PARTITION//CHANBAEK FANFIC [Prolog + Chap 1]

PARTITION [prolog + Chap 1]

Author: Hyominstal a.k.a EggCheese *lain kali musti inget kalo nama telor ganti*

Genre: romance, friendship, family, school life.

Cast: Park Chan Yeol

Byun Baek Hyun

Kim Jong In

Do Kyung Soo

Zhang Yi Xing

Oh Se Hun

Other: mau tau aja atau mau tau banget? Cari aja ndiri, telor males nyarinya -_-

Length: chapter

Disclaimer: KESELURUHAN CERITA MILIK TELOR SEUTUHNYA!! Castnya bukan milik telor, tapi kalau bisa Chan Yeol bisa gak kasih ke telor?? *watados*

a.n: aih! Nanti ganti, bukan a.n tapi T.N kan telor note ceritanya, Kwak😀 *becanda ding*. Ini ada ide baru, dari pada gak ditulis kan sayang. Yaudah telor tulis aja, maunya sih twoshoot, tapi ini konflik banyak banget, jadi 3 dor (?) gak mungkin deh.

Yaudah… monggo dibaca!!

.

.

Partition

 

Prolog

.

.

Ada sesuatu yang kusembunyikan sejak dulu

 

 

Semuanya, tentang kau…

 

 

Banyak alasan kenapa aku tidak bisa mengatakannya.

 

 

Aku takut, jika aku mengatakannya, kau akan pergi…

 

 

Aku takut jika kau berubah

 

 

Tidak akan pernah tersenyum padaku dan mempercayaiku

 

 

Perasaan yang begitu menyiksaku

 

 

Tolong, bantu aku..

 

 

Aku tidak bisa menyimpannya sendiri.

 

 

Aku juga takut kau akan menjauhiku..

 

 

Bisakah selamanya aku simpan?

 

 

Tidak…

 

 

Lama-lama kau akan tahu apa yang aku rasakan..

 

 

Begitu jauh tanganku untuk menggapaimu..

 

 

Begitu tebal sekat yang memisahkan kita..

 

 

Sekat yang begitu susah untuk hilang.

 

 

Karena sekat itu, berasal dari hati…

 

 

Tetaplah bersamaku..

 

 

Di sisiku, selamanya…

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Chapter 1

.

.

BAEKHYUN mengedarkan pandangannya pada sekeliling. Bumi tempat ia berpijak masih sama, sekolahnya juga masih sama seperti pertama kali ia sekolah di sini. Hanya saja… ada yang beda.

 

Jika sebelumnya semua siswa di sini melihatnya sebagai siswa yang berprestasi, sekarang tidak lagi. Mereka menatapnya dengan yang Baek Hyun definisikan, itu tatapan jijik. Kejadian ini sudah berlangsung 1 tahun yang lalu.

Ia menghentikan langkahnya. Hanya sebentar lagi, maka ia akan lulus dari sekolah ini. Mata sipitnya memperhatikan kerumunan siswa yang berlalu-lalang, sembari menatapnya. Tatapan itu lagi. Baek Hyun merasa ada yang menabraknya dari belakang. Sebelum Baek Hyun sempat menggumamkan permintaan maaf, seseorang yang berjalan dari arah berlawan menyenggol bahunya. Baek Hyun terdorong mundur beberapa langkah dan terjatuh karena kakinya menyandung sesuatu.

Ia.. malu sekali. Semua mata memandang ke arahnya karena jatuh beberapa meter dari gerbang sekolah, sehingga banyak siswa yang melihat. Iya jadi ingat sebelum jatuh tadi ia sempat menendang kaki seseorang. Ia mendongak, melihat siswa laki-laki berpostur tubuh sempurna tengah menunduk, menatapnya juga.

“hey, anak gila! Kau tak seharusnya menghalangi jalanku”

Mendengar suara itu, Baek Hyun menunduk. “maaf.. tadi aku..” Baek Hyun berusaha menjelaskan begitu tubuh kecilnya kembali berdiri. Lihat bagaimana ia harus mendongak lagi melihat lelaki itu walau ia sudah berdiri.

Laki-laki itu sepertinya tak ingin mendengar penjelasan Baek Hyun. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan berdecak kesal sebelum akhirnya tubuh tinggi itu menjauh. Syukurlah Chan Yeol – siswa tadi tidak menatapnya seperti kebanyakan orang.

Tapi Baek Hyun yakin, sebenarnya Chan Yeol mengetahui berita itu. Hanya saja.. lelaki itu sepertinya tidak ingin peduli dengan berita tentang kegilaan ibunya Baek Hyun.

Itu.. sudah menjadi rahasia umum di sekolah ini. Bahkan ada sebagian orang luar sekolah ini tahu tentang masalah itu. Ibu Baek Hyun yang gila, tapi kenapa semua orang mempermasalahkannya? Baek Hyun tak mengerti akan itu. Kebahagiaannya lenyap satu tahun yang lalu karena seseorang yang tidak ia kenal dan begitu ingin lenyapkan dari dunia ini.

***

“Hey! Park Chan Yeol! Kau berjalan cepat sekali..” lelaki berkulit cokelat terang itu menggerutu kesal dan merangkul pundak Chan Yeol akrab.

“dari tadi aku ada di depanmu Kai” kata Chan Yeol ringan. “kau jalan terlalu lambat”

Kai hendak membuka mulut, tapi tidak jadi.

“kenapa? Kau mau mengatakan apa?” tanya Chan Yeol yang sepertinya mengerti sekali temannya akan berbicara. “aku perkirakan.. kau akan mengatakan kejadian tadi?”

Kai mengatupkan mulutnya. Pernyataan Chan Yeol, memang benar semua. “ya.. hey.. sikapmu pagi ini berubah, karena namja tadi merusak moodmu?”

Chan Yeol sedikit membenarkan tata letak tas punggungnya, dan berdecak pelan. “anak gila itu..”

“ibunya yang gila.. anaknya tidak” ralat Kai yang mungkin sudah berpuluh kali ia lakukan karena Chan Yeol lebih sering memanggil Baek Hyun dengan anak gila di hadapannya.

Chan Yeol memasang tampang seolah berpikir keras, padahal sebenarnya Kai tahu apa jawabannya. Tentu saja masih jawaban yang sama. “sama saja… anak itu juga gila karena berani menyukaiku.. orang yang mustahil ia miliki”

Lelaki berkulit cokelat terang itu merinding mendengar penuturan Chan Yeol. “kau seperti tahu saja kehidupan di masa mendatang. Bagaimana kalau Baek Hyun bisa memilikimu? Kau akan termakan ucapanmu sendiri”

Chan Yeol menyipitkan mata bulatnya. “aku? Tidak akan! Aku tidak pernah bermimpi untuk mempunyai kekasih yang ibunya gila”

Kai mengangguk cepat. “tentu kau tidak memimpikannya, karena kau akan menjalaninya” sahutnya ringan.

“sialan kau Kim Jong In!”

“aku juga menyayangimu Park Chan Yeol..” canda Kai.

Mereka kembali melanjutkan langkah. Tapi hanya beberapa langkah. Karena setelahnya ada Kyung Soo datang menghampiri mereka. Ah tidak, bukan mereka! Tapi lebih mengkhusus pada Kai sepertinya.

“Chan Yeol.. aku pinjam Kai ya..” ujar Kyung Soo basa-basi sekedar izin, walau sebenarnya itu tidak perlu.

Chan Yeol menyeringai, setidaknya mengerjai salah satu temannya pagi ini cukup menarik. “tidak boleh”

Kyung Soo menautkan kedua alisnya bingung. “kenapa?”

Chan Yeol mencondongkan kepalanya ke depan dan mulai berbisik pada Kyung Soo, meski bisikan itu bisa didengar dengan jelas oleh Kai. “karena Kai menyukaiku”

“MWOYA?!” kaget Kyung Soo.

Yang dibicarakan, membulatkan mulutnya mendengar pernyataan Chan Yeol barusan. Ingin sekali Kai menjambak rambut Chan Yeol itu karena sudah berani mengklaimnya sebagai… ah. Ia tidak pernah sekali pun bermimpi menyukai anak setengah waras seperti Chan Yeol.

“dia milikku Kyung Soo-ah”

Kyung Soo menutup mulutnya tidak percaya. Ia pikir Chan Yeol hanya bercanda, tapi nyatanya.. lelaki itu bahkan terlihat serius. Chan Yeol sama sekali tidak tertawa, dan lagi.. itu berarti ia tidak bercanda. Kepala Kyung Soo langsung berputar ke arah Kai yang masih dalam ekspresi yang sama.

“kai…” panggil Kyung Soo lirih, membuat Kai jadi bingung sendiri harus bagaimana. Gara-gara manusia tinggi ini. Sialan!

 

“a-ah Kyung Soo kau salah paham.. aku tidak mungkin menyukai Chan Yeol. Bermimpi pun aku tidak sudi” Kai menggaruk tengkuknya dan menatap tajam Chan Yeol setelahnya.

Chan Yeol tersenyum jahil dan menaik-turunkan kedua alisnya menggoda Kai. “tentu kau tidak memimpikannya, karena kau akan menjalaninya” sahutnya mempraktekkan gestur tubuh Kai saat tadi mengucapkan kata yang sama.

“jadi kau mengerjaiku Chan Yeol?” tanya Kyung Soo meyakinkan. Chan Yeol mengangguk cepat. Lagi, ingin rasanya Chan Yeol tertawa keras melihat ekspresi Kyung Soo yang sepertinya marah dan kesal karena ia kerjai.

“lihat! Kau membuatnya sedih Park Chan Yeol” geram Kai.

Chan Yeol memasang tampang seperti orang kaget. “mwo? Kau sedih Kyung Soo? Sini aku cium” Chan Yeol memajukan bibirnya dan mulai mendekatkan wajahnya terhadap wajah Kyung Soo yang tidak mengerti dengan maksud Chan Yeol.

“singkirkan bibirmu dari kekasihku Park Chan Yeol” Kai menempelkan telapak tangannya pada bibir Chan Yeol. Membuat lelaki tinggi itu mencium telapak tangan Kai. “kau mau berciuman? Sana sama anak orang gila itu!”

Chan Yeol mengacungkan telunjuknya dan menggerakkannya. “no.. no.. no.. kau yang bersamanya, aku bersama Kyung Soo” balasnya. “eh jangan.. aku sama Kai saja, biar Kyung Soo bersama anak gila itu”

“tutup mulutmu!” gertak Kai. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Kyung Soo di sampingnya. “ayo kita pergi Chagi”

Kembali Chan Yeol heboh sendiri. “so sweet sekali kau memanggilku seperti itu Kai” kemudian Chan Yeol mengerjapkan mata sebelah kirinya berkali-kali pada Kai.

Kai menaikkan bahunya dan menggeleng cepat sebelum akhirnya ia menarik tangan Kyung Soo dari sana.

Baru saja Chan Yeol hendak melangkah kembali, ponselnya bergetar. Ia mengeluarkannya dan melihat tulisan yang muncul di layar. Pesan singkat dari adiknya. Begitu melihat isi pesan itu, alis Chan Yeol berkerut samar, dan setelahnya ia tersenyum tipis melihat sederet kalimat singkat itu : selamat pagi kakak ku yang menyebalkan! Dari adik yang sangat membencimu, Oh Se Hun

 

“dasar.. anak itu kapan menjadi dewasa” Chan Yeol berbicara pada ponsel yang di pegangnya.

***

Chan Yeol masuk ke dalam kelasnya dan matanya langsung terpaku pada sederet kalimat hangul yang ditulis di papan tulis.

Baek Hyun, anak orang gila.

 

 

Chan Yeol menutup mulutnya, menahan tawa. Siswa di kelas ini, bahkan sekolah ini hanya tahu sosok Chan Yeol yang bisa dibilang tenang dan tidak ingin ambil pusing. Beda dengan Chan Yeol saat bersama Kai, Kyung Soo dan Lay.

Ia mencoba menghiraukan tulis-tulisan di papan tulis dan mulai melangkah menghampiri kursinya yang ada di dekat jendela itu. Jangan lupakan, kursinya juga bersisian dengan kursi milik Baek Hyun yang kini tidak ada di sana. Ia tidak ingin tahu ke mana perginya kursi itu, tapi sepertinya siswa di kelas ini tahu. karena Chan Yeol yakin, merekalah yang menyembunyikannya.

Ia menyimpan tas punggungnya di meja yang memang menempel pada kursinya, dan mulai mendudukkan tubuh tingginya. Ia melempar pandangannya ke jendela dan melihat pemandangan di luar sana.

Jendela itu memiliki ukuran lebar yang besar. Hingga dalam keadaan duduk seperti ini, Chan Yeol bisa melihat alam di luar sana. Termasuk universitas yang tidak terlalu jauh di sana. ia merasa ada yang kurang ketika melihat universitas itu. Ada yang mengganjal di hatinya, membuat hati itu… sesak.

“a-apa.. yang.. kalian lakukan?”

Chan Yeol mengalihkan pandangannya melihat sosok mungil yang masih berdiri di ambang pintu dengan tatapan tak lepas dari papan tulis.

“kami? Menulis apa yang seharusnya kami tulis… dan bukankah jika itu tidak berbohong, maka baik. Dan kami tidak berbohong menyebutmu anak orang memiliki kelainan jiwa”

Chan Yeol tersenyum tipis mendengar pernyataan telak dari salah satu temannya. Ia kembali memandang universitas yang berdiri kokoh di sana, menghiraukan recokan demi recokan yang mampir di telinganya.

Sudahlah, ia tidak mau mendengar itu…

Hatinya jauh lebih penting.

Hati yang sepi, dan tak berpenghuni. Karena penghuninya, sudah pergi.

***

“kami? Menulis apa yang seharusnya kami tulis… dan bukankah sonsaeng mengatakan jika jujur baik. Dan kami tidak berbohong menyebutmu anak orang memiliki kelainan jiwa”

Baek Hyun mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat. Penyataan itu… membuatnya ingin segera mencakar rambut siswi itu. Siapa yang tidak tahan ibunya di caci seperti itu?

“bukan.. aku yang menginginkan ini semua seperti ini..” lirihnya. Semua orang di sana bukan diam terharu mendengar suara parau Baek Hyun malah ribut, bahkan ada yang mencaci Baek Hyun.

“kau tidak pantas sekolah di sini..”

“menyingkirlah Byun Baek Hyun!”

“kau hanya membawa nama buruk sekolah ini”

Bahkan, tidak ada seorang pun yang peduli pada jasa yang telah ia berikan pada sekolah ini. Prestasi akademik dan nonakademik yang sering ia dapatkan.

Baek Hyun memutar kepalanya tempat yang seharusnya ada kursinya di sana, di dekat Chan Yeol. Kursinya tidak ada di sana. sudah dipastikan kursinya disembunyikan lagi. Sudah terlalu sering kejadian ini terjadi, dua hari sekali mereka melakukannya.

Ia menghampiri tempat kosong di samping Chan Yeol yang masih memandang keluar jendela.

Banyak siswa yang menertawakannya karena melihatnya menatap sendu tempat yang seharusnya ada kursi miliknya di sini. Hari ini, ia akan belajar di lantai.

“kembalikan kursi itu..” interupsi datar Chan Yeol, masih memandang keluar jendela. Detik berikutnya, kepala lelaki itu menoleh pada Baek Hyun dan sekumpulan orang itu.

Baek Hyun tersenyum sumringah, Chan Yeol… baru kali ini membelanya seperti itu.

Hening.

Suara Chan Yeol yang begitu pelan, membuat Baek Hyun awalnya tidak yakin semua yang ada di sana akan mendengarnya. Tapi nyatanya salah, mereka bahkan terlalu berlebihan memperhatikan suara Chan Yeol. Jangan heran, karena Chan Yeol di kelas hanya akan berbicara sedikit. Karena perhatiannya, akan tertuju pada universitas itu. Belum lagi, Chan Yeol termasuk siswa yang populer di sekolah ini.

“kembalikan..” Chan Yeol kembali mengulangi perkataannya. Sebelah alisnya terangkat.  “tidak mau?”

Masih diam.

“baik.. anak gi—ah Baek Hyun, kau tempati kursiku” Chan Yeol buru-buru meralat ucapannya dan kembali melanjutnya. “aku keluar”

Baek Hyun benar-benar tidak bisa berkedip. Ia hanya terpaku pada sosok yang ia kagumi di kelasnya. Sosok yang menurutnya nyaris sempurna. Ia menyukai semua yang ada pada Chan Yeol… benar.. semuanya ia suka.

“tunggu Chan Yeol… kau ambil saja kursiku.. aku akan keluar”

Pergerakan tangan Chan Yeol yang awalnya ingin menggendong kembali tasnya terhenti. Siswi yang tadi mulai menyulut emosi Baek Hyun sepertinya tidak menginginkan Chan Yeol membencinya. Chan Yeol menyeringai tipis.

***

“kudengar tadi kau membela Baek Hyun, benarkah?” tanya Kai antusias ketika mereka – Kai, Chan Yeol, Lay dan Kyung Soo berada di kantin.

“hanya sedikit” Chan Yeol memposisikan jari telunjuknya nyaris menempel pada jempol.

“tapi sepertinya dia menganggap ini terlalu berlebihan” kata Kai yang kembali meminum minumannya. Berita tentang Chan Yeol yang membela Baek Hyun langsung menjadi booming di sekolah ini.

Chan Yeol mengusap dagunya dan berpikir. “benar… aih.. bagaimana kalau dia menyangka aku membalas perasaannya? Aku hanya…”

“jangan percaya diri terlebih dahulu..” potong Kyung Soo. Ia menatap Chan Yeol tajam. “memang dia sudah mengatakan dia menyukaimu, Chan Yeol?”

Chan Yeol mengangkat bahunya. “tidak.. bukan! tapi belum” jawabnya menyombongkan diri.

“kenapa sekarang kau terlihat ingin sekali Baek Hyun menyukaimu Chan Yeol?” tanya Lay yang sepertinya penasaran dengan kisah Chan Yeol. Hanya Lay satu-satunya di antara mereka yang tidak begitu peduli dengan hubungan Chan Yeol dan Baek Hyun. Ia mengerutkan dahinya. “jangan-jangan kau..”

“apa?! Tidak, bukan begitu Lay hyung” Chan Yeol berusaha mengelak ucapan Lay. Tapi Kai malah menggodanya dengan menaik-turunkan alisnya. “diamlah Kai..”

“kalau bukan begitu, jadi bagaimana?” Lay melipat kedua tangannya dan menatap Chan Yeol tajam.

“tunggu.. kenapa kalian menatapku seperti itu? Hey… aku tidak punya… aahhh aku tidak akan pernah menyukai anak gila itu”

“benarkah?” tanya Kai yang saat ini mencondongkan tubuhnya ke depan, memperhatikan Chan Yeol yang sedikit gugup.  “kau gugup”

Kyung Soo melirik Baek Hyun yang saat itu tengah berjalan sembari membuka roti yang sepertinya baru ia beli. Ia sedikit menyeringai dan kembali menatap Chan Yeol. “kalau begitu, apa yang akan kau lakukan dengan ini?”

Puk~

 

 

Roti yang baru separuh di makan namja cantik itu ia lempar ke ke kepala Baek Hyun membuat tiga orang namja di sana menatap Kyung Soo kaget.

“kau kenapa Chagi?” bisik Kai yang sepertinya bingung akan sikap kekasihnya.

Baek Hyun yang berdiri tidak jauh dari mereka mengusap rambutnya yang sepertinya kotor. Bahkan ia merasa menyentuh cairan kental yang mungkin saja itu cokelat karena Kyung Soo baru memakansetengahnya. Otomatis cairan cokelat itu keluar dan mengenai rambutnya.

Baek Hyun melihat ke sekeliling. Syukurlah tidak ada yang memperhatikan bahkan menertawakannya. Ia membelokkan kakinya dan berlari ke toilet di pojok sana.

“kenapa kau…” Chan Yeol tak melanjutkan pertanyaannya. Sebaiknya ia diam saja, dari pada mereka salah paham dengan menyebutkan ia ‘khawatir’ pada Baek Hyun.

“Chan Yeol.. kau ingin mengerjai anak gila itu kan?”

Chan Yeol mengangguk meski bingung ke mana arah pembicaraan Kyung Soo. “kau.. mau apakan dia?”

Kyung Soo menarik nafas dalam-dalam. “kita masukkan dia ke kelompok..”

“APA?!” teriak Chan Yeol, Kai, dan Lay bersamaan. Bahkan Kai sempat tersedak minumannya mendengar omongan Kyung Soo.

“jangan kaget dulu. Kita masukkan dia untuk kita manfaatkan saja” Kyung Soo memberi jeda sebentar dan tersenyum tipis melihat ekspresi ketiga temannya. “aku tidak sudi memasukkan dia ke kelompok. Ini untuk main-main saja. Kita suruh dia untuk melakukan sesuatu yang kita inginkan dengan mengancamnya”

Chan Yeol mencondongkan kepalanya ke samping dan mengernyitkan dahinya. “memang dia mau?”

“jelas saja tidak. Kita paksa dia” Kyung Soo menatap Chan Yeol lamat. “kau susul dia ke kamar mandi.. buat dia semakin tergila-gila padamu”

***

Baek Hyun menatap pantulan dirinya di cermin besar wastafel. Benar, rambutnya sedikit kotor. Ia membasuh tangannya yang memang juga kotor karena menyentuh cokelat di rambutnya.

Matanya bergerak ke samping, masih menatap kaca besar di depannya. Kini bukan hanya ada dia di sana, tapi Chan Yeol. Lelaki itu juga tengah membasuh tangan dan mukanya. Sedikit lama, dan itu… menyenangkan. Sebut saja, Baek Hyun menyukai Chan Yeol.

Chan Yeol mengusap sudut bibirnya yang masih bersisa makanan di sana. Baek Hyun tersenyum, berada sedekat ini dengan Chan Yeol membuatnya tidak bisa mengontrol diri. Dan jangan lupakan, mereka berada di ruangan ini hanya berdua, pipinya terasa panas.

Baek Hyun tersentak ketika kulit lengannya menyentuh permukaan kulit lengan Chan Yeol. Hangat. Ini, bukan kesengajaan. Malah Chan Yeol yang mulai. Tidak! Baek Hyun semakin gila pada lelaki itu.

“ah maaf..” tangan Chan Yeol bergerak ke kepala Baek Hyun bagian belakang, dan mengusapnya. “ada sedikit noda” dan berlalu begitu saja meninggalkan Baek Hyun yang kini memegang rambutnya sendiri dan tersenyum lebar.

“aku bisa gila..”

***

Chan Yeol berhenti melangkah keluar kelas dan mencondongkan kepalanya ke samping melihat namja mungil itu berusaha berteriak, padahal mulutnya tengah dibekap oleh Kyung Soo. Bibirnya tertarik sebelah, menunjukkan seringaiannya.

Semua siswa di kelas ini sudah pulang, kecuali ia dan Baek Hyun yang ada jadwal piket hari ini.

Chan Yeol bisa dikatakan siswa yang pintar, membuatnya bisa berada di kelas favorite. Berpisah dengan ketiga temannya yang menghuni kelas nyaris terakhir.

“aku masih tidak mengerti” kata Chan Yeol yang semakin aneh ketika ketiga rekannya menyeret tubuh kecil Baek Hyun dari sana. ia membasahi bibirnya dan mulai mengikuti empat orang itu.

Di sebuah ruangan gelap dekat dengan pintu atap sekolah. Rupanya di sana mereka menghentikan langkahnya dan mendorong tubuh Baek Hyun ke pojok ruangan.

Chan Yeol masih berdiri di luar ruangan. Sebenarnya ketiga rekannya tahu ia ada di sana karena inilah rencana mereka. Ia hanya perlu menunggu namanya dipanggil oleh salah satu temannya dan menjalankan aksinya.

Pintu itu tidak sepenuhnya menutup, Chan Yeol juga bisa melihat bagaimana raut wajah Baek Hyun yang ketakutan melihat temannya. Ruangan ini sebenarnya sudah tidak digunakan lagi, hingga tidak ada yang bisa melihat ‘kegiatan’ mereka. Bahkan Chan Yeol tidak mengerti kenapa ruangan gelap ini begitu ditakuti seluruh siswa. Karena pernah ada salah satu siswi yang meninggal di ruangan ini.

Kembali kepalanya melongok ke dalam ruangan yang hanya diterangi oleh ventilasi kecil di atas. Ia masih bisa melihat Baek Hyun yang berusaha melepaskan pegangan tangan Kai dan Lay di masing-masing pergelangan tangannya.

Ia masih tidak mengerti dengan rencana Kyung Soo yang akan melibatkan Baek Hyun di kelompoknya. Matanya membulat sempurna, dan detik berikutnya, tangan Chan Yeol menutup mulutnya yang menganga. Oh tidak! Kenapa Kyung Soo tiba-tiba saja membuka kancing seragam Baek Hyun??

Dada Baek Hyun sudah terekspos karena Kyung Soo sudah membuka tiga kancing atasnya. Chan Yeol menelan air liurnya susah payah. Ia membasahi bibirnya yang terasa kering karena melihat kejadian itu.

Jangan katakan, Kyung Soo akan memperkosa Baek Hyun! Chan Yeol tidak bisa membayangkannya.

Chan Yeol melihat Baek Hyun yang kini memejamkan matanya. Masih dengan perlawanan yang ia lakukan, mencoba melepaskan diri dari Kai dan Lay yang menjerat tangannya.

Benarkah? Kyung Soo akan memperkosa Baek Hyun?

Kenapa hatinya seolah tidak rela?

Ada sesuatu pada diri Baek Hyun yang membuatnya merasakan kehadiran sosok itu. Membuat ada setitik perasaan tidak rela Baek Hyun diperlakukan seperti itu.

Sosok, yang begitu melekat di hatinya di masa lalu.

***

Sudah berulang kali Baek Hyun menanyakan apa tujuan ketiga orang di depannya. Wajahnya sudah pucat, sementara kakinya menyeret tubuh mungilnya untuk mundur. Bahkan untuk sekedar berdiri, tenaganya sudah habis karena takut. Ia masih terduduk di sana. semakin ia mundur, ketiga orang itu juga mendekatinya.

Ia… takut.

Lebih-lebih ketika kedua pergelangan tangannya kini dicengkeram kuat oleh dua orang lelaki yang ia tahu namanya Kai dan Lay. Baek Hyun kenal, ketiga orang yang sekarang di dekatnya ini adalah sahabat Chan Yeol.

Ke mana Park Chan Yeol?? Terus hatinya menanyakan itu. Padahal belum tentu juga lelaki tinggi itu akan datang dan menyelamatkannya. Datang juga paling lelaki itu akan memilih ketiga sahabatnya ketimbang dia. Karena memang mustahil itu terjadi.

Tidak! Kyung Soo semakin dekat padanya dan duduk di pahanya yang saat itu memang kakinya ia luruskan. Ia mengerjap beberapa kali ketika tangan Kyung Soo kini menempel di kerah baju seragamnya.

Kancing pertama di buka Kyung Soo. Baek Hyun terus memberontak. Ia mendapat firasat buruk akan hal ini. Meski sebenarnya ia juga sedikit aneh jika Kyung Soo akan melakukan hal lebih padanya. Baek Hyun akui, Kyung Soo itu cantik.

Kancing kedua dan ketiga sudah terbuka, mengekspos dadanya yang putih. Baek Hyun sempat melihat seringaian licik terpampang jelas di wajah Kyung Soo sebelum akhirnya mata Baek Hyun menutup, masih dengan memberontak.

Semua kancingnya sudah terbuka dan dengan cepat Kyung Soo melepas seragam Baek Hyun dan melemparnya sembarang ke dekat pintu keluar. Membuat seseorang yang ada di sana, tanpa Baek Hyun sadari terlompat kaget melihat seragam Baek Hyun telah ditanggalkan.

Kembali Baek Hyun membuka matanya. Detik berikutnya, mata sipit itu membulat melihat sesuatu yang dipegang Kyung Soo. Kamera digital. Ya, Baek Hyun sepertinya sudah tahu akan ke mana arah permainan ini.

“bagaimana ini?” bingung Kyung Soo dengan telunjuk yang ia simpan di dagunya. Kai dan Lay tampaknya bingung dengan yang Kyung Soo tanyakan. “kurang bagus jika dia difoto dalam keadaan topless, sementara kalian ada di sana… aku ingin sesuatu yang menarik”

Kai dan Lay saling bertatapan, dan kemudian beralih pada tangan yang mereka cengkeram. Benar juga. Kalau difoto seperti ini, semua orang akan tahu, jika Baek Hyun melakukannya karena terpaksa.

“lepaskan… aku mohon lepaskan aku… lepaskan!!!” berontak Baek Hyun. Kedua tangannya ia sentak, membuat Kai dan Lay otomatis melepas cengkeramannya. Baek Hyun tak mau melewatkan waktu, ia segera berlari menuju pintu keluar, semasa bodoh dengan penampilannya yang topless.

Mata sipit itu kembali membulat ketika melihat seseorang yang dari tadi ia cari ada di hadapannya, memungut seragamnya dengan seringaian tajam. Tangan kekar Chan Yeol menempel pada bahu Baek Hyun dan mendorong tubuh kecil Baek Hyun masuk kembali ke dalam.

Kedua pasang mata itu masih bertaut satu sama lain. Entah apa yang mereka sampaikan dalam tatapan itu, membuat Baek Hyun terus mundur, hingga sampai punggungnya menabrak tembok. Barulah Chan Yeol menghempaskan kembali tubuh Baek Hyun. Membuat lelaki itu kembali ke posisi duduknya.

Chan Yeol duduk di paha Baek Hyun dan mengusap lembut pipi itu. Baek Hyun? Lelaki itu masih memandang Chan Yeol tanpa berkedip. Bibirnya bergerak, namun tak ada suara yang terdengar. Untuk pertama kalinya, ia takut pada Chan Yeol.

Sial! Chan Yeol semakin mendekatkan wajahnya dan mulai mencondongkan kepalanya.

Melihat mata Chan Yeol yang begitu dekat dengannya, kembali ia mengingat potongan kejadian itu. Seseorang tengah menangis terisak begitu pilu di sebuah ruangan dan mengakhiri hidupnya sendiri. Baek Hyun jadi mengingat itu…

Tidak! Mata Chan Yeol begitu menakutkan, ia melihat sosok yang ia sayang dan tersakiti ada di kedua mutiara hitam Chan Yeol.

Ada apa ini?

Klik

 

Klik

 

Klik

 

 

 

“bagus Chan Yeol!” seru Kyung Soo yang melihat hasil jepretannya. Ketiga foto itu begitu… nyaris sempurna. Lebih dari apa yang dipikirkan Kyung Soo. Posisi Chan Yeol yang duduk di paha Baek Hyun dan wajahnya yang nyaris membuat bibir keduanya menempel. Sungguh, itu memuaskan. Membuat orang yang melihatnya akan berpikiran sesuatu tentang Baek Hyun.

“pakai bajumu” bisik Chan Yeol dan melempar seragam Baek Hyun yang tadi dipungutnya sebelum lelaki manis itu nyaris melarikan diri. “kau akan kedinginan”

“aa—aa” Baek Hyun tidak bisa menemukan suaranya. Begitu tercekat, matanya masih menatap kedua mutiara hitam Chan Yeol. “a—apa yang kalian lakukan?”

Kyung Soo menatap ketiga temannya lekat dan tertawa lepas setelah itu. “kenapa kau masih menanyakannya?” ia berdehem kecil, mengontrol tawanya. “heh, anak orang gila… apa pendapatmu jika semua orang di sekolah ini tahu tentang foto ini? Eumm.. menurutku, kau akan dikeluarkan dari sini”

“jangan…” lirihnya pilu.

Chan Yeol memalingkan wajahnya. Ia tidak bisa melihat lelaki manis itu seperti. Ada perasaan seperti itu di sudut hatinya. Terlebih ketika kejadian di mana wajahnya begitu dekat dengan Baek Hyun, seperti ada sebuah magnet yang membuatnya begitu kasihan pada Baek Hyun.

Ia menarik nafas panjang. “biar aku yang pegang” ia merampas kamera digital dari tangan Kyung Soo dan mulai melangkah pergi dari ruangan itu. Menyimpan tanda tanya besar bagi keempatnya, termasuk Baek Hyun.

“ada apa dengannya?” tanya Kai yang kini beralih posisi di samping kiri Kyung Soo, dekat pintu.

Lay mengangkat kedua bahunya bingung. “ada dia di sini. Chan Yeol akan bersikap terbuka hanya pada kita saja” ia menunjuk Baek Hyun yang masih duduk dan mengancingkan seragamnya.

“benar… kita susul dia” Kyung Soo berjalan keluar mendahului kedua rekannya.

Sementara Baek Hyun, ia lebih memilih diam di sana. entahlah, ia bingung dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Ia senang karena bisa sedekat itu tadi dengan Chan Yeol. Tapi, ia juga takut.

Bukan karena takut Kyung Soo akan menyebarkan fotonya bersama Chan Yeol, tapi ia takut pada Chan Yeol. Lelaki itu mengingatkannya pada orang yang begitu dekat dengannya. Seolah ada perasaan, ia tidak boleh menyukai Chan Yeol lagi.

Dan sekarang, ia akan terikat dengan lelaki itu…

***

“aku pulang!!” Baek Hyun melepas sepatunya dan berganti mengenakan sandal rumah yang tersedia di jajaran sepatu dan sandal di samping pintu. Baju seragamnya sedikit basah, karena beberapa meter sampai di rumah, hujan tiba-tiba datang.

Belum sampai kakinya masuk ke dalam kamar, kepala Baek Hyun tiba-tiba saja berputar ke arah pintu di seberang ruangan. Suara barang pecah lagi. Baek Hyun memijat pelipisnya, ia lupa tadi belum mengambil gelas yang ia gunakan untuk memberi obat ibunya, dan langsung melesat pergi ke sekolah.

Ia membuka ruangan itu. Bisa dibilang ruangan itu kosong, hanya ada sebuah ranjang mini yang hanya bisa ditiduri oleh satu orang dan sebuah meja kecil di samping ranjang. Seorang perempuan setengah baya duduk bersandar di tempat tidur, jangan lupakan kakinya yang diikat dengan tali. Baek Hyun merasa bersalah, karena telah mengikat kaki ibunya sendiri.

“eomma… tenanglah” ia berusaha berkata menenangkan ibunya. Tubuh kecilnya berjongkok, mengambil serpihan kecil pecahan gelas yang tadi dilempar ibunya.

Dan air mata itu kembali keluar. Menetes melewati pipinya. Baek Hyun, tidak bisa menanggung semuanya sendiri. Ke mana ayahnya? Terus dalam pikirannya ia memikirkan pertanyaan itu.

“ANAKKU.. ANAKKU!! KE MANA ANAKKU? JANGAN TINGGALKAN EOMMA!!”

Baek Hyun memejamkan matanya. Ibunya selalu kalap dan berteriak-teriak menyebut kalimat itu. Jelas bukan Baek Hyun yang ibunya cari. Tapi kakaknya. Kakak yang selalu Baek Hyun sayangi dan telah terluka.

Jelas berat untuknya mendengar setiap kali orang menyebut ibunya gila.

Appa, kau di mana??, batinnya.

“eomma… eomma minum obat dulu ya” bujuk Baek Hyun yang mulai membuka kantung plastik putih di samping nakas.

Ibunya menatap Baek Hyun bingung dan beralih menatap beberapa tablet obat di tangan Baek Hyun. “TIDAK!! PERGILAH BRENGSEK! KAU MEMBUAT ANAKKU PERGI!!”

Cukup hanya temannya yang menjauhi Baek Hyun, jangan ibunya. Kenapa ibunya tidak ingat padanya? Dan malah menganggapnya seseorang yang ia benci?

Ia tidak menginginkan itu…

***

Chan Yeol melempar tasnya sembarang dan segera menghempaskan tubuhnya ke kasur king size di kamarnya. Ia tatap dengan lekat langit-langit kamarnya.

Biasanya ada Sehun yang selalu tidur di sampingnya dan mengganggunya ketika ia sedang lelah. Sekarang tidak ada lagi sejak satu tahun yang lalu. Karena adiknya memilih sekolah di Jepang.

Chan Yeol mengangkat alisnya tinggi-tinggi, masih dengan mata yang menatap langit-langit kamarnya. “Sehun-ah, kau masih membenciku?”

“jika aku bisa mengulangi waktu, aku tidak akan berani mengambil orang yang kau suka… maafkan aku”

TOK TOK TOK

 

“maaf tuan.. tuan muda Sehun menelepon anda”

Chan Yeol beranjak dari tidurnya dan berjalan keluar kamar menuju ke meja telepon dekat ruang kerja ayahnya.

“yoboseyo? Ada apa kau menelepon?”

“kau tidak merindukanku Chan Yeol?”

“sopan sedikit pada kakak kandungmu Oh Sehun”

“maaf, aku terlalu membencimu, jadi lupa caranya memakai kata hyung di belakang namamu”

Chan Yeol berdecak pelan. Sekarang Se Hun lebih mengekspresikan rasa bencinya. Tidak seperti Sehun yang dulu, yang hanya bisa memendam rasa marahnya pada Chan Yeol.

“hm, jadi apa tujuan kau meneleponku, Oh Se Hun?”

“katakan pada appa, aku akan pulang ke Seoul dua bulan lagi, saat liburan musim panas tiba”

“lalu? Kenapa kau tidak langsung saja mengatakannya?”

Se Hun berdecak dari seberang sana. “aku malas. Hey, ini bagus juga. Jadi kau tidak perlu mengirimi pesan kapan aku pulang. Menyebalkan”

Chan Yeol tersenyum ringan. Ia memang sering mengirim pesan pada Se Hun dan menanyakan kapan lelaki itu akan pulang. Sepertinya Se Hun risih karena terlalu ia perhatikan. “kau…”

“apa?”

Chan Yeol menggigit bibir bawahnya. “kau.. sudah mencari pengganti ‘dia’?”

“MWOYA! Aku.. aku belum… ahh pokoknya aku belum mencari pengganti dia” ribut Se Hun di seberang sana.

Chan Yeol tersenyum masam. “terlalu melekat ya? Maaf, kalau saja waktu itu..”

“sudahlah kakakku yang menyebalkan.. kau tutup teleponnya sekarang, bertelepon internasional itu begitu mahal”

“baiklah… jaga baik-baik di sana”

“semoga kau mimpi buruk, kakakku”

Chan Yeol yang pertama kali menutup sambungan itu. Ia menarik nafas panjang dan kembali masuk ke kamar. Ia mengambil tasnya yang tadi ia pakai ke sekolah dan mengeluarkan kamera digital milik Kyung Soo.

Ia perhatikan dengan serius tiga foto yang difoto di masing-masing sudut yang berbeda. Tingkat memotret Kyung Soo memang bisa diacungi jempol, semua foto itu berfokus pada Chan Yeol dan Baek Hyun. Sementara di sekitar mereka terdapat biasan cahaya sore yang masuk melewati ventilasi. Benar-benar keren.

“mulai sekarang… Baek Hyun dan aku akan terikat…”

***

Chan Yeol menyipitkan matanya. Benar, seorang yang tengah mengayuh sepeda di depannya adalah Baek Hyun. Tidak salah lagi. Kakinya menancap gas, membuat mobilnya menyusul laju sepeda Baek Hyun. Ia menengok spion mobilnya, dan menepikan mobilnya cepat. Membuat Baek Hyun yang tepat di belakangnya, sekuat tenaga mengerem sepedanya.

Kembali mata Chan Yeol melirik spion mobil. Usahanya mencegat sepeda Baek Hyun, membuahkan hasil. Ia keluar dari mobil sport putih dan kembali menutupnya.

Baek Hyun membulatkan matanya, Chan Yeol yang keluar dari mobil itu. Berarti… jangan-jangan Chan Yeol berniat mencegatnya, dan..

Tidak-tidak.. singkirkan pikiran itu jauh-jauh. Baek Hyun menarik nafas dan mengeluarkannya dengan pelan, kelemahannya itu. Selalu memikirkan hal yang jauh.

“kk—kau m-mau apa?” jari-jari Baek Hyun mencengkeram kedua stank sepedanya kuat. Sosok yang ia kagumi selama ini, berubah menjadi pencabut nyawa yang siap melakukan tugasnya sekarang.

“mobilku mogok. Jadi…” Chan Yeol mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. “antarkan aku ke sekolah”

Baek Hyun membulatkan matanya kaget. Sepertinya ia menemukan keganjalan di sini. Kenapa mobil Chan Yeol tiba-tiba mogok tepat di depan sepedanya? Kebetulan sekali kesialan hingga di depannya.

“cc—coba kau periksa dulu mobilnya. Pasti bisa jalan lagi”

Chan Yeol melirik mobilnya, yang memang sama sekali tidak mogok. Tidak mungkin mobilnya mogok. Mobil itu baru dibeli satu Minggu yang lalu, dan baru ia gunakan ke sekolah sekarang. “kau tidak mau?”

Chan Yeol berdecak, ia jejalkan kedua tangannya ke masing-masing saku celananya dan menghampiri Baek Hyun. “atau.. kau mau foto yang kemarin aku sebarkan?”

“jangan.. jangan.. jangan!!” Baek Hyun mengibaskan kedua tangannya, dan menatap lesu Chan Yeol.

Tubuhnya begitu kecil, dan harus membonceng tubuh Chan Yeol yang begitu tinggi menjulang, apakah itu tidak aneh? “baiklah… cepat naik!”

Baek Hyun menghela nafas panjang ketika dirasanya tubuh Chan Yeol telah duduk dengan baik di tempat boncengan sepedanya.

Kayuhan pertama, ia sedikit susah mencari keseimbangan. Sepedanya langsung oleng, belum lagi Chan Yeol tidak bisa diam di belakang.

“tidak ada tempat yang lebih empuk dari ini?? Uhh” keluhnya masih dengan menggerak-gerakkan bokongnya, mencari posisi nyaman.

Baek Hyun hiraukan keluhan itu. Ia ganti posisi kayuh menjadi berdiri. Chan Yeol benar-benar berat, ia yakin akan jatuh pingsan sampai di sekolah nanti.

“eeehhh awas-awas!!” teriak Chan Yeol ketika nyaris saja sepeda Baek Hyun ditabrak motor dari arah belakang karena tanpa sengaja sepedanya bergeser ke tengah jalan. “kau bisa tidak hah?”

“DIAM!” bentak Baek Hyun untuk pertama kalinya. Kesabarannya sudah hilang. Ia susah payah seperti ini, dan Chan Yeol malah mengomelinya.

“kau berani membentakku? Eommaku saja tidak pernah melakukannya!”

Baek Hyun tidak menyangka Chan Yeol akan sebegitu cerewet di dekatnya. “kau bisa diam tidak?” kali ini Baek Hyun sedikit menurunkan volume suaranya.

“berhenti.. berhenti. Hey, pendek! Kau hentikan sepedanya di sini!” teriak Chan Yeol kembali.

Baek Hyun membuang nafasnya kasar dan dengan cepat mengerem sepedanya, membuat tubuh tinggi Chan Yeol sedikit terdorong ke depan dan pernah menempel di punggung sempit Baek Hyun.

“kenapa kau minta turun di sini?” celoteh Baek Hyun ketika keduanya turun dari sepeda, membiarkan sepeda itu disandarkan pada bilah pohon pinggir jalan.

Chan Yeol menatap Baek Hyun dengan kening berkerut. “masih bertanya? Kau tidak pandai bersepeda” ia menarik sepeda yang baru beberapa detik disandarkan di pohon. “jadi… aku yang akan duduk di depan! Duduk di belakang membuat bokongku pegal”

Baek Hyun membulatkan matanya kaget. “heh? Aku bisa sampai ke sekolah dengan membonceng tubuhmu… jadi kau duduk saja di belakang”

“mau kusebarkan foto itu?” ancam Chan Yeol cepat.

Baek Hyun memajukan bibirnya kesal dan menendang kerikil di tanah. “arraso…” ia kemudian naik ke tempat boncengan. Entah kapan Chan Yeol sudah ada di posisi depan.

Baek Hyun tidak mengerti, kenapa Chan Yeol terus mengancamnya dengan menyebarkan foto itu. Padahal jika foto itu tersebar, yang kena imbasnya juga Chan Yeol karena telah berani melakukan err… pelecehan pada Baek Hyun.

Benar kata Chan Yeol, ia kurang pandai dalam bersepeda. Karena Chan Yeol lebih pandai darinya, lihat bagaimana lelaki itu menjalankan sepedanya di tengah jala, di kumpulan para pengendara motor, dengan kecepatan yang lumayan cepat.

“kau berpeganglah.. kalau kau tidak mau jatuh!”teriak Chan Yeol.

Baek Hyun yang berpegangan pada bilah besi belakangnya langsung hendak memeluk perut Chan Yeol.

Tapi…

Tangannya mengayun di udara, antara akan memeluk Chan Yeol atau tidak. Ia gugup sekali. Padahal seharusnya ia senang karena Chan Yeol memberikan lampu hijau padanya. Tapi, ia juga sedikit canggung.

Grebb~

Chan Yeol menarik kedua tangan Baek Hyun dan segera menyimpannya di perut.

“kau mau jatuh hah?” bentak Chan Yeol keras, walau hanya sedikit volume yang bisa tertangkap Baek Hyun. Suara Chan Yeol diterbangkan angin. “jangan pernah melepaskanku”

Entah ini perasaannya atau hanya dia berlebihan saja. Tapi, nada perkataan Chan Yeol begitu beda, membuatnya mendongak menatap surai cokelat karamel di depannya.

Ia tersenyum. Tapi mungkin hanya perasaannya saja, Chan Yeol tidak mungkin mengatakan itu karena ia tidak ingin melepas Baek Hyun. Siapa dia? Ia bukan siapa-siapa.

Ia mengeratkan pelukannya pada perut Chan Yeol dan menempelkan wajahnya pada punggung lebar Chan Yeol yang menurutnya… begitu hangat.

Tak apa sikap Chan Yeol berubah padanya, asalkan itu menjadi lebih baik. Walaupun kini, tanpa disadarinya, ia begitu nyaman dalam posisi ini. Memeluk Chan Yeol dengan leluasa.

Seperti sekarang ini.

.

.

TBC

Bagaimana toohh??? Ada yang mau jadi supporter telor buat nyemangatin telor dalam ajang pertandingan melawan KEMALASAN MENULIS FF??

Telor usahai ffnya update deh…

 

Untuk berkenalan dengan telor yang kece badai ini, bisa add telor di: Anita Dwi Nurhayati

Dan follow: @EggCheese_

Oke, sekian dan terima kasih…

 

Categories: AU, ChanBaek, chapter, Drama, Family, Friendship, Romance, T | Tags: , , , , | 53 Comments

Post navigation

53 thoughts on “PARTITION//CHANBAEK FANFIC [Prolog + Chap 1]

Comment navigation

  1. Shennyshey

    huwaa ini ff,.. Keren😄 daebak! Telor hebat X3 keep writing telor…

  2. Miris amat hidup baeki. Kasian bgt lhtny. Ah semoga nanti ada pangeran bermobil putih yg bs membahagiakan baekhyun

  3. Aku suka!!! Sumpah thor! Aku mencintai hal-hal berbau yaoi kalo exoh. Tapi stop, bukan berarti aku yuri yaa🙂 aku suka, pake banget, pake plus ditambah jempol empat deh! Lanjut unnieee!!!

Comment navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: