chan Yeol-lah pemilik mobil yang tadi pagi mencegatnya di jalan. Kalau memang alasannya mogok, tentu saja akan memakan waktu banyak. Tidak mungkin saat jam istirahat mobil itu langsung kembali normal lagi.

Ia mendesis pelan ketika langkahnya berhenti di dekat mobil Chan Yeol. “satu kosong untukmu Park Chan Yeol” dan kembali ia membuat langkah, memapah sepedanya keluar lingkungan sekolah dan menaikinya setiba ia di gerbang.

===

Chan Yeol menjalankan mobilnya benar-benar tenang, ia mengulum senyumnya melihat sosok mungil itu mengayuh sepedanya dengan susah payah. Tangannya ia tumpu pada bilah jendela mobil sport hitamnya.

“pelan sekali, kau cepat cegat dia” Kai menatap Chan Yeol antusias dan kesal dengan pergerakan mobil Chan Yeol yang begitu lambat.

Chan Yeol menyeringai kecil. “tuhan menguji manusia dengan bersabar Kim Jong In” . matanya menyipit memperhatikan Baek Hyun turun dari sepedanya di sebuah cafetaria. Refleks kakinya menginjak rem dan berusaha tetap menjaga jarak.

“dia kemana?” tanya Kyung Soo yang duduk di jok belakang bersama Lay. Orang di sampingnya hanya mengendik bahu dan masih menatap Baek Hyun heran.

“dia kerja di sana?” tanya Kai.

Chan yeol mematikan mesin mobil dan menatap satu persatu ketiga temannya. “apa dia begitu tidak mampu sampai di usianya yang masih dini harus bekerja?”

Lay menarik nafas sejenak. “kau tidak lupa kan kalau ibu Baek Hyun gila?” melihat Chan Yeol yang menggeleng Lay kembali melanjutkan. “jelas ibunya tidak bisa bekerja mencari nafkah untuk sekolah dan makan dia”

“ayahnya?”

“menurut kabar yang beredar, ayahnya pergi meninggalkan mereka berdua”

***

Baek Hyun tersenyum kecil sambil mengangkat dua bungkusan kecil di dua tangan mungilnya.

Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan baginya meski tadi pagi ada bencana yang melandanya. Ia libur kerja hari ini dan malah mendapat dua bungkus makanan dengan Cuma-Cuma.

Ia masukkan dua bungkusan itu ke tas sekolahnya dan mulai menaiki sepedanya dengan tenang tanpa melihat sebuah mobil yang ribut akan kedatangannya.

Baek Hyun mengayuh sepedanya dengan santai, biarkan tubuhnya sedikit ia istirahatkan hari ini.

TIDD

TIDD

TIDD

Baek Hyun mendesis kesal mendengar bunyi klakson mobil dari belakang, segera ia menepikan sepedanya memberi mobil itu celah agar bisa mendahuluinya meski sebenarnya jalan raya ini begitu luas. Dan Baek Hyun akan mengira-ngira seberapa besarnya kendaraan di belakangnya sampai ketika ia sudah menepi, mobil itu tak kunjung menyusulnya.

Ia memperlambat kayuhannya dan menoleh ke belakang sebentar. Sebuah mobil sport hitam, ternyata..

Tunggu!

Baek Hyun membelalakkan matanya kaget ketika mengingat satu hal. Chan Yeol juga memiliki mobil yang sama seperti mobil di belakangnya.

Sekali lagi ia menengok ke belakang, memastikan keyakinannya itu benar atau salah.

Oh dear! Itu benar mobil Chan Yeol!!

 

“jangan panik Byun Baek Hyun, kau hanya perlu menjalankan sepedamu” bisik Baek Hyun menenangkan diri, meski sebenarnya itu tidak berhasil. Ia semakin tambah gelisah, takut akan ada hal yang direncanakan Chan Yeol padanya.

Baek Hyun mempercepat kayuhannya dari yang tadi. Ia hanya perlu cepat sampai di rumah. Ya… tujuannya hanya rumah, setelah bebas dari Park___

TIDD

TIDD

TIDD

Kembali klakson mobil di belakangnya berbunyi, tambah dekat, tidak terlalu dekat bahkan mobil itu ada di sampingnya. mensejajarkan kecepatannya.

Tapi… ternyata mobil itu mendahuluinya. Sudahlah mungkin Chan Yeol punya urusan lain di tempat yang satu arah dengan rumahnya. Kembali Baek Hyun merutuki otaknya yang terlalu berpikir dangkal ketika sedang panik. Dia terlalu parno untuk bertemu dengan…

“aaaaaaaaaaahhh” teriak Baek Hyun ketika menyadari mobil Chan Yeol tepat ada di depannya, parahnya ia sedang mengayuh sepedanya dalam kecepatan tinggi, dan jika sedikit saja terlambat mengambil jarak untuk mengerem maka akan…

BRAAAKKK

Baek Hyun memegangi kepalanya yang baru saja berbenturan dengan aspal jalan. Kepalanya berat sekali. Samar ia melihat seorang lelaki bertubuh tinggi keluar dari mobil dan berlari mengelilingi mobil melihat badan mobil yang gores karena ia tabrak. Selebihnya ia tidak tahu, karena tuhan telah mengambil kesadarannya.

***

Baek Hyun melepas sepatu dan menyimpannya di dekat pintu masuk. Rumahnya siang itu begitu sepi, padahal ia membayangkan akan ada eomma atau hyungnya yang bisa memasakkan makanan untuknya saat ia tengah capek dan lapar seperti sekarang ini.

Ia berlari-lari kecil dan tersenyum sumringah mengingat tadi siang dia diumumkan menjadi runner up dalam perlombaan Matematika nasional. Ia hanya perlu memberitahukannya pada kakaknya yang ingin ia mengikuti jejaknya menjadi seorang yang pintar.

“eomma? Hyung?” suaranya begitu menggema di seluruh rumah karena rumahnya benar-benar sepi. Ia mengendikkan bahunya bingung, mungkin saja kakaknya masih kuliah dan eommanya pergi keluar. Menunggu mereka di kamar lebih baik.

Baru saja ia memegang pegangan pintu, samar-samar ia mendengar suara tangis di kamar sebelah. Kamar Lu Han, kakaknya.

Ia menempelkan daun telinganya ke pintu, dan suara isak tangis itu semakin jelas saja terdengar. “Lu Han hyung, kau di dalam?” Baek Hyun coba untuk mengetuk pintu, tak ada yang menyahut, tapi masih ada suara tangis di dalam.

“Lu Han hyung? Kau tidak apa-apa?” Baek Hyun mulai panik, ia menggedor-gedor pintu kamar Lu Han. Ia mundur beberapa langkah mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu.

Tak berhasil…

Entah tubuhnya yang terlalu kecil atau pintunya yang terlalu kuat. Teringat ibunya selalu menggandakan seluruh kunci di rumahnya dan disimpan di laci meja dekat pintu kamarnya. Segera ia menyambar meja dan mencari kunci ganda kamar Lu Han.

Kaki Baek Hyun kembali berlari ke kamar Lu Han dan kali ini tentu saja dengan mudah Baek Hyun bisa membuka pintu itu..

“LUHAN HYUUNGG???!!” mata Baek Hyun membulat sempurna, melihat bagaimana kamar Lu Han begitu acak-acakan tak jauh beda dengan kapal pecah.

Baek Hyun memicingkan matanya, ada suara gemericik air yang tertangkap telinga. Segera ia berlari ke kamar mandi di kamar Lu Han.

“Lu Han hyung? Kau… sedang apa?” tanya Baek Hyun yang melihat pantulan wajah Lu Han di cermin. Wajah hyungnya… pucat.

Pandang mata Baek Hyun beralih pada pergelangan tangan Lu Han yang berdarah. “hyung, kenapa tanganmu berdarah?” kaget Baek Hyun. “jangan bercanda hyung, itu tidak lucu”

Lu Han tersenyum pada bayangan Baek Hyun di belakangnya. “Baek Hyun-ah… a-ku.. kotor…”

BRUKK

 

 

HYUUUUNNGGG!”

***

“hey, Baek Hyun bangun! Hey anak gila”

Sudah keberapa kalinya Chan Yeol menepuk-nepuk pipi Baek Hyun yang masih tak sadarkan diri di sofa megahnya. “dia mati?” tanyanya ragu, mengingat tadi sepeda Baek Hyun menabrak keras mobilnya. “mati? Baguslah, dengan begitu sekolah akan tenang”

Chan Yeol mencoba tak peduli, tapi sekali lagi ia merasa khawatir pada Baek Hyun “kalau arwahnya menggangguku bagaimana?”

“hyung..” igau Baek Hyun.

Chan Yeol melirik sekilas tubuh Baek Hyun. “aku lebih muda darimu, jangan panggil aku hyung”

Tiba-tiba Lagu That XXX milik G-Dragon terdengar nyaring dari ponselnya. Oh Se Hun.

Chan Yeol berdiri, dan mulai mencari tempat yang sunyi untuk menerima telepon. taman dekat kolam renang di rumahnya.

“ada apa?” Chan Yeol menempelkan ponselnya ke telinga.

“Appa  ada?” tanya Se Hun di seberang sana. Suara adiknya begitu samar terdengar, di sana begitu berisik. Ada banyak suara orang bercakap di sana. Mungkin Se Hun sedang di dalam bus pulang sekolah, pikir Chan Yeol.

“dia belum pulang”

“kalau pulang, katakan padanya boneka rusa milikku tertinggal di rumah saat terakhir pulang ke rumah” kata Se Hun dengan suara tinggi, mengerti jika di sana memang dalam suasana berisik.

Chan Yeol mengerutkan dahinya bingung. Se Hun selalu membawa boneka pemberian Lu Han kemana-mana, tidak mungkin jika lupa ia tidak membawanya. “kau yakin ada di sini?”

“sangat yakin! Setelah kembali ke sini, aku tidak pernah lagi melihat boneka itu!”

“sebentar” Chan Yeol berjalan sedikit cepat ke kamar yang biasa Se Hun tinggali kalau-kalau pulang dari Jepang di mana ia sekolah.

Sangat biasa jika pintu kamarnya tidak dikunci, karena barang berharga Se Hun semuanya dipindahkan ke Jepang, jadi tidak akan ada yang mencuri atau apapun itu. kecuali boneka rusa yang Se Hun katakan ketinggalan di rumah ini. barang yang paling berharga diantara yang berharga milik lelaki yang baru masuk kelas sebelas.

“benar, ada di sini” kata Chan Yeol ketika ia berhasil menemukan boneka kesayangan Se Hun. Boneka itu ia temukan di bawah ranjang hingga membuat boneka itu sedikit berdebu.

“benarkan apa yang aku katakan, boneka itu ada di sana. Pulang ke Korea nanti, aku tidak akan lupa lagi membawa boneka itu” balas Se Hun.

Chan Yeol hanya berdehem. Ia duduk di tepi tempat tidur Se Hun dan membersihkan sisa debu di boneka itu. boneka yang diberikan Lu Han pada Se Hun.

Setelah bonekanya bersih, Chan Yeol pandangi dengan taat boneka itu.

Tentang Lu Han.

Mantan kekasihnya yang sudah tiada. Dan bodohnya ia tidak menyadari jika adiknya juga memiliki perasaan yang sama pada Lu Han. Bukan hanya itu yang membuat Se Hun begitu marah dan membencinya. Ia telah mengotori Lu Han, membuat lelaki cantik itu mengakhiri hidupnya.

Secara tidak langsung, Chan Yeol yang membunuh Lu Han.

“sungguh, maafkan aku..” lirihnya, tanpa ia sadari ponsel yang dia simpan di samping di mana ia duduk masih tersambung ke tempat Se Hun berada.

“hyung, kau memikirkannya?” tanya Se Hun di seberang sana.

Chan Yeol masih bergeming. Tak mendengar suara nyaring Se Hun yang terus memanggil namanya di sana.

HYUUUUNNGGG!”

“astaga, suara siapa itu?” kaget Chan Yeol ketika mendengar lengkingan di luar.

“Park Chan Yeol, setelah Lu Han hyung, siapa lagi?” tanya Se Hun yang sepertinya mendengar juga teriakan nyaring itu.

“hei, Oh Se Hun! aku tutup sambungannya, sepertinya ada orang gila masuk rumah” kata Chan Yeol yang menyadari asal sumber suara itu, ia menekan tombol merah dan berlari keluar.

Chan Yeol memiringkan kepalanya melihat tingkah Baek Hyundi ruang tengah. Sementara ia berdiri di dekat tangga rumahnya. “seperti kataku, dia lebih baik mati dari pada berisik seperti tadi”

Chan Yeol menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menjejalkan kedua tangannya ke saku celana dan mulai berjalan menghampiri Baek Hyun yang menutup wajahnya.

“hei, Byun Baek Hyun! Waeyo?”

Baek Hyun membuka matanya dan detik berikutnya ia membuka matanya lebar-lebar. “ya! kenapa aku ada di sini? Kau menculikku?”

“ok aku menculikmu dan masih waraskah aku meminta uang tebusan pada ibumu yang__” Chan Yeol menghentikan ucapannya melihat mata Baek Hyun yang melototinya. Ia lantas menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan kikuk “maaf..”

Baek Hyun mengucek matanya yang masih kena efek pingsan tadi. Ia menguap pelan.

“Byun Baek Hyun, kerjakan tugasmu. Jangan tidur! Hei!”

“tugas? Apa? Kau sudah menculikku dan kau juga mau memperbudakku?”

Chan Yeol melirik tumpukan buku di meja dekat sofa yang ditiduri Baek Hyun. “tugas teman-temanku” katanya dengan pengucapan yang santai.

“kenapa harus aku? Mereka punya tangan untuk..”

“foto kau akan mereka sebar jika kau tidak mengerjakannya”

Baek Hyun mendengus sebal. Chan Yeol tentu akan mengeluarkan ancaman yang paling dia agungkan.

“baiklah baiklah. Dasar”

***

Chan Yeol menutup dengan keras komik yang sudah dua kali ia baca dari beberapa saat yang lalu. Ia menoleh sebentar pada Baek Hyun yang masih fokus mengerjakan tugas teman-temannya. “masih belum selesai?”

“sebentar lagi. Kenapa? Kau bosan menungguku? Kau lakukan hal yang tidak membosankan sana! Makan kalau perlu”

Chan Yeol mendesis pelan, ia usap perutnya yang memang dari tadi berteriak minta diisi.

Tidak bisakah mengerti aku menunggu dia untuk memasakkan makanan untukku?_batin Chan Yeol.

“um, Baek Hyun maaf membuat makanan yang kau bawa tadi jadi hancur”

Baek Hyun berhenti menulis, ia pandangi wajah Chan Yeol dengan taat. “aku tidak salah dengar kan? Kau tadi mengucapkan maaf?”

“aku juga manusia Baek Hyun, aku tentu saja tahu cara minta maaf”

“aku belum pernah melihat Park Chan Yeol meminta maaf. Masalah makanan, tidak apa aku bisa memasak lagi di rumah” Baek Hyun mengendikkan bahunya dan kembali mengerjakan tugas Kyung Soo yang belum dia kerjakan, karena tugas Kai dan Lay sudah dikerjakan tadi.

Chan Yeol terkesiap, dia turunkan kakinya yang tadi di atas kursi. “kau memasak saja di sini, sekalian untuk mengganti yang tadi”

“masak? Bahannya?”

“kau hentikan mengerjakan tugas itu. kita keluar”

***

“kau ingin makan apa malam ini?” tanya Baek Hyun dengan tatatapan yang tanpa henti melihat-lihat bahan makanan yang dijajakan di rak yang Baek Hyun sudah hapal betul, mengingat ia sering kemari.

Chan Yeol menyimpan kembali ponselnya ke saku celana pendek yang biasa dia pakai di rumah setelah membalas pesan dari ayahnya. “apa saja, asal bisa dimakan manusia” jeda sebentar. “dan ingat bukan malam ini, tapi sore ini”

Baek Hyun mendengus kesal. “bulgogi?”

“pasta” sambung Chan Yeol cepat, ia berjalan dengan santai ke rak di balik rak yang sedari tadi Baek Hyun perhatikan. Bukan hanya Baek Hyun yang tau seluk-beluk supermarket ini, tapi Chan Yeol juga!

“kenapa tidak dari tadi kau bilang ingin pasta?”

“no no no. Aku ingin pasta, tapi bulgogi juga”

Baek Hyun mengerucutkan bibirnya lucu. Chan Yeol pikirannya benar-benar susah untuk ditebak!

Baek Hyun hanya diam membisu, dan berjalan ke rak dekat Chan Yeol dengan mengacuhkan lelaki itu.

“hei, Byun Baek Hyun!”

Deg

 

 

Mata sipit Baek Hyun membulat sempurna ketika merasakan hangatnya tangan Chan Yeol menggenggam pergelangannya. Ingat, jangan lupakan jika Baek Hyun menyukai Chan Yeol! Dia sudah tidak meragukan perkataannya!

Chan Yeol sudah Baek Hyun patenkan untuk dijadikan orang yang Baek Hyun sayangi setelah ibu dan kakaknya. Meski mustahil Chan Yeol bisa membalas perasaannya.

“a-ada apa?”

Chan Yeol melepas genggamannya. “tidak ada. Kau cari bahannya di sini, aku ambil minum”

Baek Hyun kembali mengerucutkan bibirnya hingga sampai tubuh Chan Yeol tidak terlihat, ia berteriak tertahan. “oh dear, Chan Yeol…. jangan membuatku gila sayang!!!”

Ia tersenyum tipis dan mulai mengambil keranjang belanjanya. “beruntung dia meminta masakan yang bisa kumasak”

Satu persatu bahan yang ia butuhkan ia masukkan ke keranjang. “semuanya sudah ada. Apa lagi ya?”

Kening Baek Hyun berkerut, benar! Ada yang kurang, tapi ap__

Astaga! Saus pastanya!!

Baek Hyun memutar kepalanya mencari tempat di mana biasanya ia melihat saus pasta yang selalu disimpan di rak dekat dia berdiri sekarang. “kenapa tidak ada?”

Baek Hyun mendongak, dan benar saja saus pastanya ada di rak paling atas.  Tidak terlalu tinggi, karena Baek Hyun mungkin masih bisa menggapainya dengan sedikit berjinjit. Tapi masalahnya, tangan dia sakit untuk digerakkan.

Ia sedikit berjinjit, tangannya ia perlahan gerakan. Sedikit lagi ia mencapai ujung bungkus saus pasta itu, tapi tetap saja ia kembali berdiri tegak, tangannya sakit untuk ia gerakan.

“ini”

Mata kecil baek Hyun membulat melihat saus pasta yang tadi ia susah dapatkan ada di uluran tangan seorang lelaki yang __

Baek Hyun mendongak, karena memang kenyataannya lelaki itu jauh lebih tinggi darinya. “Kris?”

Mata elang lelaki itu juga membulat seiring dengan menyadari sesosok lelaki yang dia tolong. “byun.. Baek Hyun?”

Baek Hyun mengangguk cepat. “terima kasih Kris” kemudian ia mengambil saus di uluran tangan kris dan memasukkannya ke keranjang belanjaannya. “kau datang sendiri?”

“seperti yang kau lihat, aku tidak membawa siapapun”

Baek Hyun hanya berangguk ria. Kris termasuk siswa populer  sama seperti Chan Yeol, hanya saja Kris lebih ramah terhadapnya dibanding Chan Yeol yang tidak pernah ramah sedikit pun padanya. Namun tetap saja, Chan Yeol yang menguasai pikirannya.

Lelaki dengan sikap dan perilaku yang buruk. Tapi ia suka.

“Baek Hyun, kau sudah belanjanya??”

Baek Hyun membalikkan badannya dan melihat Chan Yeol yang memeluk beberapa kaleng soda di tangannya. “emm.. sudah selesai”

Salah satu yang berambut karamel hanya berdehem dan memasukkan soda yang tadi ia bawa ke dalam keranjang biru tua yang sedari tadi Baek Hyun bawa. Yang tertinggi di antara mereka bertiga memiringkan kepalanya, ini Baek Hyun, siapa yang satunya lagi? Kepalanya yang menunduk membuat ia tak bisa mengenali lelaki yang tak kalah tinggi darinya. Sampai ketika Chan Yeol mengangkat kepalanya, Kris mundur selangkah karena kaget.

Baek Hyun, bersama Chan Yeol? Ada hubungan apa mereka?

Chan Yeol sepertinya masih tidak menyadari keberadaan Kris, karena nyatanya ia hanya memandang wajah Baek Hyun yang kembali memperhatikan lengkap tidaknya belanjaan mereka.

“Park Chan Yeol?”

Chan Yeol menoleh.

“Wu… Fan?” kening Chan Yeol terangkat sebelah. Kenapa Wu Fan – atau yang sering dipanggil Kris itu – ada di sini??

Kris hanya melempar senyum hangat pada Chan Yeol, meski dalam hati Chan Yeol benar-benar menuduh Kris menyimpan makna dalam senyuman itu. senyuman iblis, pikirnya.

“Baek Hyun, cari lagi bahan yang lain” perintah Chan Yeol dengan mata yang masih bertaut dengan mata Kris.

Baek Hyun yang berdiri di antara dua lelaki yang memiliki tinggi di atas rata-rata menatap kedua lelaki itu bingung. Pasalnya, Chan Yeol begitu melempar tatapan marah pada Kris, sementara Kris hanya tersenyum tipis. Ada apa??

“cepat!”

Baek Hyun menoleh cepat ke arah Chan Yeol. “Tt-ttapi Chan Yeol.. belanjaannya sudah__”

“jangan membantah atau..”

“baik-baik” potong Baek Hyun cepat dengan melesat pergi sebelum Chan Yeol melanjutkan ucapannya. Malu sekali jika Chan Yeol membocorkannya di hadapan orang lain terlebih Kris!

Kini, hanya ada Chan Yeol dan Kris. Yang lebih tinggi tak lagi tersenyum, melainkan membalas tatapan mendidih Chan Yeol.

Kris yang memulai. “setelah Lu Han, Baek Hyun?”

“bukan dia, Lu Han belum pernah tergantikan dan tidak akan pernah”

Sebenarnya mereka salah mengambil tempat untuk berbicara hal yang seperti ini. ini supermarket, tempat umum! Mereka tidak berduli, toh tidak ada yang lewat di sekitar mereka.

“tapi kau begitu dekat dengannya. Ada apa?”

“kau tidak memiliki kepentingan untuk tahu” balas Chan Yeol dingin.

Kris meminggirkan poninya yang sedikit menutupi mata. “kau saja bisa mencampuri urusanku dengan Lay, kenapa aku tidak?”

“kurangajar kau Kris Wu!”

“aku memang kurang ajar, tapi tidak sekurang ajar orang yang telah tidur dengan orang lain”

Bugh!

 

 

Hening.

Semua mata tertuju pada Chan Yeol yang telah melayangkan tinjunya dengan keras pada pipi Kris.

Baek Hyun juga memperhatikan, bersembunyi di antara kerumunan orang di belakang punggung Chan Yeol. Lelaki itu memandang Kris sinis, sementara yang ditatap justru membalas tatapan itu balik dan mengusap sisa darah di sudut bibirnya.

Chan Yeol meremukkan kesepuluh jarinya kesal. “Baek Hyun” Chan Yeol menggerakkan bola matanya ke samping, meski Baek Hyun berada di belakangnya. “kita pulang”

Baek Hyun tersentak di belakang sana dan mulai berjalan kecil ke dekat Chan Yeol dengan masih menenteng keranjang belanjaannya. “a-aayo Chan Yeol”

***

Hening menyeruak.

Baek Hyun juga lebih memilih diam dan  memainkan ujung bajunya. Wajah Chan Yeol masih mengerikan, begitulah pikirnya.

“shit!” Chan Yeol memukul stir mobilnya keras, membuat makhluk di sampingnya sedikit terperanjat kaget.

“hei, kau harus konsentrasi” peringat Baek Hyun sebagai penutup rasa gugupnya. “aku tidak mau mati muda”

“Kris sialan!”

“dia baik” balas Baek Hyun.

“kau tidak tahu dia”

“semua orang di sekolah tahu dia, Prince Kris!”

“kau tidak tahu sikapnya!”

“dia tadi menolongku”

“hanya kebetulan”

“berarti dia baik”

CKITTT

“kau bisa diam? Kepalaku bisa pecah!”

Baek Hyun benar-benar kaget ketika mobil Chan Yeol mengerem mendadak, dan ia tambah kaget lagi ketika Chan Yeol marah padanya. “maaf”

Chan Yeol menghiraukan ucapan itu dan kembali menjalankan mobilnya dengan tenang.

***

Keheningan terus berlanjut, baik Baek Hyun maupun Chan Yeol tak ada yang bersuara. Sampai ketika Chan Yeol sedikit mengeluh dengan membuang nafasnya kesal. “hampir setiap hari aku makan sendiri, tidak ada yang bersuara. Jangan katakan sekarang juga aku seperti seorang diri, dengan tidak ada yang mengajakku mengobrol”

Baek Hyun mengulum senyumnya, sikap Chan Yeol lucu sekali. Dan lagi, pernyataan itu menjadi sebuah pertanyaan besar di otaknya.

Yang benar, sikap Chan Yeol itu seperti apa?

 

 

“tidak baik makan sambil berbicara”

“untuk sekali ini saja Baek Hyun”

“jika aku membuka mulut, kau pasti tahu apa yang pertama kali aku katakan”

“Kris?”

“kau pernah satu sekolah sebelumnya? (smp)” Baek Hyun yang memulai pertanyaannya kemudian ia memasukkan kembali pasta yang hanya tinggal separuh piring lagi.

Chan Yeol sedikit mengambil nafas. “ya, kami pernah satu sekolah sebelumnya”

Mata yang lebih sipit itu memicingkan matanya. “kau begitu membencinya begitu pun sebaliknya, apa jangan-jangan dia punya dendam terhadapmu?”

Prang

 

 

Mata sipit Baek Hyun membulat ketika mendengar bunyi dentingan keras sendok yang berbenturan dengan piring. “aku yang mempunyai dendam padanya bukan dia” ia tatap kedua bola mata Baek Hyun. “dan lagi, kalau kau menyukaiku bisakah untuk tidak membuatku kesal?”

Baek Hyun menunduk takut. Dan Chan Yeol melihatnya, dan kembali ia diliputi rasa bersalah ketika sosok Baek Hyun terlihat seperti sosok Lu Han.

“berhentilah menyukaiku. Percayalah, aku bukan orang baik”

Baek Hyun mendongak, menatap bingung Chan Yeol yang kini berdiri dan mengusap surai hitam kecokelatan Baek Hyun.

“karena manusia tidak ada yang sempurna, sebut saja aku jahat, tapi aku juga tentu saja pernah berbuat kebaikan. Contoh saja, mengembalikan kursimu waktu itu, memesankan minuman, dan.. apalagi ya?” Chan Yeol diam dan melihat mata Baek Hyun yang terlalu meminta ia untuk melanjutkan ucapannya. “oh baiklah, kau aku antarkan pulang”

***

Chan Yeol menjejalkan kedua tangan ke saku jaket hijaunya dan mengamati sekeliling. “ini, rumahmu?”

“ya, peninggalan appa satu-satunya” jawab Baek Hyun yang kini tengah mencari kunci rumah di tasnya.

Chan Yeol memiringkan kepalanya, dia kira Baek Hyun itu yaaa anak dari orang yang tidak mampu, ternyata__ rumahnya saja hampir menyerupai rumah megah miliknya.

“kemana kuncinya??” Baek Hyun menatap jengkel tasnya sambil terus menggali mencari kunci pintu depan rumahnya.

“kuncinya ada di__” mendadak Chan Yeol menghentikan pengucapannya kala kakinya merasakan sesuatu yang berbulu di bawah sana, kepalanya menunduk dan memicing melihat makhluk berkaki empat di bawahnya.

“kuncinya ada di mana Chan Yeol?” tanya Baek Hyun, namun Chan Yeol masih bergeming menatap ke bawah.

“guk guk guk”

“aaaaaaaaaaaa singkirkan dia darikuuu!!” pekik Chan Yeol sambil meloncat ke arah Baek Hyun dan bersembunyi di balik punggung sempit namja itu.

Baek Hyun mengerjap kaget, membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Otaknya berkutat mencari penjelasan, kenapa seorang Park Chan Yeol takut pada anjing rumahan?

“Park Chan Yeol..”

“apa? Aish kau buang jauh-jauh anjing itu”

Baek Hyun menarik nafasnya dalam-dalam dan berjongkok memangku Baekkie – anjing peliharaannya. “kau takut anjing?”

“tidak” elak Chan Yeol cepat.

“benarkah?” tanya Baek Hyun dan berbalik menghadap Chan Yeol sambil masih memangku anjingnya.

“Byun Baek Hyun singkirkan!!”

“baiklah-baiklah” Baek Hyun tersenyum dan kembali berjongkok melepaskan Baekkie, ia kembali berdiri. “kenapa kau takut anjing?”

“dia musuh Baekyeol” jawab Chan Yeol lesu. Ketahuanlah di mana kelemahan sosok perfect Park Chan Yeol. Di seekor anjing?

Baek Hyun mengerutkan keningnya. “Baek… Yeol? Siapa?”.  Ia mengulum senyumnya. Yeol untuk nama Chan Yeol,  kalau Baek?

Hanya hal sederhana itu saja membuat pipinya memanas. Bahkan anjing yang ia beri nama Baekkie adalah nama kecilnya.

“dia kucingku” Chan Yeol mengusap dadanya dan mengontrol nafasnya. “aku pulang dan kucingmu ada di bawah”. Ia memposisikan matanya ke bawah memberi isyarat pada Baek Hyun. Tapi sepertinya Baek Hyun masih bergeming.

Terus seperti itu, bahkan ketika Chan Yeol sudah menghilang.

Ia mengerjap dua kali, baru ia sadar Kaimana sosok pangerannya dan baru sadar juga ia melupakan pertanyaan yang dari tadi ia simpan ketika dalam mobil.

Kenapa, ia tidak melihat orang lain di rumah Chan Yeol?

***

“eomma, aku berangkat!” seru Baek Hyun dari luar kamar ibunya.

Ia tersenyum tipis meski tak tahu apakah ibunya dengar atau tidak seruannya. Ia mengendikkan bahunya dan kembali memapah sepedanya – yang kemarin ditabrak Chan Yeol – dari dalam rumah.

Klek

 

“SELAMAATTT PAGII BYUN BAEKHYUN!!!”

Baek Hyun menutup mulutnya cepat yang sempat terbuka. apa-apaan ini?

Kai? Lay? Juga… kenapa Kyung Soo ada di sini?

“ayo Baek Hyun kita berangkat sekolah!” seru Kyung Soo riang dan Baek Hyun lebih bingung lagi dengan sikap Kyung Soo yang bergelayutan di lengannya.

Baek Hyun memperhatikan satu-satu dari mereka bertiga.

Bertiga??

Baek Hyun baru ingat! Kemana Chan Yeol?

“ayo Baek Hyun kita pergi! Chan Yeol sudah menunggu di mobil”

Oh di mobil…

 

 

Baek Hyun tak berkata ia hanya melangkahkan kakinya yang dituntun oleh Kyung Soo.

Ia berpikir.

Bukan hanya Chan Yeol saja yang mempunyai dua kepribadian, tapi teman-temannya juga. Apa semua orang yang berhubungan dengannya akan begitu? Memiliki dua kepribadian yang berbeda. Baek Hyun juga?

Dan ketika semuanya seperti ini, membuat Baek Hyun ..

Ingin terus mencari tahu siapa Chan Yeol sebenarnya.

TBC

Selamatttt yang waktu itu jawab Lu Han!!!!!!! Kaliaaannn benarrrr!!!!!

Yang setia nunggu ff ini comeback telor terima kasiiiihhhhh *muncrat* bangetttzzz *edisi alay*

Telor sibuk bener demi apa, telor kan kelas 3 SMP getoohh jadi kan sibuk UN, US, UP blahblahblah

Eh eh tau gak *ngegosip*

TELOR JADI SUKAAA CHANLU AAAAAA!!! MACEM MANA INI??? liat momen-moment mereka yang di idol champion itu dooohh sukses bikin telor ketawa-ketiwi >.<

Tapi telor gak bakal lupain momen BAEKYEOL YANG RAAWWWRRR di sana.

Phoenix gimana nih? Mau gak telor bikin ffnya??? Kalo gak mau yaudah tinggal delete aja di kompi, padahal udah jadi. Tapi yang ini dulu ya disharenya😉

Ada Kritik dan saran? Silahkan di koment!

KAMI CINTA SAYA!!!!!

Categories: AU, ChanBaek, chapter, Drama, Family, Friendship, HunHan, Hurt/Comfort, kaisoo, Romance, T, Uncategorized | Tags: , , , , , , , | 65 Comments

Post navigation

65 thoughts on “PARTITION//CHANBAEK FANFIC [CHAP 2]

Comment navigation

  1. Puji KKF

    Kok yeollie~gitu sihh

  2. baekkie saranghae

    kkkyyyyaaaa ff nya Daebak abis thor kece-kece … feel nya dapet banget thor good job (y) .. kepo ama kelanjutannya ..jebal cepet lanjut nee !🙂
    .. fighting ne😉 ditunggu lho😀

  3. karina

    Keren keren, tapi Chanyeol dkk napa baik-jahat gitu xD .Ah ngakak waktu Kai marah-marahin Chanyeol di Kantin.

  4. parkbyun

    Thor gue udh sering mampir sni nyri chap 3 nya, tp kok belom lnjut2 si thor. Ayo dong thor lnjut jebal #minjem buing buing sehun# d cium luhan. Eeeeh kn gue kn chanbaek shipper….. di cium chanbaek aja deh….

  5. Chanyeol sama kaya aku wakakak keren!

  6. MInnnnnnnn lanjutin dong!!!!!!!!!
    Udah ngebet ga sabar pengen baca!!!!!
    JEBALLLLLL

  7. Lee Mi Young

    Wah, aku padahal baru aja ngikutin nih ff, ffnya daebak bgt, aku jadi makin cinta sama BaekYeol couple ^^

  8. annyeooooong readers baruuu… salm knal telooor…

    lanjuuut donggg. kasian bgt sm baekhyun😦
    telor jahat iih bikin baekhyun kya gituu… hiks

    lanjuut ttp smngat utk ngelanjutinnya ya thoor🙂

  9. Oh Nara

    ini chapter 3 nya mana siih ??
    aku itu udah sering cek, tapi chap.3 nya gak nongol” juga, kan kasian readersnya pada karatan nunggu chap 3 nya, udah mau setaun jugaa, mohon di post ya chap 3nya chinggu, gidarilkeyeoooo —-

  10. blo

    Bagus banget🙂 Lanjut dong🙂

  11. vina

    next palli ..
    ditunggu ne ^^
    daebak buat story nya ….

  12. Shennyshey

    daebak ^^ suka sama ni ff.. Lanjut thor lanjut.. Aku juga penasaran kelanjutannya.. Gak cuma baekhyun yg penasaran sama siapa chanyeol sebenernya… Uwoo.. Gak sabar X)

  13. jung ji kyung

    lanjutanya ada gak thor?
    aku suka ma ff ini, daebak bgt \^o^/
    salam knal, aku reader baru🙂

  14. Jd crtny chanhun suka sm luhan? Tp kenapa yeol meniduri luhan dan luhan bunuh diri? Apa sbnrny luhan jg menyukai sehun. Trz kpn nic yeol bs tw kalo baek adikny luhan. Trz kris itu jg apa ada hubungan ny sm chanlu shgga dy tw kelakuan chanyeol

  15. Yang ini satu lagi! Ahhh… Gila aku lama-lama, aku jatuh cinta sama ff ini. Ini bener-bener luar binasah. Secetar jambul mpok rini!!

Comment navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: